Part One

8 1 0
                                        

Covid19 ( KOIT19 )

Ini adalah kisahku, kisah pasien positif corona virus. Bacalah kawan, agar kalian tak sepertiku. Seperti teman-temanku. Menyesal sudah tiada guna, dihadapanku berseliweran para perawat yang berpakaian astronot bumi, ya, karena pakaian itu hanya dipakai saat seorang astronot keluar angkasa.walaupun sampai saat ini aku masih ragu, apa benar manusia mampu keluar dari bumi.   

Kudengar, banyak sudah korban berjatuhan oleh mahluk mungil ini. Entah kenapa,aku hampir tak perduli sama sekali. Tiap sore bahkan, aku akan menghabiskan “our time” bersama teman-temanku, ya, bermain sepak bola di tengah jalan komplek, karena kami tak mendapatkan lokasi lain yang memenuhi syarat. Oh ya, syaratnya antara lain: dekat lokasi kami bertemu, suasana tidak panas(biasanya sore hari ), jarang mobil lewat dan yang paling utam adalah GRATIS. 

Gratis, sebuah “ magic word”  yang akan selalu menjadi pertimbangan semua orang saat akan memperoleh barang atau jasa atau kepuasan yang didapatkan. Sudah hampir setahun ini aku ikut temanku, Ridho, bermain sepakbola ditengah jalan, ditengah badai wabah covid19.

Seringnya, kami akan mulai bermain saat jam tangan menunjukkan pukul 15.00, setelah saling menyapa di grup Whatsapp, kami selalu tepat waktu meskipun bahkan untuk masuk sekolahpun kami jarang tepat waktu. Oh ya, ritual main bola sore ini kami lakukan karena sebagian besar kami merasa bosan tinggal dirumah sejak sekolah-sekolah diliburkan untuk mengurangi penularan wabah covid19.  Social distancing katanya, bagi kami, ini adalah free fly.

Semestinya kami harus tetap dirumah, namun kami merasa bosan, karena walaupun guru-guru sekolah kami memberikan tugas online, bagi kami bukanlah suatu hal yang harus mendapatkan “perhatian lebih” daripada “ afternoon soccer time “ kami. Sebagian besar kami bersekolah di sekolah-sekolah yang memilki tingkat “ kepedulian” yang rendah soal kualitas siswa. Jadiii, libur panjang ini adalah “ our time “ yang sempurna.

Aku selalu berperan sebagai “ panglima” bagi teman-temanku. Begitu komando terbaca dilayar kaca mereka, hanya butuh 3 menit, maka akan tampillah 10 anak-anak muda berbakat versi kami. Yaa, versi kami, karena jika dibandingkan versi pencari bakat professional, tentu kesebelasanku akan mendekati kata absurd. Tak percaya ? Tengok saja Adi, remaja kurus murid SMP kelas 3 ini, beratnya tidak lebih dari 35 kilogram. Lain halnya dengan Ebi, anak ini tubuhnya agak bengkok seperti udang ebi yang biasa kulahap sebagai teman makan siangku. Jo, adalah yang paling gagah diantara kami, namun jangan ajak ia berlari, ia akan terengah-engah saat asmanya kambuh.   Akan terdengar seperti sedang menggibah teman sendiri jika kuteruskan deskripsi “ the dream team “ ini.

Hari ini kami sudah siap menggelar “ our time” . Kami selalu bertanding five on five dengan 1 orang dibangku cadangan atau lebih tepatnya di bibir got. Tempat yang sangat ramai oleh virus dikanan-kirinya serta bau “ wangi “ dari dangkalnya got yang mengapit kami. Setelah  kami bermain 10 menit, Adi, sang pemilik bangku cadangan tiba-tiba tersungkur kedepan, hampir saja kepalanya terbentur kakiku yang akan melakukan tendangan bebas.  

Kami semua berhamburan kearah Adi,wajahnya pucat pasi, tubuhnya dingin. Kami panik, dan segera berlarian mencari bantuan dari warga sekitar. Beruntung, salah seorang warga komplek ini adalah seorang paramedis, hingga ia segera memanggil ambulans.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Mar 26, 2020 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

KOIT19Des histoires addictives. Découvrez maintenant