Prolog

21 5 0
                                        

♤♡◇♧

.
.
.

Gadis itu kembali menatap jam hitam yang melingkar manis di tangannya. Menyeruput lagi kopi di depannya lalu kembali diam sambil terus memperhatikan seisi cafe. Seperti itulah adegan berulang selama dua jam terakhir dia berada di sini.

"Harusnya sebentar lagi,"

Benar saja, sebab pelanggan mulai berhenti berdatangan tepat pada pukul sembilan malam. Dirinya mengulas senyum, merasa lega penantiannya telah berakhir. Entah sudah berapa kali dia memesan kopi hanya untuk mengulur waktu.

Merasa tak enak untuk mengusirnya, seorang pelayan buru-buru memanggil pemilik cafe keluar. Seorang wanita paruh baya, bertubuh agak gembul menatap lurus pada gadis yang menjadi pelanggan terakhirnya dan terkesiap selama beberapa saat.

Wanita tua itu mendekat ke meja paling sudut. Tepatnya menuju gadis yang kembali menyesap kopinya.

"Ehm, maaf, tapi kami sudah mau tutup," ujarnya lembut dan sopan.

Gadis itu merespon dengan senyumnya. Menatap wanita yang juga balik menatapnya sambil berkata, "ah, katanya aku bisa mencicipi teh bunga Rosella khas El Cid yang enak di sini,"

Mendengarnya wanita itu malah terkekeh pelan dengan perasaan yang teramat lega. "Sudah kuduga. Aku tidak akan pernah lupa dengan wajahmu itu,"

Gadis itu ikut tertawa. Tak sia-sia dia menunggu hampir dua jam. Mungkin tak lama lagi dia akan berpindah tempat. Kemana rahasia membawanya, dan kembali menunggu.

Walau dia tahu, menunggu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan saat ini.

♤♡◇♧

Welcome back, Stranger

.

.

.

.

.

Welcome back StrangerWhere stories live. Discover now