Lili putih diletakkan di atas gundukan merah. Ekspresi tak beriak yang begitu menyakitkan, serta isak tangis terdengar mengiringi kepergian putri tunggal keluarga Na.
Hendery menatapnya tanpa ekspresi.
Mengapa hidupnya harus semenyebalkan ini? Sedikit lagi ia mencecap kebahagiaan bersama Na Jaemin, namun semuanya berakhir tragis karena pertengkaran mereka.
Sekali lagi ia menatap potret cantik Jaemin, sebelum akhirnya pergi menyusul keluarga calon istrinya.
Untuk terakhir kali, ia menatap pusara tempat Jaemin berbaring dalam damai, sebelum akhirnya meninggalkan tempat peristirahatan terakhir kekasihnya.
Langkahnya terhenti ketika netra hitamnya menatap gedung tua tempat beribadah. Kakinya melangkah, menapaki kecil jalanan setapak menuju gereja itu.
. . . . . . .
"Bisakah ... Bisakah kau kembalikan Nana padaku, Tuhan?" lirih Hendery, kepalanya menunduk dalam, isak lirih mulai terdengar bersama dengan jatuhnya setitik air mata.
Sunyi sepi. Tak ada jawaban, hingga akhirnya ia beranjak, berniat meninggalkan tempat penuh kedamaian itu.
Ia nyaris membuka pintu, sebelum akhirnya suara mengalun merdu berucap.
"Aku bisa mengembalikannya."
Pria itu membeku, perlahan membalikkan badan. Di sana, ia melihat wanita cantik seperti bangsawan.
"Aku Irene, aku bisa mengembalikan Jaemin dengan beberapa syarat."
Si wajah pangeran membelalak, berjalan mendekati wanita bangsawan bernama Irene itu, bersimpuh di bawah kakinya.
"K-kau bisa?" suara Hendery tertahan, penuh harap.
Mengangguk dengan seringai terus terukir di bibirnya, suara lembut itu kembali terdengar. "Tentu, namun ada beberapa syarat."
"Aku akan melakukan apapun, asal dia kembali padaku."
Senyum cantik milik Irene terbit, "besok tengah malam, datanglah kemari dan bawakan beberapa tetes darahmu, kuku dan beberapa helai rambut."
. . . . . . . . .
Bulan purnama bersinar terang, menyinari gereja tua ditepi gerbang kematian. Hendery melangkah pasti, memasuki gereja tua yang tampak sunyi senyap tak ada kehidupan.
"Kau datang?" Irene menyambut, mempersilahkan Hendery bergabung dengan keempat wanita lain. "Mereka temanku."
Hendery menatap wanita-wanita dengan gaun hitam yang wajahnya tertutup tudung. Hanya Irene yang memakai gaun putih. Tanpa banyak bicara, mereka berlalu, memasuki pintu samping mimbar yang entah terhubung kemana.