Semua orang berbeda.
Dengan perilaku berbeda. Sikap yang berbeda. Cara berpikir yang berbeda. Kepentingan yang berbeda. Kesukaan yang berbeda. Dan tujuan hidup yang berbeda. Lalu kenapa mereka masih tidak percaya jika diri mereka memang dilahirkan untuk menjadi berbeda. Mengapa harus lahir rasa iri dan cemburu karena perbedaan yang ada.
Pola pikir manusia harus dibenahi, begitulah pikir Aruna menanggapi diskusi yang dilakukan di kelasnya tentang kehidupan sosial dan permasalahan yang terjadi didalamnya.
"Aku memang terlahir miskin. Itu bukan salahku. Tapi kalau aku mati masih dalam keadaan miskin, itu baru salahku"
Aura disekitarnya sangat kuat, keberadaannya selalu membawa suasana semangat dan ceria. Dia ketua kelas sekaligus murid kebanggaan dikelasnya. Berdirinya ia di depan kelas memberikan pemahaman tentang perbedaan status atau kasta yang justru harus ditanggapi dengan pemikiran positif.
"Saat dibawah bersemangatlah untuk naik ke atas. Saat diatas, ingatlah kalau kita pernah ada dibawah. Pantang menyerah dan rendah hati, buatku, itu kunci supaya perbedaan itu bisa terlihat indah"
Presentasinya selesai dan disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari teman-teman sekelasnya. Bahkan sampai ada yang berlagak memberikan standing applause hingga bersiul keras. Tak lupa, guru yang saat itu juga mengajar memberi tepuk tangan dan acungan jempol karena muridnya itu memberikan penjelasan dengan sangat baik.
"Oke selanjutnya ada yang mau membagikan pemikirannya lagi terkait fenomena perbedaan ini?"
Bunyi bel istirahat pun menandai berakhirnya kelas. Semua anak langsung merapikan peralatan belajar mereka dan membubarkan diri dari kelas untuk beristirahat, entah makan atau bermain di lapangan.
Aruna, si ketua kelas kebanggaan kelas 2 IPS 3 itu keluar dari kelasnya sambil membawa buku sketsa dan buku catatan. Ia langsung disapa oleh teman-temannya dari kelas lain yang kebetulan melintas di depan kelasnya. Tapi kebanyakan yang selalu menyapanya memang anak perempuan. Wajar saja, Aruna memang cukup populer karena paras manisnya.
"Mau kemana run?" tanya salah satu siswi yang datang menghampirinya.
"Oh.. aku mau ke ruang klub. Duluan ya" pamitnya sambil berjalan meninggalkan siswi tersebut.
Langkahnya sangat cepat, bukan karena ada urusan penting di ruang klub, tapi karena ia tidak terlalu suka suasana ramai saat istirahat. Kepalanya akan terasa sangat pusing jika melihat keramaian.
"ARUNAAAAAA!!!"
Teriakan seorang perempuan membuatnya terperanjat. Aruna yang hendak masuk ke area After School atau wilayah untuk kegiatan ekstrakurikuler itu langsung berhenti dan berbalik untuk melihat orang yang memanggilnya.
"Rosa?!" Aruna heran melihat teman sekelasnya saat kelas 1 itu datang kemudian menggelayut ditangannya, "Kamu kenapa?"
Wajah siswi bernama Rosa itu kelihatan ragu, namun akhirnya ia merengek, "Gue mau gabung klub seni ya"
"Eh?"
"Plis ya"
"Ros.." Aruna terkesiap, "ROSA YANG DULU BILANG NAJIS SAMA KLUB SENI SEKARANG BILANG MAU GABUNG?!!"
Gadis itu langsung membekap mulut Aruna dan memukulinya karena sudah berteriak sangat keras, bahkan teriakannya saja bisa menarik perhatian siswa siswi yang kebetulan ada disekitar mereka.
"Ya pokoknya bilang sama temen-temen lo kalau gue bakalan gabung!" cerocosnya lalu lari begitu saja meninggalkan Aruna yang masih terkejut atas deklarasi gadis itu barusan.
Sialnya, Aruna malah tidak bisa manahan tawa melihat kelakuan gadis itu. sambil melanjutkan perjalanannya menuju ruang klub, ia tak berhenti tertawa membuat orang-orang yang melihatnya keheranan sekaligus takut.
.
Begitulah, setelah sepakat membicarakan hal ini dengan anggota klub yang lain, akhirnya Rosa diminta untuk datang ke ruang klub sepulang sekolah. Kini dirinya berada di tengah-tengah anggota klub seni untuk diinterogasi. Dan entah mengapa, Rosa sepertinya menyesal akan keputusannya untuk ikut bergabung dengan klub seni.
"Jadi kenapa kamu mau bergabung?" tanya Aruna dengan seriusnya, membuat gadis itu hampir hilang kesabaran untuk tidak menjitak kepalanya.
"Anu..." Rosa kelihatan tergagap untuk menjawab, pasalnya semua mata anggota klub itu benar-benar melihat kearahnya.
"Habisnya aku inget tahun lalu, kamu tau kedok klub seni ini dan sebarin gosip aneh sama semua teman kamu soal kami. Kamu tau kan seberapa menderitanya kami untuk bisa sembunyiin dan menampik tuduhan orang-orang soal klub ini? Ditambah gosip yang kamu sebarin bener-bener jauh dari kenyataan yang ada" Aruna berdiri di depan Rosa dengan mata melototnya membuat gadis itu benar-benar tertekan.
"Run.. gu—e.." Rosa tergagap.
"Apa?"
"GUE KEMARIN GAK SENGAJA NONTON ANIME SAMA ADEK GUE DAN TERNYATA GUE SUKA!! GUE SUKA!! DAN ITU ALASAN GUE MAU GABUNG KLUB INI!!"
Ruangan seketika hening dan Rosa merasa sangat frustasi. Tidak ada respon dari anggota klub seni itu. Gadis itu langsung naik ke atas meja dan bersujud.
"DARI HATI YANG PALING DALAM GUE MINTA MAAF ATAS KELAKUAN GUE SETAHUN LALU!! JADI IZININ GUE GABUNG DENGAN KLUB INI!!"
Masih belum ada respon, namun perlahan Rosa bisa mendengar suara tawa dari semua anggota, juga tepuk tangan. Ia mengangkat kepalanya dan terkesiap melihat semua anggota sangat menyambutnya.
"Jadi gue diterima nih?" tanya Rosa yang kemudian turun dari meja sambil menutup wajahnya karena harus menahan malu.
"Selamat datang di klub seni, Rosa!" ucap Aruna sambil menepuk pelan kepala Rosa.
.
.
.
Dunia sedang sendu jadi aku datang untuk menghibur
