Prolog

18 0 2
                                        

Gadis kecil itu menatap sendu rumah yang kini tak memiliki penghuninya.

Gadis itu ingin menangis, namun Dia juga berfikir bahwa keadaannya tak lagi sama. Dia dan sahabatnya tak lagi bersama. Hampir delapan tahun Dia bersahabat, belum pernah merasakan rasa kehilangan yang mendalam.

"Alea?". Ucap pria dewasa yang sedang menatap sendu gadis di hadapannya."Lian nitipin surat buat kamu". Pria dewasa itu menjulurkan surat berwarna biru.

"Lian gak bakalan balik lagi, Yah?". Ucap gadis berumur delapan tahun itu pada Ayahnya dan menatap surat di tangannya.

"Lian bakalan balik lagi kok. Tuhan itu maha adil, jadi kamu gak usah khawatir. Lian pasti dateng lagi kok". Ucap sang Ayah menyemangati putri bungsunya.

"Kita ke rumah sakit yuk? Jengukin Bunda". Gadis itu mengangguk mengiyakan ajakan sang Ayah.

sesampainya di rumah sakit. Ayah dan Anaknya terkejut, banyak sekali dokter yang menangani kamar milik seseorang yang mereka kenal.

"AYAAHH". Ucap seorang anak laki laki yang menangis sendu.

"Bunda kenapa sayang?". Ucap sang Ayah.

"Bunda tadi kejang kejang Yah". Anak laki laki itu menangis semakin keras.

"Ayah? Bunda juga bakalan ninggalin Alea, kaya Lian?". Sang Ayah yang mendengar ucapan anak bungsunya menoleh menatap anak anaknya sendu.

"Bunda gak papa kok, kalian yang sabarya". Sang Ayah memeluk anak anaknya yang menangis tertahan agar anak anaknya tak mengetahui.

tanggisan mereka terhenti setelah dokter yang menangani mendekat. Menatap sang Ayah dan menggelengkan kepalannya.

"BUNDAAAAAA". Ucap anak-anak itu yang mengetahui maksud sang dokter dan berlari menghampiri sang Bundannya.

🎲🎲🎲

Jakarta?

"Alea sama Mas Alatha gak mau pindah Yah". Ucap Alea dengan tegas sambil memegang tangan sang kakak.

"Iya, Alatha juga gak mau pindah. Nanti kalo kita kangen Bunda gimana?". Ucap sang kakak.

"Bunda tetep ada di hati kita, jadi kalo kangen Bunda, tatap aja Ayah. Karena Bunda ada di mata Ayah". Ucap sang Ayah dengan menahan tangisannya.

"Oke, Alea mau pindah. Tapi, Alea mau ganti nama". Ayah dan Kakanya itu melihat binggung.

"Kenapa mau ganti nama sayang?". Ucap sang Ayah.

"Bunda bilang kaya gitu Yah". Ucap Alea sambil merogoh kantung celananya dan mengambil benda di kantungnya."Bunda nitip ini Yah". Alea memberika benda itu pada sang Ayah.

"Tapi kenapa Bunda bilang gitu?". Ucap sang Kakak.

"Alea juga gak tau Mas". Jawab Alea pada sang kakak.

"Kalian bakalan tau. Jadi besok kita bakalan pindah". Ucap sang Ayah dengan diberi anggukan oleh anak anaknnya.

🎲🎲🎲

Jakarta. Kota terkenal kepadatannya, langganan banjir dan kemacetan yang luar biasa.

Di kota ini cerita mereka di mulai dan pengakuan mereka terkuak.

"Perkenalkan nama saya Alatha Nariana". Ucap gadis itu sambil tersenyum melihat sekelilingnya.

Di tempat lain, seorang pemuda tampan melangkah menuju kelas yang dibimbingi oleh seorang guru.

"Silakan perkenalkan diri kamu". Ucap sang Guru.

"Saya Devana". Ucap Devan dengan datarnya.

🎲🎲🎲

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 23, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

lotWhere stories live. Discover now