Satu

452 30 5
                                        

Menjadi seorang istri dari orang ternama sekaligus mahasiswa semester terakhir memang terdengar cukup mengerikan. Selain harus mengurus segala keperluan suaminya yang tidak cukup satu lembar kertas untuk di tuliskan, ia juga harus kejar-kejaran dengan waktu untuk bisa menyelesaikan tugas akhir sebagai seorang mahasiswa. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya menghadapi semua itu dalam satu waktu.

Seperti pagi ini, setelah menyicil hasil tugas kuliahnya, ia sudah disuguhkan beberapa rutinitas pagi yang tidak mungkin dilalaikan oleh seorang istri. Disaat suaminya masih meringkuk hangat dalam balutan selimut tebal, sang istri justru sudah melakukan ini dan itu, entah memasak, dan beres-beres. Terdengar sepele sebenarnya, namun jika itu dilakukan setiap hari dan harus, pekerjaan itu sangatlah berat dan melelahkan. Itu saja kadang masih banyak laki-laki yang meremehkan pekerjaan rumah. Dengan alasan pekerjaan itu bisa di lakukan kapan seenaknya, ditempat yang teduh, dan dalam waktu yang tidak panjang seperti aturan jam kerja karyawan.

Hah, susah memang berusaha menjelaskan seperti apapun jika akhir-ahirnya juga perempuanlah yang mengalah, dan hanya mengiyakan apa yang para suami katakan. Bukan untuk menunjukan bahwa peran perempuan lebih berat, jelas bukan. Semua mempunyai porsian masing-masing, dan tentu akan sangat mudah jika keduanya saling menghargai dan tidak egois satu sama lain.

"Apa kau ada bimbingan pagi, sayang. Kau terlihat sudah rapi, bukakah ini hari libur?" Pria itu memasukan makananya sambil memperhatikan gerak-gerik lincah perempuan yang ia nikahi satu tahun yang lalu.

Dengan tangan yang masih berkutat dengan piring-piring serta peralatan yang kotor, perempuan itu menjawab tanpa menoleh sang suami yang duduk di meja makan, tepat di depannya.

"Eum. Pembimbingku kali ini sangat menyusahkan, untuk itu aku harus berangkat lebih awal, karena kalau tidak, aku akan mengejarnya ke Bandara seperti minggu lalu."

"Itu mengapa semalam kau tega membiarkan suamimu selingkuh dengan bantal guling, karena istrinya sibuk mengerjakan ini itu, hm?" adu sang suami yang di sambut kekehan ringan dari istrinya.

Perempuan itu menghampiri suaminya setelah ia selesai menata kembali piring-piring itu di rak.

"Kau juga tega membuatku cemburu pagi ini karena bantal guling itu. Kau seakan menikmati sekali memeluknya. Apa kau membayangkan seorang wanita yang kau peluk itu, uh?"

Perempuan itu memeluk kepala suaminya dari belakang, ia sedikit membungkuk karena suaminya sedang duduk menikmati sarapan paginya.

"Jika iya pasti wanita itu kau, Heejin-ah. Aku tidak pernah memiliki waktu untuk memikirkan atau melirik wanita lain, selain dirimu."

Kira-kira seperti itulah obrolan ringan dari sepasang suami istri itu. Heejin sedikit tenang karena suaminya sangatlah sibuk dengan kerjaanya, dengan begitu suaminya tidak akan sempat untuk berselingkuh di belakangnya.

Namun kadang permpuan itu juga kesal karena suaminya seorang gila kerja, sampai kadang jika kerjaan di kantornya tidak selesai, tak jarang suaminya akan bermalam-malam di ruang kerja pribadinya untuk lembur, dan tentu saja sebagai seorang istri, Heejin merasa di duakan.

"Ambilah tas dan keperluanmu, aku akan kedepan untuk menyiapkan mobil, mumpung aku sengang dan hari libur juga, jadi tidak salahnya jika sekali-kali aku mengantarmu, kau tidak masalah, bukan?" katanya sambil melepas lingkaran tangan istrinya di lehernya, mengadahkan wajahnya untuk melihat wajah istrinya.

"Jinjja? Apa tidak apa, aku bisa berangkat sendiri, kau istirahatlah di rumah, aku tahu kau lelah. Aku juga tidak ingin merepotkanmu, SinB-ah." perempuan berambut hitam lebat itu pun membenarkan helaian rambutnya agar tidak mengenai wajah suaminya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 21, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

With Mr. HwangWhere stories live. Discover now