Pagi di Balik Jendela

90 6 2
                                        

     Cahaya matahari mengintip di sela jendela. Suara burung riang mengiringi angin yang berhembus laun. Suara gema adzan belum lama bersautan, manusia memulai hari sibuknya dengan bayangan remang di balik lemari. Hari ini semoga rejeki datang menyambut bagi mereka yang menjemput. Hati mencoba membaca titah aura dunia pagi ini. Jendela usang itu menjadi saksi tangan yang gemetar menggapai mimpi.

     Langkah kaki lemah satu persatu menapaki lantai mencoba melangkah dengan gontai. Seolah mimpi semalam masih bergelantung di pelupuk matanya. Jiwa, temani ia menemukan jalan terang nan menghangatkan hati. Membuka mata kecilnya tentang indah bunga sakura dan merah daun mapel. Tentang duri mawar yang menusuk di balik bunga yang cantik. Tentang sulur pohon rambat yang melilit rumit setiap bidang. Di teras yang damai, kepalanya terangkat ke langit...ia melihat air menetes, seperti air mata dalam diam. Awan yang terang gelap tiba-tiba turun hujan...langkahnya terhenti.

     Apa yang terjadi? Bahkan ia baru saja mencoba melangkah. Ciutan burung sirna menjadi rintikan hujan merdu di luar sana. Cahaya matahari yang baru saja mau beranjak naik tertutup awan abu-abu. Semua ini penuh tanya. Bagaimana bisa kaki yang baru siap melangkah terhalangi hujan? Takdir Tuhan kah atau alam semesta hanya ingin ia kembali mempersiapkan diri sebelum langkahnya menjauh? Tanya tanpa jawaban itu terus berputar. Tak ada yang menjawab...lalu ia berteriak.

"Mengapa Tuhan tak adil? Aku baru saja bergegas pergi dengan semangat membumbung di dadaku? Apa-apaan ini?!"

Tak ada suara , bahkan ayam jago basah kedinginan di dalam kandang. Air hujan itu seperti tangisan hati yang menjerit terluka, hangat dan lengket. Ia julurkan tangannya lalu dia peperkan ke saku celana denim baru. Dia meraba sesuatu di dalam sana. Daun semanggi layu.

"Hah, keberuntunganku sedang tak baik hari ini. haruskah aku mencari dan memetik lagi di tepi danau.." ucapnya dalam hati.

     Ia menyerah dan berhenti mengeluh. Dia taruh tas punggung ungu di kakinya dan mencoba duduk di kursi bambu yang sebenarnya tak nyaman itu. Tangannya sering kali terjepit bahkan bokongnya sering bergaris hingga terasa gatal. Semoga kali ini hujan reda lebih cepat hingga ia tak perlu duduk terlalu lama. Ia terus merapalkannya dalam hati. Lupa bahwa sebenernya hari sudah semakin siang. Dan ia harus bergegas pergi sekolah.

Another Beautiful DayWhere stories live. Discover now