Hai Jingga

12 0 0
                                        

Pagi ini langit tampak bahagia, matahari bersinar terang menyombongkan kilaunya, awan pun tak sanggup menutupi sinarnya matahari, dan itu membuatku sangat malas berangkat ke kampus. Kala itu Jakarta panas banget, emang sih Jakarta setiap harinya selalu panas, tapi entah kenapa hari itu panass banget sampai jelas sekali bau gosong dari bajuku. Hari itu aku tidak membawa kendaraan pribadi untuk pergi ke kampus, alasannya? Ya malas aja. Malas parkir tentunya. Apalagi ditambah dengan kemacetan Jakarta yang benar benar gak bisa aku toleransi lagi. Oh iya perkenalkan aku Hana Qirani Wajdi, tentunya kedua orang tuaku yang memberikan nama itu. Mereka berharap aku dapat tumbuh menjadi kebahagian yang selalu bersemangat dalam melakukan kebaikan. Gak terlalu lama aku menunggu, bus pun datang. Aku bergegas menaiki bus agar segera sampai ke kampus. Di dalam bus ternyata gak ada tempat duduk yang kosong, otomatis aku harus berdiri terus. Kulihat sekelilingku, mengamati setiap orang yang berada di dalam bus. Siapa tau ada yang ku kenal dan bisa kuajak ngobrol untuk menghilangkan rasa pegal karena terus terusan berdiri di dalam bus. Kuamati orang orang yang berada di dalam bus namun ada seseorang yang membuatku tidak berhenti memandanginya. Laki laki bertubuh tinggi proporsional, bersepatu casual, dan memiliki mata yang sangat teduh. Aku terus memandanginya hingga tanpa sadar dia melihat kearahku.

" Duduk sini, biar aku yang berdiri " tanpa embel embel sapaan, dia menawarkanku duduk ditempatnya.

" Gak usah kak, udah biasa berdiri " pertama alasanku menolak karena kalau aku duduk dan dia berdiri dibelakang otomatis aku gak bisa mandangin dia terus. Yang kedua aku gak bisa ngelihat dia berdiri sedangkan aku duduk pasti ntar kaki panjangnya capek karena harus berdiri

" Udah gak usah sok kuat, duduk aja. " dia pun berdiri dan menarik lenganku perlahan untuk segera duduk ditempatnya.

Sontak aku diam terpaku dengan perlakuannya. Tanpa ucapan apapun aku terdiam berasa terhipnotis dengan apa yang dia lakukan. Emang sih dia adalah cowok yang sangat cuek, tapi dia gak segan melakukan kebaikan dibalik kecuekannya itu. Sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di kampus. Yup, kita sekampus. Aku kenal dengan dia karena dia kakak tingkatku. Kita beda 3 tahun.

"Makasih ya kak, buat tempat duduknya tadi" sumpah buat ngomong kayak gitu aja butuh energy dan nyali yang gede banget, tapi aku bener bener harus ucapin terima kasih, karena dia aku gak perlu berdiri terus selama perjalanan.

" Ngapain terima kasih ke aku? Kan bukan aku yang punya kursinya. Kalau mau bilang terima kasih ke pak supir. Dia yang punya " mungkin kalian kira itu adalah jokes dia buat lelucuan. Tapi asal kalian tau, dia gk lagi ngelucu. Itu sebagian dari kecuekan dia. Aku bener bener harus putar otak buat ngobrol sama dia.

" Hehehe.... Iya ya, tau gitu tadi waktu habis ngasih uang ke pak supir sekalian bilang terima kasih atas kursinya yang sangat nyaman " beneran berasa orang aneh aku ngomong kayak gitu.

" Nah tu tau, duluan ya " dia pergi tanpa ngajak aku masuk juga ke kampus. Bener bener susah banget buat deketin dia. Emang sih canggung pasti kalau harus deket sama kakak tingkat, apalagi dia ketua organisasi di kampus. Tapi gak apa, aku masih bisa tersenyum selama di kampus karena aku masih bisa merasakan dekapan tangannya di lenganku.

Hujan dan JinggaDes histoires addictives. Découvrez maintenant