Teman.

1.1K 46 9
                                        

AMERIKA





_____________________________________




Aku terduduk mengingat, tubuhku masih dibungkus selimut tebal, gorden  dalam kamar tersingkap, menghasilkan udara sejuk yang masuk, langit gelap seperti tak datang pagi, Aku masih berusaha menyadarkan diri, beberapa kali Aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Tubuhku kuyup oleh hujan. Pada saat seperti itu Aku selalu mengingat wajah dan matamu saat menatapku.

Selalu teduh dan meneguhkan. Maka Aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi Ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang Aku semat bersama dalam rindu yang paling diam.

Mataku berkedip untuk kesekian kalinya, menyampaikan rindu yang sampai saat ini belum pernah Aku katakan. Apa kabarmu disana? Apa Kau mengingatku? Atau mungkin Kau merindukanku juga? Ah.. Itu hanya sebuah hayalan yang selalu Aku harapkan.

Tidak terasa rasanya, ketakutan yang selalu Aku khawatirkan sekarang terjadi. Aku semakin jauh, menjauh lebih jauh dari apa yang Aku pikirkan dulu, bahkan Aku belum mengatakan apa-apa padanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Dia tahu, kalau Aku mencintainya, mengingingkannya lebih dari sekedar teman dekat.

Aku tidak tahu bagaiamana bisa Aku mencintai seseorang yang begitu dekat denganku, semua terasa menyenangkan saat Aku berada didekatnya, menghabiskan waktu bersama, pergi menonton film berdua, mengajarinya tentang beberapa pelajaran yang tidak Dia mengerti, Aku menyukai apapun kegiatan yang Aku lakukan dengannya.

Sampai pada akhirnya Aku harus pergi, meninggalkan semua yang Aku punya dan yang membuatku bahagia, pada awalnya memang terasa mudah saja, Dia menghubungiku hampir tiap saat, Aku senang, Dia mengkhawatirkanku, mengatakan kalau Dia merindukan kehadiranku.

Waktu terus berjalan, apa yang Aku takutkan terjadi, Dia mulai susah untuk dihubungi, membalas chat begitu lama, tak mengangkat panggilan telfonku, atau bahkan hanya sekedar memberikan kabar.

Semua terasa asing karna jarak, ntah siapa yang berubah, Aku seperti tak mengenalnya, Dia begitu sibuk, saat ada kesempatan berbicarapun Dia terus menceritakan teman-teman barunya, laki-laki yang sedang dekat dengannya, tidak ada lagi satu kata yang menggambarkan kalau Dia merindukanku. Aku kehilangan sosoknya.

Aku tahu, apapun bisa berubah, dalam pertemananpun terus berputar, ada masa dimana Kita bisa begitu dekat dan ada masanya Kita harus jauh, melanjutkan hidup masing-masing dengan jalannya sendiri. Dulu memberi pesan random tanpa harus berpikir apa akan mengganggu. Sekarang rasanya begitu segan, bahkan saat Aku ingin memberi tahu kalau besok Aku akan kembali.

Saat mencintai sahabat sendiri, ada kata-kata yang tersusun sangat rapih walau hanya tersimpan dalam hati, mencintai diam-diam selalu sama seperti apa yang Aku lakukan, ya, cinta sendirian.

Kita tidak bisa memaksa, yang bisa Kita lakukan hanya merelakannya, mendoakannya agar Dia bahagia selalu.

Aku mencintainya walau Dia tak bisa Aku miliki. Dia temanku, sampai kapanpun akan menjadi temanku.



..
.
.



Aku tertegun, rumahnya banyak berubah setelah 3 tahun tidak Aku injak. Banyak foto-fotonya, tersusun rapih membuat senyumku tak pernah hilang.

Sosok laki-laki yang Aku sapa dengan panggilan Ayah memelukku begitu hangat kata pertamanya sedikit membuatku kesal.

"Kamu makan apa di Jepang? Agak berisi ya, pipimu."

Aku mengenalnya cukup lama, Dia teman SMP dan SMAku. Aku juga cukup dekat dengan keluarganya, Ayahnya humoris, Aku yang pendiam selalu bingung menanggapi semua leluconnya, tapi Aku senang saat bertemu dengannya, keluarganya hangat.

FLUFFWhere stories live. Discover now