Kuabadikan secarik kalimat-kalimat untuk nenekku yang kemarin berpulang. Aku mencintainya dan lara kehilangan terus mendera. Tumornya begitu ganas, ia ingin sembuh tapi tubuh ringkihnya menghianati (tak bisa jalur operasi kalau sistem imun tubuh nenek makin buruk).
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Aku tak tahu apa arti kematian itu sesungguhnya. Selain jejak air mata serta kantung yang sembab memerah, atau lolongan kehilangan—yang entah kehilangan entitas apa (mungkin jiwa yang dahulu senantiasa berkeliling dalam daily life 24/7 tiba-tiba hilang dibawa sendu mendalam). Selain itu aku tak tahu.
Mencoba menguatkan sanak saudara dengan tepukan bahu serta, "sabar, ikhlaskan. Jangan tangisi terus-terus nanti mama kasihan." Yang padahal saat mengoceh itupun aku tak kuat tahan pilu. Aku bergetar, dahulu Beliau begitu dekat denganku. Menguncir rambut panjangku sebelum berangkat SD atau membuat ceker pedas kesukaan tante dan aku.
Makin tak kuasa tahan kesedihan kala pengumuman dikumandangkan. Seolah-olah semua berhak tahu bahwa Beliau pantas mendapatkannya; pantas berpulang dan yang lain berlapang.
"Kenapa mati, Umi. Aku udah ga punya nenek lagi?" Kasarnya saat ia menggores hatiku. Pertanyaan lugu cucu 5 tahun yang membuat aku kian menjerit sakit. Kenapa, kenapa ya??
Padahal 5 hari sebelum beliau di ICU ingat jelas dalam benak dan rasa yang sangat afirmatif. Olesan minyak kayu putih tak membuat ia berhenti mengoceh untuk terus dibalurkan pada tubuhnya yang sakit. Aku sedih, dan kehilangan.
Untuk nenek 63 tahunnya selamat sudah berhasil ditempuh. Dan semoga dimudahkan untuk jalan berikutnya. Tulang belulangmu akan hancur, masa-masa sendumu sudah lebur, tapi semua di sini tetap mengenang kehangatanmu.
27 Maret 2020 dalam sendu yang mendalam
