Jarak

29 2 0
                                        

Hari ini cerah, tak seperti hari-hari sebelumnya yang terus-terusan diguyur hujan. Bahkan beberapa orang justru sibuk mengoceh betapa panasnya hari ini ̶ tidak seperti kemarin yang sibuk mengeluh betapa sulitnya menjalani aktivitas di kala hujan. Bandar udara pada musim liburan seperti ini padat, dipenuhi orang-orang yang rindu kampung halaman dan orang-orang yang menanti yang tersayang. Ariendra-salah satu pengunjung bandara hari ini-sibuk menanti di depan pintu kedatangan domestik bandara. Matanya menatap setiap orang yang keluar dari pintu tersebut. Sesekali ia berusaha berjinjit untuk memastikan orang yang ia tunggu-tunggu dapat terlihat dengan jelas.

Setelah beberapa menit, kedua ujung bibirnya tertarik sempurna. Ia langsung keluar dari kerumunan, menghampiri seorang perempuan bertubuh kecil dan mengacak-acak rambut perempuan yang ia nanti-nanti dengan gemas.

"Gimana flight-nya, Sal?" tanya Ariendra. Ia sama sekali tak bisa menyembunyikan kesenangan hatinya. Ia selalu sibuk tersenyum, pun dengan perempuan yang bernama Salsa itu.

"Tadi agak serem soalnya di sana hujan. Tapi nggak pa-pa. Makanannya kali ini enak banget! Jadi aku seneng banget," cerita Salsa dengan antusias, meskipun ia beberapa kali berusaha mengangkat tasnya dan terlihat agak kewalahan dengan barang bawaannya.

"Mama sama Papa aku di mana?" tanya Salsa, mengedarkan pandangannya ke sekitar.

"Tadi lagi ke toilet. Katanya tadi kita disuruh ke mobil duluan.Yuk," Ariendra mengambil alih koper dan tas jinjing milik Salsa, lalu mereka berdua melangkah menuju parkiran.

Sembari menunggu kedua orangtua Salsa, Ariendra mengajak perempuan itu berbincang-bincang dengannya. Hubungan romantis yang terpisah beratus-ratus kilometer membuatnya tak dapat menahan keinginan untuk mendengarkan cerita gadis itu secara langsung, bukan melalui video call.

"Gimana kuliahnya, Sal?"

"Makin pusing, deh. Aku sering banget salah hitung jurnal atau neraca atau apalah itu. Terus harus ngulang dari awal lagi. Bisa begadang karena itu doang."

"Gara-gara kangen aku kali, nggak fokus deh ngerjain tugasnya."

"Dra, sumpah ya. Lo ngegombal di muka gue, gue tabok." Salsa mengepalkan tinjunya, mengarahkannya ke wajah Ariendra yang justru tertawa.

Salsa selalu begitu kalau sudah salah tingkah karena gombalan Ariendra. Mendadak jadi galak, meskipun hanya sebatas gertakan, tak pernah benar-benar melayangkan tinjunya dengan tangan kecilnya itu.

Momen-momen sederhana seperti ini akan dimanfaatkan dengan baik oleh Ariendra bersama Salsa selama beberapa bulan ke depan.

**

Suara hening menguasai mobil yang diisi dua orang yang sedang dalam perjalanan menuju pantai. Beberapa percakapan yang berusaha dibangun selalu selesai dengan cepat. Jika ada orang lain di dalam mobil itu, pasti mengira dua orang ini tidak terlalu dekat.

"Sal, gimana event yang kamu adain itu?"

Salsa mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya sedari yang tadi sibuk menatap layar ponsel, meski tak lebih dari dua detik.

"Ya gitu, biasa. Banyak drama."

"Ooh..." Ariendra mengangguk-angguk. Kepalanya sibuk berpikir, topik apa yang harus dibicarakan agar dapat berlangsung lama. Ia tak pernah berpikir sekeras ini, karena biasanya Salsa yang justru menceritakan hari-harinya tanpa diminta.

Iya, di bulan kedua liburan ini, Ariendra merasa Salsa menjadi sedikit berbeda. Di berbagai kesempatan mereka berdua, Salsa seringkali lebih fokus dengan ponselnya dan mejnadi lebih sedikit berbicara.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 20, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

JarakWhere stories live. Discover now