Sebenarnya, sudah sejak lama aku berjuang sendirian, merangkai hati kembali agar tetap utuh jika akhirnya harus patah kembali. Aku adalah tulang punggung keluargaku.
Ini bukan cerita yang pas untuk dikagumkan, juga bukan motivasi yang dapat mengubah seluruh hidup kalia, ini hanya untaian kata yang setidaknya bisa menguatkan kita yang rela dipatahkan semesta berkali-kali.
Namaku Sekar, aku berprofesi sebagai barista di salah satu cafe yang cukup terkenal di Bandung. Keluargaku berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan untuk makan pun kami harus bekerja keras agar mendapatkan makanan yang layak. Bapakku meninggal saat usiaku baru menginjak umur 8 Tahun, saat itu aku sudah dapat mengerti bagaimana sedihnya ditinggalkan seseorang yang berperan penting dalam hidup kami. Selang beberapa tahun, kakak laki-lakiku meninggal karena kecelakaan. Semangat ibu untuk bertahan dalam kondisi kala itu rapuh, ia menjadi pesakitan yang membuat anak-anaknya juga terbawa down, menyaksikan pandangan yang nyata itu, aku terpaksa mengambil keputusan untuk bekerja sekeras mungkin agar mendapatkan uang untuk bertahan hidup, setidaknya untuk bisa makan setiap hari.
Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara, aku anak perempuan satu-satunya, ketiga adikku masih berada di bangku sekolah. Untungnya mereka bisa mengerti kondisi keluarga kami, mereka membantu mencari uang untuk bertahan hidup, namun aku menegaskan satu prinsip bahwa mereka harus terus berjuang dalam mengenyam pendidikan. Kiki adalah adik pertamaku, dia sekarang berumur 15 tahun. Dia baik, penurut, namun dia mempunyai riwayat penyakit bawaan dari lahir, dia tidak boleh terlalu lelah dalam hal apapun. Adik keduaku adalah Arif, dia berumur 13 tahun, dua tahun lebih muda dari Kiki, namun ia yang paling dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan. Putra bungsu ibu adalah Rey, dia berusia 9 tahun, namanya anak bungsu pasti identik dengan manja, sama halnya dengan Rey. Namun ia tetap penurut dan bisa diajak kompromi mengenai keuangan keluarga kami.
Kini, sepanjang hari ibu hanya menghabiskan waktunya di ranjang tempat tidur yang kumuh, sesekali ia berdiam diri didepan tungku tempat kami biasa memasak, hanya menyalakan api lalu memasak air, sepanjang hari hanya seperti itu. Tidak pernah ingin keluar rumah, meskipun rumah kami bisa dikatakan hanya atap tanpa dinding berplitur. Semenjak Bagas, kakak laki-lakiku meninggal, ibu jarang sekali berbicara, apalagi bercakap-cakap, ibu hanya tersenyum tulus setiap kali anak-anaknya melakukan kebaikan. Ibu akan menangis setiap kali Rey menanyakan kenapa bapak meninggal.
Next part 2
YOU ARE READING
Untukmu, Yang Rela Dipatahkan Berkali-kali
General FictionSebuah sanjungan untuk yang tidak lelah berjuang sendirian.
