⚠️ ⚠️⚠️
🔞
-sex
-harsh word
-cheating
-divorce
-violence
---------------------------------------
You are free to choose, but you are not free from the consequence of your choice.
Christian Yu as Christian
Kang Younghyun as Brian
Lee jungshin as Fa...
Alunan musik klasik terdengar dari piringan hitam yang gue putar. Aroma Steak menguar ke segala penjuru apartemen. Gue menyulap living room ini menjadi sangat berbeda dari sebelumnya.
Hari ini adalah anniversary gue dengan Indira yang ke empat. Buat gue pribadi perayaan seperti ini bukan lah sebuah keharusan. Namun menjalin sebuah hubungan bukan hanya tentang satu orang. Jika bagi Indira hari jadi kami adalah momen sakral yang harus dirayakan setiap tahun, kenapa tidak gue buat sesuatu yang bisa menyenangkan hatinya. Tidak ada juga ruginya.
"Ian... Kamu yang nyiapin ini semua?" Tanya Indira seperti tidak percaya. Dari matanya gue bisa melihat bahagia yang tersirat namun nyata. Gue raih pinggul rampingnya dengan lembut.
"Hm. Suka?"
"I can't believe you care about our anniversary. But Thank you so much, Love."
"I'll do anything to makes you happy, Sayang."
Indira tidak menjawab. Dia justru mengalungkan lengannya pada leher gue dan mencium gue dengan lembut berulang kali. Hal ini bisa saja jadi permulaan untuk tahap selanjutnya jika tidak ingat bagaimana usaha gue untuk membuat ini semua.
Dengan terpaksa gue dorong lembut tubuh Indira. "We should eat now. Nanti makanannya dingin."
Gue dan Indira makan dengan lahap. Indira tidak berhenti memuji masakan gue dari mulai suapan pertama sampai piringnya kosong. Bibirnya tidak berhenti mengulas senyum yang dengan magisnya mengantarkan hangat ke seluruh isi dada gue.
"Wanna dance?"
Indira menyambut uluran tangan gue. Kami pun berdansa mengikutin alunan lagu. Mengayun ke kiri dan ke kanan. Terasa ringan. Terasa sempurna sebagaimana mestinya. Seperti sebait kalimat klasik sangat klise yang sering orang-orang bilang, dunia seperti milik gue dan Indira seorang. Malam ini bisa gue pastikan akan jadi malam yang panjang untuk kami berdua.
"Christian..." Indira berbisik tepat di telinga gue.
"Hmm.."
"I love you."
"I Love you more."
Seperti mempelai pria kepada mempelai wanitanya, gue membopong Indira, membawa wanita itu ke dalam rengkuhan kedua tangan milik gue. Tidak akan gue biarkan Indira pergi barang satu inci malam ini.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Chris.."
"Hmm.."
"Kamu nggak pengen ke rumah ketemu orang tuaku?"
Kalimat itu lagi. Matahari bahkan belum masuk dari sela gorden kamar yang terbuka. Pertanyaan yang bisa dengan mudah merusak mood gue. Kenapa Indira harus menanyakan itu sekarang? Apakah Indira tidak sadar jika pertanyaan itu selalu membawa pertengkaran di antara kami berdua.
"Buat?"
"Kita pacaran udah empat tahun, Chris.." Ucapnya sedikit samar.
"Iya aku tahu. Terus kenapa?"
Kenapa. Gue juga bingung kenapa bertanya begitu. Indira sepertinya menangkap perubahan dari cara gue bicara.
"Kamu pasti tahu maksudku."
Dengan helaan napas panjang gue memandang tepat di matanya.
"Honey, listen to me. Us is enough, isn't it? Kita punya semuanya. Apa lagi?"
"Chris.."
"Get dress. I'll drive you home"
"Christian.."
Gue tidak lagi menggubris rengekannya. Berdebat soal hal tersebut tidak akan pernah ada habisnya dan hanya akan membuat tensi darah gue makin meninggi.
Buyarlah semuanya. Perasaan hangat itu hilang ditelan udara fajar. Sepanjang waktu perjalanan gue habiskan dengan menyayangkan pertanyaan yang seharusnya tak ada itu. Bukan gue tidak mengerti apa yang dia mau. Tapi menikah bukanlah hal sederhana. Kesiapan seseorang tidak bisa diukur dari berapa lama mereka bersama.
Dengan apa yang gue dan Indira punya sekarang, gue merasa sudah sangat cukup. Gue bahagia. Gue mencintai dia dengan sepenuhnya. Lalu apa lagi?
Apakah terlalu sulit bagi Indira untuk memahami itu?
Memperkenalkan diri pada orang tua satu sama lain atau tidak, tidak akan memberi perubahan apapun pada hubungan kami. Yang ada justru mereka akan mencoba masuk dan ikut campur. Sedangkan hubungan ini adalah tentang kami berdua. Orang lain tidak perlu ikut andil dalam kehidupan pribadi gue. Pun kehidupan asmara gue. Gue punya Indira, Indira punya gue. That's it.
Indira adalah perempuan yang gue temui saat gue masih kuliah dulu. Dia junior di kampus gue. Indira berhasil menarik perhatian gue pertama kali dengan penampilannya. Jika gue tidak salah ingat saat itu fakultas kami mengadakan event penyambutan untuk mahasiswa baru. Indira kala itu adalah mahasiswa baru yang ditunjuk untuk mewakili kelompoknya berpastisipasi di pentas seni. Dia bernyanyi dan diiringi oleh teman-temanya. Manis sekali suaranya.
Mengambil hati seorang Indira itu tidak mudah. Bahkan untuk mendapatkan kontaknya saja sulitnya setengah mati. Namun ambisi dan obsesi gue saat itu yang masih tinggi tidak membiarkan gue untuk menyerah begitu saja. Untunglah ada salah satu teman satu angkatan gue yang ternyata kenal dengan Indira. Dengan sedikit memaksa akhirnya gue mendapatkan kontak Indira. Lalu kami berakhir seperti sekarang.
Selama kami bersama, Indira adalah perempuan yang tidak ribet. Dia mandiri, tidak selalu bergantung dengan gue. Bukan tipe perempuan yang selalu minta diantar jemput. Itulah mengapa gue berpacaran dengan Indira tidak terasa menyiksa.
Namun manusia rentan dengan perubahan. Satu tahun belakangan gue merasa kalau dia sedikit berubah. Sejak anniversary ke tiga kami tahun lalu Indira jadi lebih cerewet. Gue yang tidak biasa dengan Indira yang seperti itu, jujur saja terkadang merasa risih dan jengkel.
Gue tidak tahu apa yang menyebabkan dia berubah. Indira sekarang adalah keterbalikan dari Indira tiga tahun lalu. Wanita yang tidak suka dengan hal-hal ribet kini justru menjadi sesuatu yang ribet itu sendiri.