A

27 5 0
                                        

Vote dulu:)
Komentar semua kesalahan:)
Komentar apapun akan diterima yang pedas sekalipun:). (Kalo ada mah mending barbeque)
(Pede amat mbaknya;), kyak ada yg mau komen aja;)
👆Ya semoga aja;).
Harapan seorang penulis amatiran:)

Happy reading👌


Prang

Suara piring kaca yang pecah akibat dilempar oleh seorang lelaki paruh baya itu menggema di ruangan dapur rumah seorang gadis yang bernama Rita Sabina Arysta ralat rumah orangtua Rita Sabina Arysta.

Seluruh penghuni rumah tersebut hanya dapat menatap nanar gadis remaja yang sedang tertunduk di lantai dengan berlumuran darah akibat tergores pecahan piring kaca yang dilempar oleh lelaki tersebut.

Argana Dythomi. Seorang lelaki yang melempar lemparkan piring dengan murka. Ayah dari seorang gadis yang bernama Rita Sabina Arysta.

Keadaan rumah Argana terlihat kacau saat itu. Pecahan kaca berserakan di lantai, banyak bercak darah diamana mana.

Bercak darah seorang gadis yang tidak memperdulikan keadaannya yang memprihatinkan. Ia tidak peduli dengan banyaknya luka di bagian kaki dan tangannya.

Mungkin ayahnya memang tidak melemparkan piring piring tersebut tepat pada tubuhnya. Melainkan ke arah lantai. Tetapi tergores pecahan kaca piring yang dilemparkan ke lantai tersebut yang membuat kaki gadis tersebut berlumuran banyak darah.

Ia hanya diam saat ayahnya melempari dirinya dengan piring atau benda lainnya. Ia hanya diam. Menunggu. Sampai lelaki yang berada di hadapannya ini puas melemparinya.

Setelah dirasa ayahnya mulai mereda dan berhenti melempar lemparkan benda-benda tersebut, Dia mendongak. Menatap tepat pada manik mata ayahnya. Ia melihat wajah seorang ayah yang selalu ia rindukan.

Menatap ayahnya dengan perasaan yang campur aduk. Antara rindu, sakit, sedih dan kecewa. Namun, ia dapat menutupi semua rasa kekecewaannya terhadap ayahnya itu dengan topengnya.

Ia tersenyum semanis mungkin terhadap ayahnya lalu membuang muka setelahnya. Ia tak mampu menyembunyikan rasa sakitnya. Rasa sakit diperlakukan seperti itu oleh ayah kandungnya sendiri.

Ia kembali menatap ayahnya. Tatapan yang menyiratkan kerinduan yang mendalam.

Dan, tes.

Satu cairan bening berhasil lolos dari matanya. Hal yang tak pernah ia inginkan pun benar-benar terjadi. Ia benar-benar tak ingin memperlihatkan setetes pun air matanya menetes di depan ayahnya. Ia tak ingin terlihat lemah.

Namun ia juga tak mampu menahan airmatanya. Ia selalu teringat dengan perakuan kasar ayahnya kala melihat wajah ayahnya itu. Pertahanannya benar-benar runtuh ketika mengingat sekelebat bayangan kejadian yang membuat ayahnya begitu membencinya.

Ia sangat benci keadaan ini. Sangat.

Ia menyeka dan menghapus air matanya dengan kasar.

Ia benar-benar sudah tak sanggup lagi berada di depan ayahnya, ia berusaha untuk bangkit. Walau rasa sakit seketika menjalar keseluruhan tubuhnya disaat ia mencoba untuk berdiri.

Ia berdiri dengan tegak lalu kembali menoleh ke arah ayahnya. "Makasih" ucapnya lalu pergi berlari menuju lantai atas dan melupakan rasa sakit yang ia terima akibat pecahan kaca yang menggores beberapa bagian tubuhnya terutama pada kakinya yang belum diobati sama sekali.

Ia mengunci pintu kamarnya dan berlari menuju kamar mandi. "Lagi" ucapnya dengan tatapan kosong. Ia sudah tidak kuat lagi. Air matanya luruh. " Lo harus kuat Rita. Harus." Katanya menyemangati dirinya sendiri.

Dia bercermin. Melihat keadaan dirinya saat ini. Begitu kacau. Dan semua ini karena orang yang ia sayangi. Ayahnya.

Kejadian yang samasekali tak ingin ia alami terus terulang kembali.

Mungkin kejadian semacam ini sudah tak asing lagi baginya dan mungkin ia juga harus menyesuaikan diri dan harus selalu siap dengan tameng dan topengnya.

Setelah melihat keadaan wajahnya, ia beralih melihat luka-luka yang ia dapatkan. Baginya luka fisik tas seberapa. Namun luka hatinya lah yang mambuatnya terlihat seperti orang yang sangat lemah. Sangat.

Setelah membersihkan badannya, ia mengobati luka-lukanya. Ia bingung harus bagaimana menutupi lukanya yang terlihat saat nanti ia pergi ke sekolah.

Namun ia menyerah. Ia sudah terlalu lelah bahkan untuk memikirkan hal itu. Lalu ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya untuk menghadapi kehidupannya lagi besok. Kehidupan yang sangat ia benci.

_Rita_

Gadis yang masih nyaman dengan tidurnya meringis kala merasakan lukanya ditekan.

Ia mengerjapkan matanya kala melihat ayahnya tengah menangis sambil menatap luka-luka yang terdapat pada kakinya.

Ia memilih untuk berpura-pura untuk tertidur. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ayahnya.

Ia melihat ayahnya tengah mencari kotak p3k di laci. Ia kembali dengan kotak p3k tersebut lalu membersihkan lukaku yang belum kering.

Aku tersenyum. Inilah sosok ayah yang sangat kurindukan. Aku kembali tersenyum mengingat masa-masa saat semuanya belum dimulai.

Kulihat ayahku hendak beranjak. Dengan cepat kututup kembali mataku dan berusaha se rileks mungkin agar tidak terlihat mencurigakan.

Namun sudah lama ku menutup mata, belum terdengar suara pintu dibuka ataupun tertutup kembali. Saat aku hendak membuka mataku kembali, mataku memanas. Benarkah ini? Ayah mengecup keningku?

Setetelah itu terdengar suara pintu yang dibuka lalu tertutup kembali.

Dengan cepat kubuka mataku. Kecupan yang sudah bertahun-tahun menghilang. Kini telah kurasakan kembali.

Dengan semangat kemerdekaan, aku meloncat dari atas kasur.

Namun,

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

"Aaaaaa" teriak Rita menggema di seluruh ruangan kamar tersebut.

Dengan cepat ia membekap mulutnya sendiri.

Ia lupa bahwa ia sedang terluka. Karena perlakuan langka ayahnya membuat ia lupa akan segalanya.

Ia kembali mendudukkan badannya di atas kasur. Ia melihat lukanya yang kembali mengeluarkan darah.

Merasa bodo amat, ia pun mengelap darahnya dengan tissue dan kembali berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual rutinnya setiap pagi. Yaitu mandi.

Setelah usia berpakaian dan menyiapkan keperluan sekolah lainnya, ia mengobati lukanya dan menutupi luka-lukanya dengan sedikit perban dan plester.

Ia hanya pasrah melihat keadaan kakinya yang penuh dengan plester. Walau tidak begitu sakit, tetapi itu sangat tak enak untuk dipandang.

_Rita_


_Diawali dengan part yang dibuat dalam keadaan oleng:v
_Maklum ancur:)
_typo bertebaran.
_hargai karyanya:)
_berusaha untuk terus memperbaiki.
_prosesbelajarmengajar.
👆Kalo ada yang salah atau gk nyambung komen aja,, baik salah penulisan kata atau apapun itu:)

@16erwee

Sekalian:
Fb. : Ratri Wulandari
Insta: @ratriwlndari16
👆Follow:D

RitaStories to obsess over. Discover now