Kicauan burung yang menyapa senja bak irama melodi yang mengiringi suatu kepergian. Kepergian siang yang dihantar oleh senja menuju malam. Kepergian yang akan kembali terulang di keesokan hari nya, kepergian yang pasti akan terjadi berulang kali setiap waktu nya.
Di tengah peristiwa tersebut, ada seseorang yang menghayati setiap kejadian yang terjadi, mengamati dengan seksama kejadian yang setiap harinya pasti dia lihat, karena peristiwa ini mengingatkan nya pada seseorang.
Seseorang yang datang layak nya lembayung yang hanya singgah di ufuk barat dan pergi begitu saja setelah memberikan sejuta keindahan.
"Ra.. udah tuh ngelamun nya"sahut seseorang yang berada di ambang pintu kamar Aurora.
Aurora Putri Wijaya adalah anak bungsu dari 2 saudara. Fajar Putra Wijaya, kakak Aurora yang mempunyai sifat yang berbanding terbalik dengan Aurora yang pendiam dan jutek nya minta ampun, Fajar orangnya humoris dan friendly dan umur nya hanya setahun lebih tua dari Aurora, sehingga mereka terlihat seperti anak kembar.
Aurora yang lagi sibuk dengan pikirannya terkejut karena suara orang tersebut. "Eh.. Bunda.. aku dah siap ngelamunnya" jawaban Aurora seperti biasanya.
"Ra.. ngak seharus nya kamu begini "kata Bunda sambil berjalan mendekati Aurora.
Aurora hanya diam mendengarkan perkataan Bundanya.
"Sama halnya seperti yang kamu tatap tadi, dia begitu indah walaupun dia hanya datang untuk sekedar singgah lalu pergi begitu saja" kata Bunda sambil membelai lembut rambut sebahu Aurora.
Aurora cuma tertunduk dalam, dan pikirannya yang mulai berkecamuk, karena semenjak kejadian itu dia menjadi sering ngelamun ketika matahari terbenam.
"Bunda cuma ngingetin, kamu jangan terlalu larut dalam sebuah perasaan. Karena itu bisa membuatmu lupa sama cinta yang sebenar nya ,yaitu cinta kepada Allah ta'ala" kata Bunda yang mulai merangkul bahu Aurora.
"Bun.. aku mau sholat Maghrib dulu" kata Aurora yang menyembunyikan wajah nya yang telah dibasahi air mata .
Aurora berjalan menuju toilet yang ada di kamar nya sambil menunduk.
"Aurora.. semoga kamu bisa mengerti dengan perumpamaan bunda" gumam Bunda sambil berjalan keluar kamar Aurora.
***
"Wihhh , sunset nya rancak(bagus) ,den cekrek dulu lah" monolog Buyung sambil mengarahkan kamera ke obyek yang akan di foto nya.
Setelah dua kali cekrek, Buyung melihat hasil cekrekan nya. "Lumayan lah buat nambah koleksi" monolog Buyung.
Buyung kembali ke arah motornya yang terparkir di pinggir jembatan dan kemudian ia mengendarai motor nya tanpa menyadari ada keanehan yang sedang terjadi.
Dia tetap melajukan motor bebek nya dengan kecepatan standar. Dia memiliki motto dalam hidup nya 'biarlah lambat asal selamat' motto yang ditanamkan oleh kedua orang tua nya semenjak ia kecil.
Buyung adalah panggilan akrab nya. Nama lengkap nya adalah Lembayung Adinata anak bungsu dari tiga saudara. Ia memiliki Uda( abang) kembar. Amir Putra Dalimo anak pertama dari tiga saudara ia memiliki sifat yang kekanak-kanakan , padahal umurnya sudah menginjak 20 tahun. Arifin Putra Dalimo sesuai dengan nama nya dia seorang laki-laki yang bijak, dia cocok menjadi teman curhat. Mereka juga pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan nya di salah satu Universitas ternama di pulau Jawa.
Jadi, mereka adalah tiga saudara yang pergi meninggalkan tanah kelahiran nya untuk menimba ilmu sebanyak mungkin.
"Hmmm.. ada apa dengan mu wahai motorku?" Kata Buyung sambil berjongkok dekat motor nya.
-----------------------
أنت تقرأ
Siluet Kisah Cinta Sang Bujang
فكاهةBuyung Nama khas Minang ini sudah melekat, ibarat lem dan prangko. Nama aslinya sangat aesthetic itu sih menurut dia, ngak tau menurut penilaian orang lain. Lembayung Adinata, si bungsu yang punya seuprit kisah cinta yang ngak ada rasanya. Itu sih m...
