Debur ombak yang menari-nari
menciptakan suara yang menenangkan siapa saja yang mendengarnya.
Diiringi hembusan angin yang membelai lembut pipinya yang kini sudah tidak basah lagi oleh air mata.
Mata yang tadinya terpejam,
kini terbuka dan menampilkan kilauan berwarna hazel dengan Indahnya.
Lekukan tipis di sudut bibirnya tercipta,
sorot matanya yang begitu hangat layaknya mentari yang mulai terbenam itu tak mampu menutupi keberadaan awan hitam di sekelilingnya.
Mata yang terus beradu dengan sosok di hadapannya membuat dirinya tak berpaling sedetik pun.
“maaf, aku terlambat”
Menjadi kalimat pemecah keheningan yang sempat ada.
Hanya senyuman manis yang ia terima dari sosok di hadapannya itu,
dan itu yang membuat hatinya bergetar seperti kali pertama mereka bertemu.
.
.
.
.
- Bitterlove -
hai haii.. Setelah sekian lama akhirnya aku kembali menulis. Ada banyak cerita yang ingin kubagikan pada kalian semua, apa kalian tidak penasaran? Keep support yaa jangan lupa like dan comment untuk masukannya huhuw🐥
YOU ARE READING
Bitterlove
Teen FictionThought we were meant to be thought that they're belonged to us And sure knowing that sometimes it gets hard In the end, with time everything will fade away and so will u, that was really sad. ©chocodear
