PROLOG

17 3 0
                                        

Derung pesawat terdengar menandakan penerbangan Australi Airlines telah lepas landas. Sekarang Cahaya diserang kebimbangan dan kerancuan, dia menangis sambil memandang sayap kanan pesawatnya yang terus menerus menghantam cumulunimbus tanpa ampun. Dia membiarkan air matanya terus mengalir membasahi pipi kanannya.Yaa hanya pipi kanannya...

Kepala pusingnya memaksanya mengingat sesuatu yang membuatnya pernah merasa begitu bahagia sekaligus ambigu, hati kecilnya yang rapuh dan retak bisa hancur kapan saja sesuai kehendak Yang Maha Pengasih. Baling-baling yang berputar kencang seakan menghipnotis dirinya untuk membuatnya melupakan penyakit yang diidapnya begitu lama.

Sedunya menjadi dzikir, isak nya menjadi tasbih, desis nya menjadi tahlil yg terus dilafalkan nya untuk terus mengingat Allah. seakan meminta kepada Yang Maha Penyayang untuk mengurangi rasa sakit dimata kirinya, air mata kanannya menjadi saksi kenangan yang tak ingin diingat nya.

Tangisan demi tangisan, Cahaya menangis tanpa henti-hentinya, kepalanya pusing, dalam lamunan hangat dibalik selimut berlambang burung yang menutupi tubuhnya yang rapuh itu

dia pun tertidur, sambil terus menggenggam secarik kertas ditangannya...

Cahaya ImanWhere stories live. Discover now