SEMU

18 2 2
                                        

Angin tak akan berhenti meniup cakrawala.
Sementara dedaunan akan selalu mengikutinya.
Teruntuk kisah yang sudah menjadi lebih indah dipandang mata.
Aku merindukan kejutan senja seperti yang pernah aku lewati dimimpiku bersamanya.

------------------------------------------------------------

Semenjak aku membenci senja, aku menghindari apapun yang berhubungan dengannya. Bagiku, senja itu tak setia, karena indahnya hanya sementara lalu hilang tergantikan dengan gelap. Tidakkah itu menyakitkan? Aku sama sekali tak setuju dengan mereka yang terlalu mengistimewakan senja.

Sore itu, di taman bunga tengah kota, aku dan dia menghabiskan sisa sore dengan bercengkrama ringan seperti biasa, menghabiskan sisa waktu sepulang kerja yang membuat jenuh seharian.

"Aku akan menghapus buruknya senja dari pikiranmu, membuatmu selalu menunggu indahnya senja setiap hari dan mengenang kembali semua yang terjadi hari ini." Aku menegang mendengarkan setiap kata yang dia lontarkan, berusaha menggoyahkan pendirianku yang sudah terlalu kuat untuk dirobohkan.

"Tidak bisakah kau membuatku tidak baper sehari saja?" Jemariku sudah mencengkram erat ujung rok yang kukenakan sore itu, sembari menetralkan detak jantung yang sudah berkecepatan seperti pembalap.

"Aku akan mengukir kisah baru dalam kamus hidup kita, will you marry me?" Lidahku kelu, jantungku terus menerus bereaksi tinggi, air mata menggenang di pelupuk, kedua tanganku reflek memeluknya erat seakan tak ingin ku lepaskan lagi. Ya, aku mengeklaim menjadi milikku sepenuhnya.

"Aku masih sulit untuk percaya, tapi itu tak menjadi alasanku untuk menolak lamaranmu ini, iya, aku mau."

Tak lama kemudian aku mendengar suara samar-samar yang tertangkap oleh indra pendengaranku, "Nduk, sudah subuh ayo bangun dulu."

Deg! Seketika aku membuka mata dan langsung kulemparkan guling butut dari pelukanku. Aku meringis menahan malu karena bunda masih duduk disampingku sembari geleng-geleng kepala, pasti beliau sudah lama berada disini.

"Tahan dulu ya nduk, jangan ngelangkahin mas mu, ora apik."

Aku tersipu malu disaat suara bunda menggema di telingaku pagi itu, sepertinya memang memalukan sekali, cepat-cepat kusambar handuk dan segera melenggang pergi ke kamar mandi, sembari harap-harap cemas jika nanti ejekan itu terus menggema sampai di meja makan.



-end-

Enak gak digantung ? Hehe

CERPENQStories to obsess over. Discover now