Prolog

26 2 3
                                        

Matahari terbit atau arunika adalah peristiwa di mana sisi teratas  muncul di atas  horizon di timur. Peristiwa itulah yang membuat 7,5 miliar lebih penduduk di bumi mulai membuka mata dan siap menyambut hari baru dengan harapan hari ini jauh lebih baik dari kemarin. Ketika matahari terbit langit mengeluarkan rona merah yang disebabkan oleh partikel debu, partikel kecil, aerosol padat lainnya, dan aerosol cair di atmosfer bumi. Sinarnya yang menumbuhkan secarik harapan kepada umat manusia perlahan memasuki celah- celah ventilasi, termasuk celah ventilasi seorang gadis belia, Aruna. Aruna enggan memulai harinya pagi ini, Ia malas. Kemudian Aruna menarik kembali selimutnya agar sinar bola gas raksasa tersebut tidak menganggu tidur paginya yang indah. Namun sedetik kemudian Aruna tersadar atas apa yang telah ia lakukan, dan melempar selimut nyamannya itu. Aruna panik setengah mati saat menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 06.45. Ia bergegas turun dan hendak memaki siapapun yang tidak membangunkannya di hari pertama ia sekolah. Setelah berlari menuruni tangga, Aruna tersadar atas kebodohannya. Tidak ada siapapun di rumah tercintanya ini. Mama dan Ayahnya sedang melakukan perjalanan bisnis di New York, dan Mboknya - Mbok ijah kemarin baru saja izin pulang kampung karena cucunya sakit. Supir rumahnya? tentu saja hanya akan datang pada jam 7 tepat, saat ia sudah siap dengan seragamnya. Aruna berusaha memahami situasinya. Aruna terdiam. 1 menit berlalu dan ia masih terdiam.

"ARUNA KAU GADIS BODOH!" Aruna histeris kemudian berlari secepat mungkin ke kamar mandi dan membersihkan diri tidak lebih dari 5 menit. Beruntung kemarin Mbok sudah menyiapkan pakaiannya untuk sekolah. Ia menyiapkan tas dan semua yang ia butuhkan untuk sekolah. Aruna dengan cepat mengambil ikat rambutnya dan berangkat sekolah. Aruna jenius, pas sekali 15 menit yang ia habiskan untuk melakukan itu semua. Pak Tedjo, supir pribadi keluarga Aruna, sudah menunggunanya didepan.

"Pagi neng Aruna." Sapa Pak Tedjo dengan logat sunda yang begitu kental melekat pada lidahnya. "Pagi juga pak. Aduh ayo pak, buruan. Ntar akunya telat." Aruna merasa tidak tenang. Tidak mungkin ia telat ketika ini adalah hari pertamanya di sekolah baru. Akan terkesan buruk sekali. "Tenang neng. Bapak dulu juara moto jipi, hehe." Aruna yang mood paginya sudah tidak bagus, malas menanggapi gurauan Pak Tedjo. Apa hubungannya? Toh Moto GP itu motor, masa disamakan dengan mengendarai mobil. Dan kabar buruknya, ini adalah Jakarta. Kota Metropolitan dengan jalanan yang sangat macet. Polusi dimana - mana, para pengendara motor berusaha menyalip apapun didepannya agar tidak terlambat menghadiri kegiatan penting yang ada di jadwal mereka hari ini.

Tepat radius 5 meter di depan Aruna, kecelakaan tidak bisa dihindari. Seorang pengendara motor menabrak mobil dihadapannya. pengendara mobil tersebut naik pitam, lalu keluar mobil dengan membanting pintu, membentak pengendara motor tersebut. Pengendara motor tidak mau kalah dan tetap membuat argumen, enggan meminta maaf. Aruna tidak tau pasti bagaimana kronologis kejadian tersebut. Namun ia membatin dalam hati tidak akan menyukai pria manapun yang senang membuat masalah. Pertengkaran tersebut berakhir dengan pengendara mobil tersebut melayangkan bogem mentah kepada pengendara motor. Polisi datang, namun keduanya sudah melesat hilang dari jalan tersebut. Aruna mengutuk siapapun kedua pria itu, lelaki remaja tanggung si pengendara motor dan bapak- bapak berperut buncit pemilik mobil tersebut. Sekarang sudah menunjukkan pukul 07.12. 3 menit lagi habis sudah riwayatnya jika belum sampai sekolah.

Sepertinya dewi keburuntungan berada di tangan Aruna, 30 detik sebelum gerbang di tutup Aruna sampai sekolah. Kejadian kedua yang membuat Aruna bahagia adalah, ini bukan hari Senin, jadi tidak akan ada upacara menyebalkan hari ini. Namun sepertinya kebahagiaan Aruna tidak bertahan lama, ketika berjalan menyusuri koridor, semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, dan mulai menertawakannya. Aruna otomatis mengevaluasi apa saja yang ia kenakan. Ia tidak memakai make up sama sekali, bajunya juga normal, sudah di seterika. Rambutnya juga sepertinya baik- baik saja, ketiaknya tidak bau, tentu saja Aruna sudah memakai deodorant tadi pagi. Namun ketika ia melihat bawah,

Aruna menggunakan sendal rumah, sendal kelinci berbulu merah mudah favoritnya.

Aruna bodoh.

Aruna harus kuat. Aruna mencoba membuang rasa malunya dan memasang jurus tidak tau malu dengan level maksimal. Aruna kembali mendapatkan rasa percaya dirinya dan berjalan se normal mungkin untuk menemukan ruang kesiswaan. Setelah menemukan ruangan yang dicarinya, Aruna kembali mendapatkan musibah. Guru yang sedang berada di ruangan tersebut adalah guru BK. dan kabar buruknya, ia adalah seorang wanita, sedang hamil. Matilah Aruna. Guru cantik berwajah jutek tersebut langsung memusatkan perhatiannya terhadap alas kaki yang dikenakan Aruna.

"Jadi ini adalah hari pertama mu menginjakkan kaki disini?" Kalimat yang dikeluarkan dengan nada mencekam. "I- iya, bu." Aruna menjawab terbata bata, berpacu dengan adrenalin di tubuhnya. "Beruntung sekali kamu nak, bukan bertemu dengan guru kesiswaan. Sayangnya peraturan di sekolah ini ketat. Jadi saya harapkan kamu berdiri di bawah tiang bendera hingga keluar main. Setelah itu baru saya akan meminta Pak Burhan untuk mengantarkanmu ke kelas yang akan kamu tempati. Lain kali jangan menggunakan barang bodoh seperti itu di sekolah ini. Mengerti?" tatapan guru cantik, yang Aruna tidak ketahui namanya itu terlihat sangat mencekam. Aruna hanya mengangguk dan membuntuti guru itu dari belakang.
Iya, Aruna akan berjemur di pagi yang cerah ini. Kurang sial apa nasib Aruna? Padahal Ia adalah siswa baru, dan ini adalah hari pertamanya, namun ia sudah membuat dirinya menjadi tontonan seluruh  warga sekolah dengan sendal rumah kelinci pinknya.
     Setalah 5 menit merasakan indahnya sinar matahari, seorang pria bertubuh atletis diseret satpam dan guru cantik itu ke tengah lapangan. Aruna bersorak dalam hati, akhirnya ia ada teman.
"Wajahmu lebam, rambutmu berantakan, baju tidak dimasukkan! Kamu mau ibu keluarkan dari sini?!" Guru cantik ini sepertinya marah besar. Aruna mencoba mengintip sedikit ke arah pria yang sedang diomeli ini. Ekor mata Aruna menangkap pemandangan yang- mengangumkan dan juga mengejutkan. Pria di sebelah Aruna ini adalah pria pengendara motor yang membuat keributan di tengah jalanan kota Jakarta. Dan mengagumkannya, pria ini sangat amat tampan. Astaga, Aruna bisa saja mengeluarkan bola matanya saking senangnya melihat pria di sebelahnya ini.
"Maaf Bu Dewi." hanya itu yang keluar dari mulutnya. Setidaknya Aruna jadi mengetahui nama guru tersebut. Dan setelah di perhatikan, Guru cantik ini, Bu Dewi, tidak judes, namun sangat berwibawa.
"Lagi sekali kamu melakukan hal seperti ini, Ibu akan melaporkan kamu ke pempinan yayasan."
Aruna gemas, mengapa pria di sebelahnya ini tidak menjelaskan situasi yang di hadapinya tadi. Setelah Bu Dewi pergi, tanpa basa-basi Aruna langsung menanyakannya kepada pria di sebelahnya,
"Mengapa tidak memberitahu saja bahwa tadi kau habis diberikan pukulan gratis oleh bapak bapak buncit di jalan karena kau menabrak mobilnya?" Baiklah. Aruna memang memiliki mulut yang terkadang tidak bisa di kontrol.
Pria di sebelah Aruna memberikan tatapan yang sangat tidak enak dilihat, dingin sekali. dan tidak menjawab pertanyaan Aruna sama sekali. "Hey kau harusnya menjawab pertanyaanku! Aku berbicara padamu." Pria tersebut menoleh kembali, lalu menjawab dengan nada yang, sangat dingin. "Bukan urusanmu."
lalu pergi meninggalkan lapangan dan hati Aruna yang sangat dongkol.

EtherealHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora