Chapter I : Shinden

5 1 0
                                        

Sewaktu aku masih kecil dulu, desa tempat tinggalku pernah diserang oleh sekelompok bandit yang sangat ganas dan beringas, mereka membakar rumahku dan rumah tetangga-tetanggaku. Tapi di saat yang penuh keputusasaan itu, datanglah seorang pahlawan dengan rambut panjangnya yang halus bagaikan sutra berwarna coklat, berdiri tegap di antara bandit bandit tersebut dan satu persatu bandit bandit tersebut pun mulai ditebas.

Orang-orang desa kami memanggilnya "Shinden" dan dia dipercaya sebagai seorang Kami yang menjaga gunung tersebut, karena ketika orang orang ingin bertemu dengannya di kediamannya, tempat tersebut selalu kosong. Dan karena kejadian itu, aku bertekad untuk bertemu dengannya, namun setiap kali aku pergi ke kediamannya, tempat tersebut selalu saja kosong, hingga pada suatu hari ketika aku sedang berlatih di depan kediamannya.

"Huh, Hah, Huh, Hah! Yoosh! tinggal 100 tebasan lagi!"

Tiba-tiba dari arah kuil yang merupakan kediamannya, muncullah seseorang bersurai putih dengan rambut panjang berwarna coklat yang berjalan menuruni tangga, dia berjalan melewatiku dan melihatku berlatih.

"Lagi lagi bocah ini berlatih lagi disini, kalau begini terus entah kapan dia bisa menjadi seorang samurai sejati."

Mendengar perkataan tersebut pun aku terkejut, dan melihat ke arahnya. Anehnya, Shinden pun ikut terkejut.

"Kenapa dia menatapku, apa ada sesuatu di belakangku?"

"A-Ano! Apakah kamu samurai yang menolong desa kami 10 tahun yang lalu?" tanyaku.

"Eh? EEEEHHHHH?? K-KAMU BISA MELIHATKU??"

"Eh? Iya, betul."

"EHHHHH?? KENAPA INI? APA KEKUATANKU MEMUDAR??"

Shinden pun panik dan memegang bahuku dan menggucangku terus menerus.

"Ah, Shinden-sama, bisakah kau tolong berhenti menggucangku?"

Beberapa lama kemudian, Shinden pun akhirnya menjadi tenang kembali.

"Ah maafkan atas ketidaksopananku, Aku adalah kami yang menjaga gunung ini, dan namaku adalah....... Ah aku lupa."

"EHHH? Kau lupa dengan namamu sendiri?"

"Hah... Manusia terus menerus memanggilku dengan nama yang berbeda-beda bagaimana aku bisa ingat dengan begitu banyaknya nama yang diberikan kepadaku. Jadi namaku sekarang siapa?"

*Dalam hati, Kenapa malah tanya ke aku?*

"Di desa tempatku tinggal, penduduk di sana memanggilmu Shinden."

"Shinden? Hah... Paling aku bentar lagi juga akan lupa dengan itu semua, jadi bagaimana ccaranya kamu bisa melihatku? Padahal sebelumnya kamu tidak bisa lho."

"Eh? Aku tidak tahu."

"Kamu tidak tahu?" kata Shinden sambil  mendekat wajahnya ke wajahku.

"...Aku tidak tau fenomena aneh apalagi ini? Tapi karena kamu bisa melhiatku berarti kamu mempunyai kekuatan spiritual yang cukup kuat atau kau memiliki hubungan spesial denganku, apalagi sekarang kekuatanku sudah melemah, aku tidak bisa menunjukkan diri kepada manusia seperti dulu."

"Aku juga ingin tahu, untuk apa kamu berlatih terus menerus di depan kediamanku?"

"Ah aku terkagum saat melihatmu melawan para bandit bandit dulu, dan aku bertekad akan melatih diriku untuk menjadi sepertimu. A-ano, jadi aku ingin-"

"Tidak, jawabannya tidak."

"Eh, tapi aku belum selesai berbicara."

"Kau ingin memintaku melatih dirimu kan? Jawabannya tidak, dari hasil observasiku melihat kamu berlatih, kamu kelihatan payah sekali, memegang katana saja tidak becus. Lagipula itu terdengar melelahkan."

"Ehhh? Aku mohon, aku berjanji akan berlatih lebih keras lagi, per harinya aku akan berlatih 200 tebasan, tidak 500 tebasan!"

"Hah... Tidak terimakasih, sekarang pergilah." kata Shinden sambil berjalan pergi ke arah kuilnya.

Dengan perasaan kecewa dan sedikit rasa terpaksa, aku pun segera menuruni gunung dan kembali ke rumahku.

Keesokan harinya, dengan tekad yang lebih kuat aku pun berlatih kembali di depan kuil tersebut.

"Kau datang lagi rupanya.. Benar benar keras kepala."

Aku pun tidak menanggapi perkataan dari Shinden dan kembali melatih tebasanku.

"Bodoh, dengan postur seperti itu kamu tidak akan bisa memotong lawan." kata Shinden sambil memperbaiki posturku.

Setelah memperbaiki posturku, Shinden pun kembali ke kuilnya dan mengambil seperangkat alat minum teh, dan perlahan-lahan teh yang panas itupun disruput olehnya.

"Hei, aku belum tahu namamu tahu!"

"Ah maaf, Namaku Sorin."

"Hanya Sorin? Tidak ada nama keluarga?"

"Tidak, Ayah dan ibuku 2 2 nya adalah seorang petani, keluarga kami tidak cukup kuat untuk memiliki nama belakang. Kalau ayah dan ibuku bukan petnai, aku tidak akan berlatih disini, aku sudah masuk ke akademi."

"Oh? Sou desu ka?" kata Shinden sambil kembali mensruput teh nya.

Beberapa lama kemudian, Shinden pun beranjak dari tempat ia duduk, dan menepuk pundakku.

"Besok datanglah ke lapangan yang dipenuhi bunga lycoris merah di kaki gunung ini."

"Eeeehhh?? Apa ada tempat seperti itu, aku baru tau."

"Hmph, tentu saja kau tidak tahu, tempat itu adalah tempat khusus yang tersembunyi dengan baik."

"Oh, nee nee Shinden sama! Kamu adalah kami dari gunung ini bukan? Bisakah kau mengubah segala sesuatu yang ada di gunung ini?"

"Ah.. Tentu saja aku bisa, tapi aku tidak akan memakai kekuatanku untuk hal konyol seperti, hohohohoho!" kata Shinden, dia mengatakan itu tapi terlihat gelisah.

"Heee, Hontou ni?" kataku sambil mendekatkan wajahku ke Shinden.

"Ah sudahlah, apa pentingnya itu, ingat ya dengan janji kita, aku akan temui kamu besok di lapangan tersebut, okey?"

"Ah iya."

***To Be Continued***


Sorin no MonogatariStories to obsess over. Discover now