Part 1 Tuduhan Menyakitkan

3.7K 137 7
                                        

Ponsel yang kusimpan di atas meja bergetar, tanda ada pesan yang masuk. Kuraih dan membuka aplikasi chating.
[Aku sudah transfer uangnya.]

Kutarik napas, menghalau sesak. Pesan yang kuterima ternyata dari Mas Bara, mantan suamiku.

[Iya.Terimakasih,Mas.] balasku, yang langsung centang dua berwarna biru.

Terlihat di pojok kiri atas, Mas Bara sedang mengetik.
[Kalau Raka sudah pulang, beritahu. Aku ingin bicara dengannya.]

[Baik,Mas.]

Kusimpan kembali ponsel ke tempat semula. Menyandarkan punggung di sofa yang berada di kamar.

Entah mengapa, meski sudah resmi menyandang status sebagai mantan istrinya, aku masih merasakan perih saat teringat tentangnya. Ayah dari putraku.

Ini bulan ketujuh dia berada di negeri Samurai. Sekaligus bulan ketujuh pula aku menyandang status janda. Namun, tidak satu bulan pun Mas Bara lupa mengirimkan uang untuk Raka, putranya.
.
Raka sangat senang saat kuberitahu kalau ayahnya menelepon. Raut lelah sepulang sekolah berganti dengan binar bahagia. Dia bahkan mengalihkan ke panggilan video.

Kupandangi wajah duplikat Mas Bara itu. Ia tampak bersemangat saat ayahnya menunjukkan ikan besar yang berhasil ditangkapnya di sana. Melalui layar lima inci itu, ayah dan anak melepas rasa rindu, yang sebenarnya juga kurasakan. Raka terus saja berdecak, mengagumi ayah kebanggaannya.

Tidak ada yang berubah. Selain status pernikahan kami. Kasih sayang dan perhatian Mas Bara tetap tercurah untuk putranya. Raka pun tidak pernah merasakan ada sesuatu yang berbeda di antara kami. Karena memang sudah terbiasa menjalani kehidupan keluarga jarak jauh seperti sekarang.

Raka harus berjauhan dengan sang ayah, menahan rindu selama sepuluh bulan untuk bertemu ayahnya. Selama bekerja sebagai ABK, Mas Bara punya waktu dua bulan cuti di rumah. Sejak Raka dalam kandungan, pekerjaan itu dijalani Mas Bara, membuat kami terbiasa.

Namun, rasa rinduku tahun-tahun sebelumnya kini telah berubah. Rasa sakitlah yang kini menggantikan.

Sakit, karena tidak mampu mempertahankan rumah tangga yang sudah kami jalani selama delapan tahun.
.
.
Mata dengan tatapan tajam itu seakan menghujam. Mengintimidasiku yang juga sedang tersulut emosi.

"Katakan! Sudah berapa lama?" tanyanya dengan rahang mengeras.

Ini pertama kalinya aku melihat dia semarah itu. Namun, hatiku juga merasakan hal yang sama. Marah dan kecewa.

Bagaimana mungkin dia tega menuduhku sekejam itu? sedangkan kami saling mengenal lebih dari sembilan tahun lamanya.

Sekuat tenaga kutahan agar linangan air mata tidak tumpah. Rasa panas yang kurasakan juga mendesak agar berteriak.

Menyangkal tuduhannya.

Pinggan Retak (Aku tidak Selingkuh)Stories to obsess over. Discover now