First Day

112 31 20
                                        

Aurelya Natasya

Gadis yg cerdas, rapi, disiplin, ramah, dan sangat natural. Siapa yg tidak mengenal gadis ini. Seantereo SMA GIS memperbincangkan nya setelah ia masuk kesana melalui jalur prestasi, dan semester kemarin menggelar juara umum 1 disekolah. Dan pemegang Nilai Kedua tertinggi saat kelulusan SMP nya sejakarta.
Tidak ada yg tidak gadis ini miliki, segala kebutuhannya yg tercukupi dan kepribadian yg tekun. Tapi satu hal yg gadis ini tidak bisa dapatkan "Hati seorang Devan Edgar Ramatha".

Devan Edgar Ramatha

Siapa yg tidak kenal lelaki itu. Seorang lelaki yang menjadi cassanova sekaligus setiap saat menjadi bahan perbincangan para ciwi-ciwi, selain itu, Devan terkenal dengan kecerdasannya sama seperti Aurel, tapi sayangnya lelaki itu tidak pernah bisa berjalan didepan Aurel, kemarin ketika Aurel menggelar juara 1 umum disekolah, ia malah mendapat urutan kedua, dan saat menginjak bangku SMP peringkatnya tidak pernah naik dari angka 3.

Devan, adalah lelaki yg cuek, tapi hangat, cuek yg dimaksud disini adalah dia tidak pernah perduli dengan perempuan-perempuan yang setiap ia berjalan melewati koridor pasti suara mereka meronta-ronta di dalam telinganya itu adalah hal yg rumit menurutnya.

Oke, sampai disana pengenalan tokoh utamanya, klau pengenalan peran²sahabat keluarga atau yg lainnya next diceritanya aja yaa.

Selamat membaca my readers ❤

Aurel membaca sebuah kertas bertuliskan daftar ekstrakurikuler yg baru saja para pengurus osis bagikan, matanya tak lepas dari gambar potretan para siswa siswi yg tengah menjalani berbagai macam ekskul, setiap hari jumat setelah imtaq diadakan jadi setiap kenaikan kelas mereka diberi kesempatan untuk memilih ulang kegiatan ekskul mereka.

"Nanti setelah istirahat dikumpulin di ketua kelas ya" ucap Nila, salah satu wakil ketua osis yg sebentar lagi pensiun dari jabatannya
" Ketua kelas anter keruangan osis, and gaperlu dikasi tau kan ruang osis dimana"

"Oke kk" sahut Alwan, sang ketua kelas lebay, alay, bin ajaib. Kalau kalian mau tau bagaimana seorang Alwan Stevenson, ikuti kisah fiksi dari dunia nyata ini oke. Oke thanx gaes.

"Rel, mau ambil apa?" Pandangan Aurel teralihkan dari sebuah kertas A4 ke Silvia gadis yg duduk disampingnya.

"Gatau, maybe i will stay in english club, lo sendiri? "
"Gw juga mikirnya gitu, gw mau stay sama taekwondo "

Jangan heran, Silvia Berliana Putri adalah salah seorang sahabat Aurel dari semenjak masuk ke SMA GIS ini, walaupun sifat mereka sangat berbanding terbalik, jika Aurel adalah gadis yg berprinsip lebih baik diam, silvia adalah gadis yg cerewet, tapi keterbalikan mereka menciptakan keserasian yg melengkapkan arti persahabatan.
Silvia tipe gadis yg sangat perduli akan style, oleh karna itu seluruh barang branded pasti ada dilemari nya.

Selain silvia, Gibrelia Anistia juga menjadi pelengkap persahabatan Aurel,Anistia adalah gadis kelas XI Bahasa¹,berbeda dengan Aurel dan Silvia yang berada dikelas XI MIPA¹
Gadis anggun itu memilih sastra karna dia memang menyukainya.

"Hmm, udah gw duga" gumam Aurel, namun masih terdengar ditelinga Silvia.
Silvia hanya terkekeh membalas ucapan sahabatnya itu.

Silvia bangkit dari duduknya dengan menenteng dua lembar kertas yg sudah ia dan aurel lingkari yg mereka pilih ekskul yg akan mereka ikuti selama setahun kedepan.
"Nih, punya gw sama aurel" ucap Silvia menyodorkan kertas tersebut kehadapan Alwan yg tengah sibuk dengan obrolannya bersama Devan.

Yaps! Devan Edgar Ramatha, seorang yg aurel suka secara diam dan menyembunyikannya dalam raut ketidaksukaan pada laki-laki itu, menurutnya memendam akan lebih baik. Ya, walaupun banyak resiko, tapi selama beberapa tahun ini aurel berhasil menyembunyikan itu, sampai Silvia dan Anistia saja yg notabenya sahabatnya tidak mengetahui hal tersebut.

Merasa terabaikan Silvia melepas kasar kertas tersebut kemudian melangkah pergi dari hadapan seseorang yg sejujurnya gadis itu sendiri tidak tahan berlama-lama didekatnya karna ia tau berada didekat Alwan membuat bibirnya tidak berhenti berdumel.

"Eh eh, Silvia thanks ya!" seru Alwan
Sebelum gadis itu pergi dari hadapannya,
Silvia memanyunkan bibirnya kesal setelah berhasil duduk disamping Aurel yg sudah sibuk dengan ponselnya.

"Iih, kesel bangetsih" gerutu Silvia dengan mengeluarkan ponselnya dari saku seragam.
"Baper bangetsih mbak" sindir Aurel, pandangannya tak lepas dari ponselnya yg menampilkan beberapa rumus fisika.

Silvia melirik Aurel dengan tatapan horor, tapi gadis itu tidak memperdulikannya. Silvia memutar bola matanya kesal.

Teet... Teet... Teet

Bel istirahat berbunyi, Silvia mematikan ponselnya kemudian menyimpannya disaku seragam,
"Rel,kantin yuk"ucap Silvia yg sudah berdiri dari duduknya
"Gw mau ke perpus" balas Aurel singkat
"Yaudah, lo ga mau nitip apa gitu?" tanya Silvia
"Ga makasih"
"Ok" Silvia kemudian pergi ke tempat tujuannya.

Selepas kepergian Silvia, Aurel hanya menatap seorang lelaki yg masih berkutat dengan ponselnya dibelakang samping meja Aurel.
Sedetik kemudian lelaki itu menatap kedepan, manik mata mereka bertemu, Aurel memalingkan wajahnya, jantungya terasa berdetak 2 kali lebih cepat. Aurel mengambil ponsel yg tergeletak diatas meja dan berusaha setenang mungkin mengekspresikan perasaanya.

"Aurel"

Aurel menoleh menatap seseorang yg baru saja duduk disampingnya, gadis itu memggerutu didalam hati
"Ngapain lo duduk disitu!?"
"Elah gw cuma mau ngomong"
"Jangan duduk disana gw bilang!"
"Emang kenapasih?"
Aurel berdecak kesal. Oke dia harus lebih tenang.
"Lo ikut english club kan?"
"Hmm"
"Masuknya mulai kapan?"
"Emang lo tadi gabaca,gafaedah bangetsi pertanyaan lo"
Mata Aurel tak beralih dari ponselnya. Sedangkan Devan menatap lekat wajah gadis disampingnya itu.

"Lo kenapasih gtu amat sama gw? "
Aurel menghembus nafasnya kasar
"You think? " ucapnya sebelum pergi meninggalkan Devan dimejanya yg kemudian laki-laki itu mengernyit bingung melihat tingkah gadis yg perlakuan nya beda ketika berbicara dengannya.
"You think? " ucap Devan mengikuti gaya bicara Aurel kemudian kembali berjalan kemejanya.

Aurel memberhentikan langkahnya setelah selangkah dari pintu kelas matanya menatap gerakan Devan yg sudah duduk dimejanya dengan sebuah paket fisika ditangannya. Gadis itu tersenyum kecil kemudian melanjutkan langkahnya ketempat yg sudah kalian tebak kemana perpus.

"Aurel"
'ck siapa lagi sih' Aurel menghentikan langkahnya dan berbalik menatap seseorang yg mengejar langkahnya

'Miska' batin Aurel

Miska adalah sepupu Devan, gadis berperawakan tinggi kurus dengan rambut sebahu, bekulit kuning langsat dan berhidung mancung.
Miska kelas XI Bahasa¹, gedung kelas yg dilewati Aurel saat ini, jadi jika ingin ke perpustakaan, siswa kelas MIPA dan IIS harus melewati kelas Bahasa dulu untuk sampai perpustakaan.

"Ini, dari temen kelas gw" Miska menyodorkan sebuah amplop. Aurel menatap sebuah amplop berwarna biru muda ditangan Miska, ia mengernyit bingung.
"ih lama bangetsih, nih! ya, pegang, gw ada urusan" Miska menarik tangan Aurel dan mengenggamkan amplop tersebut kemudian berlalu darisana.
Aurel menatap Miska sembari menggaruk tengkuknya yg tak gatal. Gadis itu memilih melanjutkan langkah dengan sebuah amplop ditangannya.

' siapasih' batinnya.

 AurelWhere stories live. Discover now