1. Lamaran yang Datang

17.7K 708 42
                                        

"Dengan senang hati saya menyerahkan masa depan putri saya bersama Nak Abi kalau memang Nak Abi serius ingin mempersunting putri saya—Naura." Suara sang Papa benar-benar membuat Naura yang saat itu tidak mengerti apa yang terjadi dan tidak paham situasinya dibuat melotot ke arah pria itu dan mempertanyakan pernyataan beliau tadi.

Seolah tak sadar dengan pelototan putrinya, pria itu dengan asiknya tertawa bersama sang istri yang juga menyambut baik bocah itu atas kedatangannya. Iya, bocah. Naura—wanita yang sejak tadi menjadi bahan perbincangan mereka memang menganggap pria yang datang ke rumah dan bicara dengan kedua orangtuanya itu adalah bocah. Bocah yang entah bagaimana bisa dengan percaya dirinya menghadap kedua orang tua Naura untuk meminta dirinya. Meminta Naura pada kedua orangtuanya untuk menjadi istrinya.

Abimana Setiawan, pria berusia 21 tahun yang tidak lain adalah salah satu mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Ya, salah satu mahasiswa Naura kalau memang ingin diperjelas, meski sekarang pria yang dianggap Naura bocah itu sudah mengukuhkan gelar sarjananya beberapa pekan lalu.

Dan apa yang Abi lakukan setelah mendapatkan gelar sarjananya? Melamar Naura! Mantan dosennya sendiri. Wow, luarbiasa sekali, bukan? Alih-alih mencari pekerjaan, pria itu malah dengan percaya dirinya datang untuk melamar dosennya sendiri.

"Saya rasa saya bisa percayakan Naura pada kamu, Abi. Kamu menunjukan keseriusanmu. Tapi ingat, walau saya bilang begini, jangan harap kamu lolos dari saya kalau sampai membuat Naura terluka baik fisik maupun perasaanya." Suara Nathan ikut serta, kakak sepupu Naura yang sejak sore tadi memang tengah berada di rumahnya itu terlihat yakin dengan ucapannya. Padahal setahu Naura itu pertama kali mereka dipertemukan.

Sulit dipercaya, bahkan sepupu Naura yang terkenal posesif padanya saja bisa mengatakan hal itu? Dengan mudah menyetujui permintaan pemuda itu untuk meminang Naura? Benar-benar sukar dipercaya.

"Lalu kapan Nak Abi berencana melamar Naura secara resmi? Membawa serta orang tua Nak Abi—maksud Tante. Ah, apa mulai sekarang lebih baik dibiasakan memanggil Mama saja ya?" Ucap wanita itu kemudian tertawa ketika melemparkan tatapannya pada sang suami.

Pria paruh baya yang ditatap kemudian menimpalinya dengan jenis tawa yang sama, tawa yang seolah puas dengan ucapan sang istri entah dengan maksud berguyon atau serius. Sementara itu, Naura hanya benar-benar bisa menatap kedua orangtuanya itu dengan tatapan heran, bertanya-tanya mengapa selera humor mereka seburuk itu kalau memang maksudnya adalah hanya sebagai lelucon. Jangan tanya bagaimana reaksi Nathan, atau bahkan Abi, kedua pria itu hanya mampu menunjukan senyum mereka, meski dua jenis senyum yang berbeda. Nathan dengan senyum canggungnya, sementara Abi dengan senyum macam, "apapun yang dikatakan kedua orang tua Naura adalah kabar baik untuknya, jadi mari tersenyum."

"Ya Tante—eh, maksud saya Mama."

Mendengar balasan dari Abi itu tentu saja membuat Naura melongo dan mengaga tidak percaya. Kenapa bocah ini? Kenapa dengan mudah mengikuti permainan kedua orangtuanya sih?

"Cie... yang mau dinikahin sama berondong." Suara gadis yang lebih muda terdengar dari arah ruangan lain, yang meski Naura jelas sudah tahu suara siapa yang didengarnya itu namun tetap membuatnya menoleh untuk mendapati sosoknya.

Naura melotot, melempar tatapan tajamnya itu ke arah sepupu lebih muda yang paling menyebalkan yang pernah ia miliki. Gadis itus—Nigi, tengah mengintip di tembok dan hanya memperlihatkan separuh wajahnya sambil menahan tawa ke arah Naura dan para orang dewasa lainnya berada. Dan bukannya takut melihat pelototan kakak sepupunya, Nigi malah semakin terkekeh merasa respon yang Naura berikan adalah apa yang ia harapkan. Itu berarti upaya Nigi untuk menggoda kakak sepupunya itu berhasil.

"Kalau begitu... saya rasa saya bisa secepatnya membawa kedua orang tua saya untuk—"

"Tunggu!"

Semua mata kini sukses beralih menatap Naura, wanita yang sejak tadi diam dan memutuskan untuk angkat suara. Sudah cukup, rasanya Naura sudah merasa cukup untuk mendengar semua pendapat keluarganya dan Abi yang berkumpul di sana. Naura sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup untuk diam, dan ini waktunya ia mengeluarkan pendapatnya sendiri. Toh yang sejak tadi mereka bicarakan adalah Naura, kan? Jadi Naura jelas berhak untuk menyuarakan apa yang ada di kepalanya saat ini.

Love Revolution (Lovely Complex)Stories to obsess over. Discover now