Bukti terbaik dari cinta adalah kesetiaan.
Jika tidak setia, apapun penjelasannya, itu bukan cinta.
Jennie mencintai Lisa.
Lisa mencintai Jennie.
Tapi cinta saja ternyata tidak terasa cukup. Restu Tuhan dibutuhkan. Jika Ia menghendaki Mereka untuk...
Bunyi nyaring telfon yang berada di sampingnya membuat Lisa menghentikan konsentrasinya. Ia mengalihkan pandangan pada telfon tersebut. Lisa mengangkatnya sembari lanjut menggerakkan kursor mousenya.
"Ya bagaimana ?"
"Lisa bisa tolong datang ke lantaiku sebentar ?" Pinta seseorang diujung sana.
"Ada apa Rose ? tugasku masih menumpuk ?" tanya Lisa sembari melirik tumpukan file di atas meja kerjanya.
"Maaf karena mengganggumu Li, tapi mesin fotocopy ini tidak lagi menyala, ada dokumen penting yang harus kusalin, Miss Jennie akan memeriksanya satu jam lagi, bisa tolong bantu Aku ?"
"Apa kau sudah memastikan kabelnya tersambung ?"
"Sudah, Kabelnya tersambung dengan baik, tapi aku tidak mengerti bagaimana mesin ini masih tidak mau menyala" jawab Rose dengan nada memelas.
Lisa menghela nafas sejenak sembari memejamkan mata.
"Baiklah, 5 menit lagi aku akan kesana,"
"Terimakasih Li, akan kutunggu,"
Lisa menutup telfon secara sepihak dan langsung beranjak menuju lift untuk menghampiri Rose yang berada di lantai atas.
Sesampainya disana ia melihat Rose yang sedang berjongkok sembari melihat-lihat bagian belakang mesin fotocopy.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Kau bilang sudah kau sambungkan kabelnya ?"
"Astaga Lisa, bisa tidak Kau tidak mengejutkanku ?" Rose sedikit terlonjak saat Lisa tiba-tiba menyentuh bahunya.
"Mianhae Rosie, Kau terlihat seperti petugas mekanik saat berjongkok tadi" kekehnya.
"Itu tidak lucu, lihat tanganku penuh debu karena banyak menyentuh bagian ini... ya ampun, apa tugas office boy di kantor ini, bagaimana bisa mereka membiarkan alat-alat sepenting ini kotor dan berdebu sampai setebal ini" Rose menunjukkan tangannya yang mulai menghitam karena mencoba menyentuh mesin fotocopynya.
Lisa tertawa lucu mendengar celotehan rekan kerjanya itu.
"Sudahlah, Kau tidak boleh membawa-bawa office boy untuk melampiaskan kekesalanmu, sekarang menyingkirlah, biar aku yang memeriksa, Kau pasti hanya melewatkan sesuatu.."
Rose menyingkir dan membiarkan Lisa berjongkok mengecek mesin fotocopynya.
"Apa yang sudah kulewatkan ? Aku bahkan sudah berkutat dengan mesin ini sejak 30 menit yang lalu. Jika bukan karena tidak ada pria di lantai ini, Aku pasti tidak akan memanggilmu Lalisa. Lagipula, Aku juga sudah menelfon bagian teknisi, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangkatnya..." Rose terus berceloteh mengungkapkan kekesalannya. Sedangkan Lisa masih terfokus memeriksa mesin fotocopy itu sembari tersenyum kecil mendengar Rose berbicara.