Sendiri, sendiri dan sendiri.
Itu lah kehidupan ana. Ya ana wahidatunnisa, panggil saja ana. Ana sebenarnya adalah gadis yang ceria, hanya saja ia memang lebih suka menyendiri. Ana gadis yang normal, meski orang-orang sering menganggapnya aneh, yaa.. Aneh memang karena menyendiri bukanlah sebuah hobi yang wajar, itulah yang orang-orang fikirkan. Namun ana tak peduli, ia bahkan bahagia dengan kesendiriannya. Ia memiliki keluarga yang lengkap, bahagia, dan sempurna. Awalnya abi dan umminya khawatir dengan kondisi ana yang lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri didalam kamar. Bahkan karena kekhawatiran mereka itu. Saat ana masih kecil, orang tuanya membawa ana ke psikiater untuk membantu menyembuhkan ana. Bagi mereka sikap ana yang seperti itu adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Tapi bagi ana, ia tidak sakit, ia hanya senang dengan kesendirian. Ana sempat berontak, karena ia tak suka, ia terus meyakinkan ke dua orang tuanya bahwa ia baik-baik saja. Tapi orang tuanya tetap bersikeras membawanya, akhirnya ana menyerah dan mengikuti keinginan ke 2 orang tuanya. Setelah cukup dengan pengobatannya, tetap saja tak ada perubahan dalam kepribadian ana. Ia tetap lah seorang gadis penyendiri. Akhirnya ke 2 orang tua ana pun menyerah. Mereka menerima dengan lapang dada kondisi dan keadaan ana. Ana hanya berinteraksi dengan abi,ummi dan 2 kakaknya sarah dan ilham. Ya... Ana adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, menjadi anak bungsu membuat ia sangat dimanja oleh keluarganya. Bahkan kakak-kakaknya pun sangat menjaganya. Diluar sana, ana hanya berinteraksi dengan 2 orang sahabatnya yaitu kiya dan icha. Sahabat yang selalu bersamanya, yang mengerti hobi dan perasaannya. Kedua sahabatnya ini juga sering dianggap aneh karena mau bersahabat dengan ana, tapi bagi mereka ana adalah gadis yang baik, tak ada alasan untuk menjauhinya bahkan membencinya. Mereka bahkan menghabiskan banyak waktu bersama dan melakukan banyak hal bersama. Ana sangat bersyukur atas itu, memiliki orang-orang yang menyayanginya dan mengerti keadaanya adalah hal yang paling indah baginya.
Ana adalah gadis yang pintar dan juga cerdas, kepribadiannya yang hangat, penyayang dan selalu berfikiran positif menjadi alasan utama bagi dua sahabatnya untuk selalu bersama dengan ana. Bagi mereka setiap hari bersama ana bukan lah hal yang membosankan seperti yang difikirkan banyak orang terhadap ana. Kadang mereka berfikir, kenapa susah sekali menerima seseorang seperti ana. Mereka hanya belum tau bagaimana ana yang sebenarnya. Mereka hanya menilai dan memandang ana dari luarnya. Itulah sebabnya terkadang kita tak boleh menghakimi seseorang hanya dengan melihat luarnya saja. Tak kenal maka tak sayang, itu ungkapan pepatah dahulu. Bahkan kedua sahabatnya merasa senang saat bersama ana. Ana mengajarkan mereka banyak hal, memberikan mereka motivasi yang sangat berguna bagi mereka. Ya itulah ana, meski dilahirkan di keluarga yang begitu memanjakannya namun ia tetap bersikap dewasa saat dibutuhkan dan akan bersikap manja dilain waktu. Ia pandai menempatkan dirinya sesuai kondisi dan keadaan. Kadang ia bisa menjadi kakak yang dewasa kadang ia bisa menjadi adik yang sangat manja.
Meski kadang ana juga merasa bosan dan jenuh dengan kesendiriannya, namun ada saja cara untuk mengatasi masalah itu. Baginya tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan, semua sudah ada solusinya, hanya tergantung dari caranya saja. Tetap berfikir positif, apapun keadaannya. Itulah ana, "sendiri bukan berarti sepi, sendiri tak akan menyengsarakan mu" Setidaknya itulah yang selalu ada dalam fikiran ana.
YOU ARE READING
Aku Lah Si Penyendiri Itu
Teen Fictionberkisah tentang kehidupan seorang gadis penyendiri, ia melewati hari-harinya yang penuh warna dengan kesendirian yang ia sukai. gadis itu bernama ana wahidatunnisa, panggil saja ana. meski sendiri ana tak kesepian, ia bahagia dengan kesendiriannya...
