TL ~ 1

1 0 0
                                        

Laki-laki itu termenung di depan jendela kamarnya di lantai dua. Di dalam rumah yang begitu besar dan megah.

Matanya sembab, kantung matanya tampak begitu jelas, seluruh tubuhnya biru, bibirnya pucat, sangat miris.

Bahunya tampak bergetar, ia menggigit bibir bawahnya, bola mata yang tadinya putih jernih, perlahan mulai memerah mengukir garis seperti akar.

Laki-laki itu menangis.

Duaakghh!

Bughh!

"Cih! Apa-apaan kamu?!"

Plakk!! Bukghh!!

Pria berbadan besar itu menampar dan memukuli perut anak kandungnya tanpa ampun.

"Arghh"

"Anak sialan! Setelah kamu pecahkan gelas ini, kamu masih minta makan? Hah?!"

Plakk! Plakk!!

"Bersihin! Gitu aja bisa jatuh!

Anak laki-laki yang ditampar dan dipukuli itu mencoba bangun dengan tertatih. Ia mencoba tidak menangis.

Dengan sisa tenaga yang ia punya. Anak itu berjalan ke halaman belakang rumahnya untuk membuang serpihan gelas kaca yang telah pecah dengan telapak tangannya yang besar dan kasar.

Bugkhh!

"Cih, gitu aja jatoh, emang enak?"

Belum sempat sakit di perutnya hilang akibat dipukuli ayahnya, kaki anak itu disandung oleh kakak laki-laki tirinya.

Duaakghh

Brukkk

Lagi, anak itu ditendang dibagian perutnya.

"Sakit"

"Tau juga lo rasa sakit. ENAK?! HAH?! Lo kan bisa ngindar, bego banget".

Laki-laki yang menendang perut adiknya itu pergi meninggalkannya sendiri di dapur, terkapar di lantai yang sangat dingin.

Masih dengan posisi berbaring di lantai, anak laki laki itu memiringkan tubuhnya, menekuk tubuhnya, melipat kakinya hingga menyentuh dadanya. Ia mulai terisak meratapi nasibnya yang sangat malang.

Tubuhnya sakit, tulangnya serasa ingin patah.

Ingin mati saja rasanya.

Tidak! Ditepisnya pikiran itu jauh-jauh. Memangnya dia siapa berani mencabut nyawanya sendiri? Tuhan pasti punya tujuan.

Laki-laki itu hanya ingin makan. Padahal makanan yang akan dia makan adalah makanan sisa keluarganya tadi sore.

Mengapa? Memangnya apa yang salah? Ia tidak meminta makanan mewah dan mahal, ia hanya ingin makan meskipun hanya sisa.

Laki-laki itu juga takut meskipun sekedar mengambil roti di kulkas dapur rumahnya. Takut dimarahi keluarganya.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, akhirnya anak itu memilih untuk kembali ke kamarnya dengan perut kosong.

Ia mulai terisak saat mengingat hal itu, lagi.

Tapi tetap, laki-laki itu tidak sama sekali menyalahkan keluarganya, dunia, bahkan Tuhan. Ia tidak merasa tidak mendapatkan keadilan, meskipun itu kenyataannya

Yang ia percaya, Tuhan itu adil, rencananya sangat indah.

Laki-laki itu mulai menetralkan nafas dan air matanya selama 10 menit.

Ia mengambil dan membuang nafasnya berulangkali, bergantian secara perlahan.

Mematikan lampu, mengunci pintu, dengan kakinya yang berlutut di atas tempat tidurnya yang tampak mulai lusuh. Angin malam yang lembut menerpa wajah tampannya yang nyaris terpahat dengan sempurna.

Dengan hati yang mulai tenang, laki-laki itu mulai mengangkat tanda kemenangannya dan mulai berdoa.

Ia mulai terlarut dalam doa yang panjang, sesekali meneteskan air matanya. Banyak hal yang ia doakan di malam yang sunyi kala itu.

Mengadu pada Tuhan-nya, meminta jawaban dan pertolongan pada Tuhan-nya. Tuhan yang mengetahui segala cobaan berat yang sudah dia lalui selama ini. Tuhan yang ia percaya akan memberikan jalan keluar dari hidupnya yang pahit.

Laki-laki itu tidak lupa mendoakan seorang wanita yang sangat berharga baginya, kelemahan terbesarnya. Seseorang yang membuat tekadnya semakin kuat untuk keluar dari kepahitan hidupnya.

"Bunda, Liam kangen", lirihnya pelan, menusuk ulu hati.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 22, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Alasan Tuhan Menciptakan KamuHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora