Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Unum

1.7K 104 12
                                        

Hhhh. . . Hhhh. . . Hhhh. . .






'Sruk'









Shhh. . . Hhhh. . .









"Kau terlambat Vender"








Hhhh. . . Hhhh. . . Hhhh. . .








"Hahaha... Tak kusangka kau selamban ini"











Hhhh. . . Hhhh. . . Hhhh. . .











"Sebentar lagi mereka akan mati. Terlambat bagimu untuk menyelamatkan mereka sayang"









Hhhh. . . Hhhh. . . Hhhh. . .









"Bodoh! Mudah sekali kau kujebak hahaha..."












.

Seorang gadis terlihat berlarian di sepanjang hutan belantara yang terlihat sangat menyeramkan. Sesekali gadis itu terjatuh namun tak lama bangun dan kembali berlari lebih kencang.

Nafasnya tidak beraturan. Helai rambutnya berantakan tertiup angin. Kulit putihnya tergores ranting pohon yang tajam dan semak-semak berduri. Pakaiannya robek di banyak sisi, terlihat tak layak untuk dipakai. Peluh membanjiri wajah cantiknya yang kini sangat pucat. Matanya memancarkan sinar kekhawatiran, ketakutan, dan pengharapan.

'Brak!'

Ia menendang pintu belakang sebuah gubuk tua dengan kasar sampai engselnya rusak. Ia berlarian mengelilingi setiap sisi gubuk untuk mencari seseorang.

Atau mencari keluarganya...

"TIDAAAAAAAAAAK!!! ARGHHHHHHH!!!"

Gadis itu berteriak pilu menatap tiga sosok mayat yang tergeletak dalam keadaan mengenaskan di halaman depan gubuk. Sang gadis segera berlutut di hadapan mayat lelaki yang hampir tak dapat dikenali. Ia melihat di lengan lelaki itu terdapat tanda hitam berbentuk huruf "S". Tanda yang sama terdapat di dua mayat lainnya.

Tangan gadis itu gemetar saat memegang mayat dihadapannya. Pandangannya ia alihkan kepada dua mayat lain disana. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah. Biarkan petang ini ia kembali menangis setelah bertahun-tahun lalu berjanji tak akan menangis lagi.

Toh orang yang menyuruhnya berjanji tak akan menangis lagi kini sudah terbujur kaku di hadapannya.

"Maaf... Maaf... Maaf"

Gadis itu menggenggam tangan satu-satunya mayat wanita disana. Ia terus saja menggumamkan permintaan maaf sambil menangis.

"I-ibu ma-maaf hiks. Kak Abash maaf aku menangis lagi hiks Paman Orbev maaf hiks..."

Gadis itu meminta maaf pada seluruh mayat keluarganya yang ada disana. Tangan dan bajunya sudah kotor oleh darah mereka. Namun gadis ini tampak tidak peduli. Ia terus saja memeluk mereka sambil menggumamkan kesedihannya.

Terlalu lama menangis membuat gadis itu tertidur. Ia terlihat sangat tidak nyaman dalam tidurnya. Belum lagi suhu yang dingin dan pakaiannya yang robek di berbagai sisi. Lalat sudah mengerubungi ketiga mayat keluarganya sejak ia menemukan mereka, namun gadis itu tampak tak terganggu oleh para lalat itu.

***

Paginya sang gadis terbangun dan berharap kejadian kemarin adalah mimpi. Namun yang ia temukan justru mayat ketiga keluarganya yang mulai membusuk. Lalat yang mengerubungi mereka bahkan lebih banyak dari yang kemarin.

Mengeluh kecil, gadis itu segera berdiri. Ia mencari cangkul dan menggali kuburan untuk ibu, kakak, dan pamannya. Ia tak ingin ada hewan buas yang datang karena mencium bau busuk mereka.

Saat akan memasukkan mayat ibunya, ia melihat pantulan cahaya yang membuatnya silau. Penasaran, ia mencari sumber pantulan cahaya itu.

Gadis itu menemukan belati perak dengan ukiran yang sangat indah. Dengan segera ia memasukkan belati itu di balik bajunya lalu kembali mengubur sang ibu.

Gadis itu kembali masuk ke gubuk setelah selesi mengubur ketiga keluarganya itu. Ia terlihat mencari-cari sesuatu yang sekiranya berharga untuk dibawa pergi. Ah tentu saja gadis itu akan meninggalkan gubuk tua yang menjadi tempat tinggalnya selama kurang lebih 7 tahun itu.

Ibunya pernah bilang bahwa ia menyembunyikan sesuatu dibawah tempat tidur mereka. Gadis itu segera meringsut masuk ke sela-sela tempat tidur. Ia menemukan sebuah pengait yang tertutupi kain kecil. Dengan segera ia mendorong kasur mereka dan menyingkap kain kecil yang menutupi pengait.

Gadis itu membuka pengait dengan hati-hati. Ia menemukan sebuah peta yang menuntunnya ke tempat di tengah hutan Krimos. Salah satu hutan terlarang yang katanya siapapun yang memasuki hutan itu tidak akan bisa kembali. Gadis itu ragu apakah ia harus pergi ke hutan terlarang itu atau tetap tinggal di gubuk tua.

Lama bergulat dengan fikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti peta ini ke hutan Krimos. Mungkin takdirnya akan berubah disana, tidak lagi menjadi anak jalanan di kota yang tak jauh dari tempatnya.

Sang gadis mengambil semua benda yang terdapat didalam pengait itu. Kalung berbandul amethyst yang indah, peta menuju hutan Krimos, dan sebuah buku tua yang tidak memiliki judul. Ia memasukkan semua barang ke tas selempang lusuhnya.

Menarik nafas dalam-dalam. Ia pergi melangkahkan kakinya dengan mantap. Menuju suatu tempat yang tanpa ia sadari akan mengubah seluruh hidupnya.

Dengan ragu, gadis itu melirik kembali gubuk tua yang ia tempati selama 7 tahun. Gubuk yang menyimpan banyak kenangan manis bersama ibu, kakak, dan pamannya. Gubuk yang menjadi saksi kehancurannya dulu. Gubuk yang menjadi tempat pulangnya dan mulai saat ia tidak akan pulang ke gubuk tua itu.

~''~''

Hey cerita ini aku buat karena entah kenapa lagi suka banget sama hal berbau fantasi. Aku ngambil nama beberapa temanku buat penunjang cerita ini. Beberapa yang aku bingungin kadang aku tanya ke mereka.

Semoga enjoy sama ceritaku ini ya, gabisa ngetik panjang lebar karena udah malem juga dan aku ngantuk.

Cerita ini selingan di pandemi virus corona yang lagi mewabah. Daripada aku ngobrol sama bayangan atau ngobrol sama tembok mending kubikin cerita.

Dear Lobev🐼

Emerald AcademyStories to obsess over. Discover now