Rumah itu kosong. Lama tak terurus sampai-sampai membuat beberapa cat dindingnya mengelupas. Tumbuhan liar memenuhi halaman depan, tumbuh tinggi hingga sepinggang orang dewasa. Sekilas dilihat, rumah tersebut seperti menyimpan banyak aura hitam dan berbagai jenis makhluk halus. Tetapi, semenyeramkannya rumah tua tersebut, di tengah-tengah halaman rimbunnya ditumbuhi satu pohon mangga berdaging manis. Anak-anak sekitaran komplek sering mencuri-curi masuk ke halaman, kemudian memanjat pohon mangga. Tidak ada yang melarang, semua orang bahkan boleh memetiknya tak terkecuali Aaron.
"Dikit lagi, ayo!"
Sekuat tenaga Aaron mengulurkan tangan, mencoba menjangkau si buah mangga ranum yang menjadi permintaan Andrea.
Aaron mendesah, keringat membanjir sampai kaos tanpa lengan yang dia kenakan basah. "Nggak bisa, nggak sampai tangannya."
"Masa mangga satu aja nggak dapet? Usaha, dong!" Sebelah kaki Andrea menghentak. Ia tak peduli seberapa beratnya perjuangan mendapatkan mangga tersebut, yang jelas Andrea mau bayi dalam perutnya berhasil mencicipi nutrisi dari si mangga.
"Aku pulang ambil tangga dulu."
Andrea melotot. "Lama! Udah kamu di situ aja, Mas!" Sambil menahan rasa merinding karna aura si rumah tua, Andrea memilih mencari alat yang bisa digunakan Aaron.
Hati-hati Andrea menerobos tanaman liar yang tingginya hampir menutupi perut buncitnya. Mengintip ke sana-sini, Andrea tak menemukan satu pun tongkat atau sesuatu yang panjang.
"Andrea! Jangan jauh-jauh!"
"Sst! Kamu jangan berisik, nanti hantunya keluar terus nempel di kamu, aku yang repot!" Dengan mata melotot galak pada Aaron yang masih berada di pohon mangga, Andrea akhirnya menemukan sebuah tongkat besi di samping pilar rumah.
"Cepet bawa sini!" Kekhawatiran muncul pada Aaron. Tentu saja dia tidak mau anaknya yang baru akan lahir minggu depan, justru diganggu oleh makhluk halus dari rumah tua. Masih berada di atas pohon pun, dia menatap setengah takut pada Andrea yang membawakan tongkat besi.
"Nih, ambil dua, ya."
"Satu aja cukup!" Aaron mengarahkan tongkat tadi ke mangga incaran, sekali dorong pun, mangga tersebut jatuh dan dengan sigap ditangkap oleh Andrea.
"Lagi!!" Andrea tersenyum sambil mengacungkan si mangga ranum. Sekilas ia membelai perut buncitnya dengan bibir sengaja dimanyunkan. "Anak kamu yang minta, masa nggak dikasih??"
Wajah Aaron mengernyit. Kaki dan tangannya sudah gatal digigiti semut, tapi Andrea masih saja tak pernah merasa puas. Aaron sempat berpikir kalau semua ini adalah kebiasaan yang terlambat. Andrea nyidam di usia kehamilan sembilan bulan. Benar-benar membuat Aaron kalang kabut dan harus rela menahan ketakutan terbesar pada apa yang dinamakan roh halus.
Sial seribu sial. Kalau boleh memilih, Aaron justru dengan senang hati mencarikan Andrea mangga berdaging super manis paling mahal di dunia daripada harus memetiknya sendiri, memanjat pohonnya sendiri hanya mengenakan celana kolor sepaha dan kaos tanpa lengan. Belum lagi, pohon mangga tersebut ada di tengah-tengah halaman rumah tua yang berhantu.
Suara genting jatuh terdengar keras membuat Aaron berjengit kaget. Setengah menggeram dia turun dari pohon. Merosot sedikit demi sedikit kemudian melompat setelah ketinggiannya hanya satu meter. Dia tidak peduli Andrea akan marah besar setelah ini, yang jelas suara genting jatuh tadi diyakini Aaron sebagai kemarahan si penghuni tak kasat mata, karna Andrea lancang mengambil si mangga manis.
Mulut Andrea terbuka lebar. Ekspresinya datar melihat Aaron buru-buru turun dari atas pohon. "Mas, mangganya kurang satu!"
Aaron menggeleng kecil, dia menarik lengan Andrea dan mengajak sang isteri meninggalkan halaman rumah tua tersebut.
VOUS LISEZ
• That Somebody's Me! •
Romance(17/21+) [COMPLETE] dipublish 30 Januari 2019 - tamat 09 Mei 2020 POV 3 [ Darren & Keesha ] Sinopsis: Janji dari Lady Killer untuk membuat seorang wanita pendiam jatuh hati kepadanya sudah sering ditemukan. Saling mengejar cinta yang nyatanya hanya...
