• ʜɪʟᴀɴɢ: ᴍᴇʀᴀʜ ᴅᴀʀᴀʜ •

3 0 0
                                        

orang-orang mati, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup tetapi yang lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang belum menyaksikan dan menikmati pelik kehidupan di bawah kolong langit.

malam ini begitu dingin, beku rasanya sekujur tubuhku, menggigil dari ujung rambut sampai ujung kaki. aku berjalan tanpa arah, meski ku tahu tubuhku yang mungil bisa saja diterbangkan angin begitu saja.

badan yang hanya tulang terbungkus kulit dan perut yang keroncongan lah temanku di perjalanan tanpa tujuan ini. angin yang berhembus kencang dan lampu penerang jalan menjadi kawanku. seakan aku mati sesaat, seakan aku di dalam gelap.

aku hilang.

kisah ini berawal saat ayah dan bunda mulai sering bertengkar. ketika itu, aku melihat mereka berteriak satu sama lain. sepertinya tidak ada lagi cinta, hati mereka terpisah jarak tujuh samudera.

aku pikir dengan nilai matematikaku yang baik akan menjadi jembatan, bukannya jadi bahan pertikaian baru sebab bunda ingin aku jadi dokter dan ayah ingin ku menjadi pebisnis tanpa mereka tahu ku harap jadi apa sebenarnya.

aku pikir juga dengan aku memenangkan berbagai olimpiade, mereka akan berbangga dan berdamai, namun hasil tetap nol besar. ayah dan bunda tetap saling melempar bom atom.

semakin lama suasana rumah tangga keluarga kami semakin berantakan. hubungan semakin kacau dan dingin, bahkan kalau boleh ku bilang lebih dingin dari malam ini.

setiap fajar tiba, langit jingga dan matahari terbit, aku bangun dan berdoa agar ayah dan bunda kembali bersatu, namun Sang Khalik sepertinya tak ingin menjawab. mungkin bahkan ia tak lagi peduli padaku.

sudah bertahun-tahun aku menangis sambil bersimpuh di lututku, namun jalan keluar tak kunjung ku temu. dunia ini hanya semu.

masalah ini juga diperparah dengan keadaan kesehatanku. aku yang mengidap anoreksia berat membuat suasana rumah semakin tak nyaman.

kian hari, aku kian menyendiri. aku tak punya saudara, atau pun teman dekat. keluarga hancur berantakan, tak ada yang bisa ku lakukan.

sudah berbagai cara, sudah berjuta jalan aku cari, aku pikirkan. tapi tetap tak ada hasil.

aku menyerah, toh percuma berharap kalau sia-sia. toh tak guna jika berjuang dengan hasil kosong.

dewasa ini aku menemukan banyak kebencian dan kemarahan yang sudah tumbuh di hatiku, mengeras seperti batu dan tak bisa dihapus, permanen seperti baju terluntur tinta.

semuanya membawaku seperti orang depresi berat, sakit hati yang tak kunjung sembuh.

tak mau aku lari ke alkohol, tak pula pada narkoba. tak bisa juga ke seks bebas, oleh sebab aku tak suka terlalu dekat dengan perempuan sebayaku.

aku mulai menyayat.

satu kali, ku temukan pisau kecil di bilik mandi, dulu waktu kecil biasa ku gunakan untuk pramuka. saat ku buka seakan ia memanggilku, bisikannya seperti suara setan, namun menggiurkan.

ku tatap wajahku dan ku telusuri baik-baik dalam cermin itu. hati nuraniku terbelenggu, sehingga hanya pisau itu yang berbicara.

saat ku lihat cermin, seorang gagal terpantul di sana. monster buruk, mimpi kehancuran- betapa menjijikkannya bayangan itu! oh diriku begitu menyedihkan!

air mata mulai membasahi pipiku, lalu mengalir deras seperti air terjun niagara. pisau itu mulai menawarkan dirinya untuk menggores lenganku sedikit, sedikit saja, untuk menghilangkan rasa sakitku.

tanpa sadar, seperti aku di bawah kontrolnya, aku menyayat lenganku.

satu.

dua.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 05, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

buanganWhere stories live. Discover now