Episode 1 - Pilot

9 0 0
                                        

"Woy Bro, kantin yo, haus nih," seruanku pada salah satu teman dekatku. Bisa dibilang sahabat sih, bahkan sudah kuanggap sebagai saudara.

Teriknya matahari membuat tenggorokankuterasa meronta-ronta ingin menerima asupan cairan manis rasa apel yang bersuhu kurang dari 4°c itu

Saat ini aku sedang berjalan menuju kantin kampus. Tiba-tiba  temanku menepuk pundakku sembari berkata,

"Ah, kamu pergi aja Bro, aku ada urusan."

"Urusan apa lagi? jangan buang waktu lah Bro, aku sudah mau pingsan nih. Kamu mau tahan  gak kalau aku pingsan di sini," kataku menakuti.

"Eh, jangan lah, malu-maluin aja. Yang ada, kalau kamu pingsan di sini, mending aku cabut tinggalin kamu," katanya.

"Yaudah, kamu temanin aku, aku traktir. Gimana?" Bujukku semakin meyakinkannya. Jangan sampai aku benar-benar pingsan saking hausnya seperti aku baru saja mendaki pegunung himalaya tanpa istirahat.

"Nah gitu dong," ucapnya sambil tertawa jahat seakan memanfaatkan kebaikanku. Padahal aku gak baik. Seandainya aku baik, mungkin aku sudah punya puluhan mantan pacar. Lah, ini aku cuma punya satu mantan. Itupun pacarannya cuma sehari. Tapi aku gak terlalu berharap jadi baik sih. Yang penting aku bisa menikmati hidup ini. Yah, itu prinsipku pribadi.

Oh iya, namaku Renaldi Assegaf, biasa disapa Renal. Aku adalah salah satu siswa yang duduk di kelas 11 di salah satu sekolah di Kolaka. Aku ambil jurusan IPA. Kenapa aku ambil jurusan IPA? Yah, karena aku suka aja. Aku suka IPA sejak kelas 2 SMP. Itupun karena aku dipilih untuk ikut Olimpiade Sains tingkat Wilayah dan syukur bisa lolos ke tingkat Kabupaten. Walau sayang aku gak lolos ke tingkat Provinsi. Nah, makanya aku ambil jurusan itu. Karena aku pikir IPA itu hebat, bisa mendalami masalah kehidupan, makhluk hidup, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar, partikel, menghitung kecepatan pergerakan suatu benda, luas dan sebaginya, bahkan kecepatan buah kelapa yang jatuh dari pohonnya pun dihitung juga.

"Bro, kamu punya uang dulu gak? Aku lupa bawa dompet nih. Ketinggalan di rumah, hehehe," kataku dengan tertawa aneh.

Oh iya, aku lupa. Dia adalah sahabatku. Namanya Ramzhal Fadli. Aku biasa panggil Ramzhal. Tapi aku biasa dengar dia dipanggil Rama oleh orang rumahnya.

"Yaelah Bro. Aku pikir kamu udah berubah," kata Ramzhal sambil geleng-geleng kepala.

"Yaudah, nih bayar sono," sambungnya sembari menyodorkan uang senilai 20.000 ke aku.

"Hahaha, bentar deh aku ganti Kok," kataku.

Aku pun berjalan ke mbak kasir. Tiba-tiba aku melihat ke luar lewat jendela Melinda berjalan menuju kantin bersama temannya. Aku segera menyelesaikan pembayaran lalu jalan menuju Ramzhal.

"Hey Bro, tadi aku lihat si Melinda," tegurku sambil menepuk pundaknya Ramzhal kemudian duduk kembali.

"Hah, mana? Yang benar aja kamu," kata Ramzhal dengan nada kaget seakan tak percaya.

Melinda itu sebenarnya gebetannya Ramzhal, dia adalah siswi jurusan IPS kelas 11. Dia adalah siswi baru di sekolah ini. Dia wanita yang sangat cantik. Wanita kedua tercantik di sekolah ini. Yang pertama itu Fira Mayasari, teman sekelasnya juga sih, bahkan sahabatnya. Mereka kalau jalan pasti selalunya bersama. Namun sayang, wanita tercantik di sekolah itu sudah ada yang punya.

Aku melihat Ramzhal yang melihat ke belakangku seakan ada seseorang yang berjalan mendekati kami.

Aku pun berbalik, dan ternyata benar. Saat aku berbalik, di saat itu pula Melinda melihat gua. Dia bersama Fira dan temannya yang lain.

"Eh, Renal. Apa kabar?" Tanya Melinda yang ternyata sudah ada di samping kami sedang berdiri.

Walaupun siswi baru, kami sudah mengenal Melinda sangat dekat, soalnya dia juga teman kami waktu SMP. Sebenarnya aku juga bingung, kenapa Ramzhal baru ada perasaan sama Melinda. Ataukah mungkin dia sudah ada perasaan sejak dulu, hanya Ramzhal belum menyatakan perasaannya?

"Eh Melinda, Baik. Kamu?" Jawabku yang kemudian bertanya balik.

"Iya, aku baik," Jawabnya.

"Eh, ada Ramzhal juga. Dari tadi yah?" Sambung Melinda yang menoleh dan bertanya pada Ramzhal.

"I-i-iya nih, baru aja mau balik," jawab Ramzhal dengan gaya bicaranya agak gugup. Aku hanya bisa tertawa tak bersuara melihat tingkah si Ramzhal.

"I-i-iyi nih, biri iji mii bilik," kataku mengejek Ramzhal dengan bibir bawah gua majuin, walaupun si Ramzhal sendiri tidak mendengarnya.

"Oh iya. Kalau begitu aku ke sana dulu yah, teman-teman udah nunggu tuh," kata Melinda berpamitan.

"Oh iya iya," kataku dan Ramzhal.

Melinda pun berlalu menuju ke sebuah meja kantin yang sedari tadi temannya sudah menunggunya. Aku dan Ramzhal pun juga berdiri meninggalkan kantin menuju parkiran.

"Cieeee..., yang tadi gugup di depan Melinda," kataku mengejek Ramzhal.

"Ah, apaan sih. Tadi itu aku cuman anu," kata Ramzhal mengelak.

"Eleh, anu apa? bilang aja kalau kamu tadi sal...," Kataku yang tiba-tiba dipotong oleh Ramzhal.

"Eh, tapi kok tadi dia cuman nanyain kabar ke kamu, gua tidak. Lu ada perasaan yah sama dia?" Cerutunya seakan menyalahkan dan menganggap aku punya perasaan dengan Melinda.

Tiba-tiba Ramzhal berhenti dan menepuk pundak gua. Aku pun berhenti.

"Heh, kenapa lu tanya ke aku? Yang nanya kan Melinda. Aku cuman jawab aja pertanyaannya. Masa aku mau diam aja. Dikira nanti aku tuna rungu. Lagian aku gak ada perasaan sama si Melinda itu. Aku juga punya selera kali," kataku menjelaskan kesalahpahaman Ramzhal.

"Siapa tau aja, kamu ada perasaan sama dia," katanya dengan wajah khawatir.

"Gak lah Bro. Balik aja yok, aku dah capek," kataku sembari merangkul pundak Ramzhal menuju ke Parkiran motor.

Sebenarnya Ramzhal itu orangnya sedikit sensitif dan tampak seperti terlalu mempertahankan egonya. Sekali dia dapat cewek yang disukainya, dia akan memperjuangkan sampai dia mendapatkannya. Tapi yah, walau begitu dia cepat bosan dengan satu cewek. Tapi kalau gua lihat, sepertinya si Melinda ini beda sama cewek lain.

"Duluan Bro," kata Ramzhal berpamitan ke aku.

"Yoi."

Ramzhal tinggal di salah satu kost terdekat dari kampus. Jadi makanya dia sampai duluan. Sedangkan gua tinggal di rumah. Sekitar 2 KM dari kampus.

***

Di malam dingin, bulan purnama bagaikan lampu yang menyinari sebagian permukaan bumi, membawa suasana tenang dan tentram.

Bruuuuuuaaaaakkkk...

Terdengar suara keras yang membuat orang di sekitarnya jadi terkejut. Ternyata suara dua mobil yang saling menabrak satu sama lain.

"Waw, aku suka cerita ini," ucap Alvy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berdecak kagum menyaksikan film favoritnya.

Saat ini aku dan Alvy duduk di sofa kamarku sambil melakukan kebiasaan kami, nonton tv.

"Tapi aku masih kurang puas dengan pemerannya yang satu itu. Masih kaku," sambungnya mengomentari film yang baru saja dikaguminya sambil menunjuk salah satu pemeran yang ada di film itu.

"Kalau begitu, kamu aja yang main di film itu. Pasti lebih seru," kataku bercanda menantangnya.

"Gak ah," balasnya menolak sambil beranjak dari sofa kemudian mengambil sepatu dan memakainya.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Eh, kamu mau kemana?" Belum sempat Alvy menjawab, pertanyaanku berubah saat melihatnya menggunakan sepatu seakan mau pergi.

"Pulang," jawabnya.

"Tapi kita selalu menghabiskan malam bersama," kataku.

Alvy adalah seorang wanita yang juga sahabat kecil gua.

.
.
.
.
.
Bersambung dlu guys... Lagi ada masalah. Sebenarnya part 1 nya masih pNjang v:

See you... Jngan lupa voment. Ok???

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Sep 27, 2020 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

Turn ArroundLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora