0.1

266 27 8
                                        

Hangyul nyaris kesulitan bernapas dengan benar. Hatinya mencelos pun dengan nyeri hingga terasa dikedua telapak tangannya. Isak lirih Sihoon-nya begitu menyayat hati meski sayup ia dengar.

Liquid seolah membakar bola matanya ia tahan sebaik mungkin. Menengadah sembari mengatur napasnya yang kian menyesak. Diketuknya pintu kamar utama rumah mereka sebanyak dua kali. "Sihoonie, kau didalam?" Bisik Hangyul penuh lembut dibalik pintu yang sebenarnya tak terkunci.

Sihoon buru-buru menyeka sungai dipipinya. Membilas wajah dengan air, mengeringkan wajahnya dengan baik sembari memandangi pantulan diri dalam cermin. Buruk, matanya memerah pun dengan hidung mancungnya. Jika begini upaya mengelabui Hangyul pastilah tak akan berhasil.

"Masuklah Gyulie, pintunya tidak terkunci." Jawab Sihoon akhirnya. Meraih novel tebal dinakas bersandar nyaman diranjang ;berpura-pura membaca. Sihoon berharap malaikat tidak mencatat kebohongannya untuk hal satu ini.

Hangyul masuk kedalam dengan langkah tenang. Tersenyum lembut menghampiri kekasih hatinya yang nampak tak terusik dengan hadirnya. Meski Hangyul tahu betul Sihoonnya tengah berbohong.

"Aku mengganggu waktu membacamu love?" Bisik yang lebih besar sembari merapatkan tubuh kepada si rambut caramel. Melingkarkan lengan kokohnya dipinggang ramping Sihoon dengan kepala yang terkulai dibahu si manis.

Sihoon menggeleng dengan lekungan senyum yang luar biasa manis. Menyempatkan diri mencium pelipis pria tampan yang nampaknya dalam mode manja. "Tidak sama sekali sayang. Membaca membuat mataku mengantuk." Balasnya sembari menyimgkirkan buku tebal dalam genggaman.

Hangyul tak menyahut lagi. Memilih mengusakan wajah pada perut rata Sihoon, menghirup aroma pelembut pakaian dengan perpaduan wangi yang berasal dari tubuh mungil tersebut.

Sebab perbuatan prianya, Sihoon mengundang kekehan tipis ditengah sunyi kamar keduanya. Membelai surai hitam sang suami dengan sayang. "Geli Hangyul-- hidungmu mengelitik perutku."

Hangyul tertawa jenaka. Beralih menciumi perut Sihoon dengan kedua matanya yang terpejam.

"Hangyulie merindukan baby sun?" Lirih Sihoon memandangi kegiatan Hangyul pada perutnya.

Hangyul mengangguk pelan. Tak dipungkiri seberapa besar ia menaruh rindu pada calon bayi mereka.

"Mau ke makamnya?"

Hangyul mengangkat wajah. Membingkai wajah manis istrinya, mengecupi kedua kelopak mata Sihoon yang bengkak. "Mari pergi mengunjungi Haeyong."

Sihoon tersenyum dengan angukan kepala beruntun. "Jangan menangis seorang diri lagi dear. Bersiaplah, kutunggu didepan." Pamit Hangyul beriring kecupan dipipi tirus Sihoon. Meninggalkan sosok yang diam-diam kembali meluruhkan tangis begitu dirinya meninggalkan tempat.

"Papa rindu Haeyong-ah."





➖➖➖







"Haeyongie, daddy dan papa pulang ya? Tidurlah dengan nyenyak putri kecil." Bisik Sihoon lirih sembari mengusap kotak kecil dimana abu calon bayi mereka berada. Memutar langkah meninggalkan tempat untuk menemui Hangyulnya yang menunggu diluar rumah abu.


Sihoon memandangnya sendu. Suaminya nampak tak menyadari kedatangannya, pria tampan itu tengah memandang lurus dengan pikiran melayang. Satu pemandangan yang sering kali Sihoon dapati ketika Hangyul berada ditempat sepi.


Rengkuhan dipinggangnya mengalihkan perhatian. Hangyul menunduk lantas tersenyum kemudian ketika mendapati Sihoon tengah memeluknya erat. "Kita pulang sekarang?"


Fallin' Flower ;Lee Hangyul + Kim SihoonStories to obsess over. Discover now