Ayu mengusap-usap perut buncitnya yang tertutup seragam sekolah yang kebesaran. Dia memang sudah mengalami kontraksk sejak tadi malam, tapi perkiraannya hanya kontraksi palsu saja. Usia kandungannya 41 Minggu, Ayu tidak tahu di Minggu keberapa seharusnya melahirkan.
Ayu mencengkeram meja dengan kuat, sangat repot jika harus melahirkan sekarang. Karena saat ini ulangan semester sedang berlangsung.
"Tidak ada cara lain," gumamnya.
Ayu berdiri, membuat teman-temannya menoleh kearahnya. "Pak, saya izin ke kamar mandi."
"Silahkan."
Ayu berjalan keluar dengan sedikit membungkuk, sebisa mungkin menyembunyikan perut buncitnya.
Dia berjalan ke belakang sekolah yang sangat sepi, berniat untuk mengecek pembukaannya. Tapi Ayu menggeleng, setiap jamnya guru ketertiban selalu keliling sekolah, memastikan tidak ada siswa yang membolos.
Tidak ada pilihan lain, Ayu harus pulang sekarang juga. Dia keluar area sekolah melewati pintu kecil yang hanya diketahui oleh anak-anak yang sering membolos saja.
Ayu sudah ada di pinggir jalan, dia mulai bernafas lewat mulutnya. Rasa kontraksi itu semakin menjadi-jadi. Dia berpegangan pada tiang listrik disampingnya.
Bus datang. Ayu langsung naik, tapi semua kursi sudah penuh. Terpaksa dia harus berdiri bersama beberapa orang yang berdiri juga.
Ayu berusaha menjaga agar perutnya tidak terhimpit oleh orang didepannya. Jarak sekolah ke rumahnya lumayan jauh, memerlukan waktu 30 menit.
Pegangan ayu pada tiang bus mengerat ketika merasakan sesuatu yang mengalir di selangkangannya. Dia sedikit menunduk, menatap air berwarna keruh yang mengalir. Itu air ketuban!
Untung saja Ayu memakai celana pendek dibalik rok sekolahnya.
"Tunggu sebentar, ya, sayang," ucap Ayu sambil mengelus perutnya dari dalam kemeja putihnya.
Lima belas menit kemudian, perutnya semakin terasa sakit, seolah ada sesuatu yang mendorong kebawah. Ayu meraba selangkangannya, dan benjolan kecil bisa dia rasakan dibalik celana pendek dan celana dalamnya.
"Unghhhhhhhh." Ayu menutup mulutnya, meredam suara itu agar tidak terdengar penumpang lainnya.
Ayu semakin mengeratkan pegangannya, desakan keluar itu semakin menjadi-jadi. Ayu tidak ingin melahirkan disini. Sangat memalukan jika siswi kelas 11 melahirkan didalam bus.
Sampai di gang yang menuju rumah kecilnya, Ayu langsung membayar dan turun dengan tergesa-gesa. Dia tidak mau jika orang-orang melihat ada yang mengalir di sela kakinya.
Ayu berjalan cepat menuju rumahnya, tangan kirinya digunakan untuk menahan benjolan kecil di selangkangannya agar tidak buru-buru keluar.
Ayu membuka pintu rumahnya, disana terdapat Dito, pacarnya yang sedang menonton televisi. Dito yang melihat Ayu berjalan terpogoh-pogoh dengan raut wajah yang kesakitan langsung menghampiri pacarnya itu.
"Udah mau lahiran?"
"Kepalanya udah keluar sebagian, Dito!" Ayu bernafas cepat seperti ibu hamil yang akan melahirkan pada umumnya.
"Gimana sih! Lo udah janji mau lahiran di sawah sekalian aku buat video YouTube."
Mata Ayu langsung membesar, dia mencekam lengan Dito dengan kuat-kuat. "Dito, bayinya mau dorong keluar!"
Dengan sigap Dito melorotkan celana pendek dan celana dalam Ayu, dia meraba selangkangan Ayu dan merasakan ada rambut-rambut disana. "Gak bisa, udah bilang sama para penonton channel gue kalau mau buat video lahiran di sawah."
Setelahnya Dito mendorong kepala bayi itu untuk masuk kembali ke dalam. "Akhhhhh!"
Dito keluar dari rumah, dia mengambil mobil lusuhnya dan memanaskannya. Dito kembali ke rumah untuk membawa Ayu naik ke mobil.
Ayu hanya bisa menangis sambil mengusap-usap perutnya yang sudah melinjong kebawah. Terpaksa dia harus menuruti perkataan Dito, karena kalau tidak Dito bisa berbuat macam-macam pada bayinya.
Di perjalanan, Ayu sekuat tenaga untuk tidak mengejen, dan menahan agar bayinya tidak keluar sekarang.
Sampai di sawah yang sangat luas. Dito langsung menggendong Ayu dan meletakkannya di lumpur-lumpur begitu saja. "Lo gak boleh ngejen sebelum ada aba-aba dari gue."
Dito berjalan mundur, memposisikan kameranya agar mendapat gambar yang bagus. "Ayo, mulai!"
"Enghhhhhhhhhhhh, huh huh huh enghhhhhhhhhhhhhhh."
Ayu meraba selangkangannya, setengah kepala bayinya sudah muncul, pantas saja terasa panas. "Akhhhhhhhhhhhh, enghhhhhhhhhhhhhhh!"
Plop!
Kepala bayi itu telah keluar dengan sempurna. Ayu menarik napasnya dalam-dalam, ketika kontraksi datang lagi dia mulai mengejan kembali. "Enghhhhhhhhhhhhhhh, hah hah enghhhhhhhhhhhhhhh!"
"Sedikit lagi sayang," ucap Ayu dengan terbata-bata.
"Enghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"
Oek! Oek! Oek!
Ayu mengambil bayinya yang terkena darah bercampur lumpur itu. Tidak mempedulikan sekitar, Ayu melorotkan bajunya dan menyusui anaknya yang terlihat sangat kehausan itu.
"Selamat datang, Arin." bisiknya pada bayi perempuan itu.
###
Jangan lupa vomment nya!
Yang mau request silahkan.......
