Sore hari, langit mendung tapi tak basah. Azan berkumandang. Seorang pemuda meringkuk di atas ranjang, berselimutkan gundah bergulung-gulung, bermanja-manja dengan gulana, bergumul-masyuk dengan nestapa. Nestapa yang seolah sengaja ia reka-reka. Entah untuk apa. Iqomat terdengar. Masih juga ia terkapar. “Pacarku diambil orang,” ratapnya lirih. “Orang itu brengsek... tapi lebih tampan dan kaya.”
Belasan menit berselang, tepat pukul tiga lewat sepuluh, akhirnya pemuda itu menegakkan tubuh, meski dengan agak rikuh. Pukul setengah empat, ia ada janji berjumpa dengan seorang kawan di kedai kopi. Kepadanya, sekadar untuk memberikan sedikit kelegaan pada hatinya yang tengah dijajah gundah, ia ingin menumpahkan segala keluh-kesah.
***
Sinar fajar shodiq baru saja menyemburat-mekar. Aroma embun melekat pada dedaun. Azan melantun, belum sampai “Ash sholatu khoirum minan naum” seorang pria paruh baya melangkah mantap ke sumber panggilan. Matanya nyalang, berkobar laksana api pada kayu bakar. Namun, teduh pula. Teduh bagaikan iringan awan. Dadanya sesak, tapi penuh harap.
“Allah.... Gunung dan sawah kami hendak dicuri. Saudara-saudara kami dipukuli. Pemimpin kami tak peduli,” ucap pria itu nyaris tak bersuara.
“Allah.... Allah.... Kalau bukan pada-Mu, pada siapa lagi kami meminta perlindungan?”
***
“Dunia ini betul-betul sudah kepalang brengsek! Hanya para bajingan yang bisa menang! Hanya para durjana yang bisa juara! Bangsat!” Sudah hampir satu jam Qoys mengumpat-ngumpat tak jelas. Juju yang duduk di hadapan Qoys mendengarkan dengan malas. Telinganya panas. Enggan pula Juju menanggapi. Jika menasihati, ia pasti akan dicaci. Jika mengiyakan, bagian mana dari rentet-rutukan Qoys yang layak diiyakan? Apalagi Juju tahu, ocehan-ocehan yang tak jelas juntrungnya itu hanyalah ekses dari kegagalan asmara Qoys.
“Hancur hatiku, Ju! Hancur lebur! Masihkah ada artinya bagiku hidup di dunia ini?” Tak henti-henti Qoys menumpahkan sampah-sampah pikirannya. Secangkir kopi seharga puluhan ribu di hadapannya sama sekali belum ia sentuh.
“Kenapa kau selemah ini? Terimalah saja bahwa Odah bukan jodohmu. Masih banyak perempuan di luar sana. Jangan bersikap seolah-olah kau manusia paling menderita di dunia.”
Setelah panas telinganya tak sanggup lagi ia redam, jebol juga pertahanan Juju untuk tidak berkomentar.
“Kau bisa dengan mudah berkata begitu karena tak merasakan penderitaanku, Ju! Rendi itu pria brengsek! Aku tahu betul dia itu hidung belang! Bagaimana bisa Odah jatuh ke pelukannya?”
“Baik, katakanlah Rendi pria paling brengsek sejagat raya dan kau pria paling baik sealam semesta. Odah yang telah berpuluh bulan menjadi kekasihmu tiba-tiba hilang akal dan menyerahkan diri kepada Rendi,” ujar Juju dengan napas mendengus-dengus. Dadanya bergejolak. Berhentilah ia sejenak. Diteguknya teh hangat untuk redakan gemuruh dada yang menghentak-hentak. “Kemudian, kau yang berhati emas berupaya sekuat raga untuk selamatkan Odah dari dekapan si brengsek Rendi. Ternyata Odah tidak mau. Ia tetap lebih memilih Rendi meski kau telah membuka semua kejelekan Rendi. Jika memang begitu, bukankah Odah yang rugi besar? Kenapa pula kau yang kesetanan?”
Qoys duduk terpaku. Matanya membeliak tak percaya. Keningnya berkerut.
“Sudahlah! Dasar bangsat! Kau memang tak mengerti!” pekik Qoys diiringi gebrakan di meja. Perhatian seluruh pengunjung tertarik padanya. Setelah itu ia melengos begitu saja, meninggalkan Juju yang terduduk beku di sudut kedai kopi.
Juju menggeleng-geleng. Ia muak pada Qoys dan orang-orang semacamnya. Bagi Juju, Qoys hanyalah bagian dari makhluk-makhluk sendu yang selalu mendaku sebagai yang paling merana, yang selalu mengumpat dan menyalahkan pihak lain atas kegagalannya sendiri dalam berbahagia. Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang masih tahu cara berbahagia, meski penderitaan mereka berlipat lebih berat daripada sekadar kegagalan asmara.
Sekian lama Juju tak juga beranjak dari sudut kedai kopi waralaba asing itu. Ia termenung. Dilihatnya secangkir kopi pesanan Qoys yang masih utuh tak tersentuh. Teringatlah ia akan ibunya di desa, yang selalu berjalan belasan kilometer setiap pagi buta. Saat mentari belum cukup percaya diri untuk menampakkan tubuh utuh-utuh, ibunya telah berada di perkebunan, memetik kopi. Dari pekerjaan yang masih tetap dilakoni meski Juju telah memintanya berhenti itu, setiap hari ibunya mendapatkan penghasilan senilai setengah dari harga kopi yang dipesan Qoys.
Dalam pikiran Juju, aneka gambaran bergantian mengisi; wajah ibunya, kemudian hamparan perkebunan kopi di desanya, kemudian kedai kopi waralaba asing ini, kemudian kakak perempuannya yang tak pernah menamatkan SMA, kemudian Odah belia yang bersepeda di jalanan desa sambil tertawa-tawa.
Odah? Kenapa pula Odah?
“Aku memang tak mengerti....” batin Juju.
***
Ketika Bagus tiba, mushola di kaki gunung kapur itu telah dipadati manusia. Di balik dinding papannya yang sederhana, telah bersimpuh puluhan lelaki-perempuan tua-muda. Begitu iqamat berkumandang, mereka serentak bangkit dan merapatkan barisan. Salat subuh pun dilangsungkan. Isak-sengguk terdengar sayup-sayup.
Dalam sujudnya yang berhiaskan lelehan air mata, terbayang oleh Bagus kusut-masai peristiwa yang menimpa warga belakangan ini. Sejak pegunungan kapur di wilayah mereka dimasuki korporasi, untuk dijadikan lokasi tambang dan pembangunan pabrik, kedamaian di desa mereka menjadi sedemikian terusik. Ia bersama seluruh warga desa telah lama berjuang bersama untuk menolak pembangunan pabrik dan tambang itu, yang mereka yakini dapat merusak keseimbangan alam dan mengancam mata pencaharian mereka sebagai petani, yang telah turun-temurun mereka jalani dengan bahagia dan penuh syukur. Namun, hingga fajar kali ini, perjuangan mereka belum juga menjumpai hasil yang cukup berarti. Pembangunan pabrik dan tambang tetap berlanjut, seolah abai pada jerit penolakan yang telah berbilang tahun mereka suarakan. Perjuangan mereka memanglah berat, karena lawan yang mereka hadapi sangatlah kuat: alat-alat berat, mereka yang menyebut diri “aparat”, dan ketidakadilan yang berurat-urat.
Salat subuh tunai. Tak seorang pun beranjak dari mushola. Pagi ini, untuk kesekian kali, mereka akan berdoa bersama, memohon pertolongan kepada sang Mahakuasa untuk memenangkan perjuangan mereka.
***
Hingga langit sempurna kelam, Juju masih saja tercenung di sudut kedai kopi. Rutukan Qoys terus menggema dalam kepalanya.
“Dunia ini betul-betul sudah kepalang brengsek! Hanya para bajingan yang bisa menang! Hanya para durjana yang bisa juara! Bangsat!”
VOCÊ ESTÁ LENDO
Komparasi Gunung dan Secangkir Kopi
ContoDunia ini betul-betul sudah kepalang brengsek! Hanya para bajingan yang bisa menang! Hanya para durjana yang bisa juara!
