Disaat itu, langit bermandikan sinar bulan. Air terjun yang menghujani sungai.. terasa seperti bencana saja. Sinar bulan pun bukan sebagai sesuatu yang indah lagi. -Gea- (aku)
Kemah study, 2 tahun yang lalu
"Seseoraaaanggg!!! Tolong akk.. Bwahhh,, kumohoon!" pandangan kami bertiga serentak menuju hulu sungai dekat air terjun. Aku, Evan dan Laura bergegas menuju ke arah suara. Malam itu, Tanggal 5 Hari Kamis pukul 23.50,Siska Evangelista tewas tenggelam. Tak lama stelah menyadari bahwa itu adalah Siska, Laura langsung bergegas membawa tubuh Siska ke tepi sungai. "Percuma, men temen, Siska udah meninggal" ucapan Laura sketika seolah menyayat pikiranku. Siska.. mati? tidak diduga. Evan yang masih terkejut tidak bisa berkata apa apaa,dan ikut menangisi kepergian Siska.
Tak lama setelah kami menemukan Siska yg tewas tenggelam, Kabar kematian Siska sudah tersebar luas ke seluruh warga sekolah kami. Semua siswa menganggap bahwa hal terakhir yang menimpa mendiang Siska merupakan suatu kecelakaan. Namun,beberapa hari stelah tim forensik melakukan penyelidikan, polisi memungkinkan, kematian mendiang Siska bukanlah ketidaksengajaan. Melainkan dibunuh oleh seseorang. Namun, siapa orang yg tega membunuh Siska? Disaat itu, kami masih betah menyimpan tanda tanya terhadap kematian Siska malam itu.
Tanda tanya itu menuntun kami untuk memeriksa tempat kejadian kembali. "Pak polisi, bukankah Siska meninggal gara gara terpeleset lalu terbawa arus? Lantas kenapa bapak menduga bahwa ini adalah pembunuhan?" Ucap Laura menyela penjelasan yg sedang dilakukan pak polisi. "Bukan sebagai dugaan,tapi mungkin ini benar² pembunuhan. Mengapa?karna kemarin tim forensik menyatakan, bahwa terdapat sebilah pisau di dekat air terjun yang berlumur darah. Di leher korban juga terdapat sayatan. Stelah diselidiki, golongan darah korban dan golongan darah yang terdapat di pisau tersebut sama, yaitu O. Namun, tetap saja ini masih dugaan yaaa? , hahhahhha" jawab pak polisi sembari memberikan gurauan.
Teman² menatap dengan tajam kpada polisi aneh itu. "Tunggu dulu, kalau ini benar² pembunuhan, kurasa itu tidak mungkin. Karena saat kami bertiga berlari menuju ke sini, mendiang Siska masih sanggup untuk teriak meminta pertolongan. lalu, setelah kami sampai disini, tangannya masih sanggup bergerak. Jadi, urat nadi di leher nya tidak mungkin sudah putus. " Bantah Evan dengan analisanya secara halus. "Benar juga.. Kalau korban masih sanggup bergerak, berarti ini mungkin bukan pembunuhan." ucap pak polisi membenarkan analisa Evan. "sudah jelas kan? ini merupakan kecelakaan, kalian para polisi terlalu melebih lebihkan nya." tambah Evan sembari menaikkan kacamata nya yang turun.( Benar juga apa yg dikatakan Evan. Meskipun semua orang pasti juga bisa memikirkan itu sih. ) ucapku dlam hati..
Di tengah situasi tersebut, muncul satu analisa yang tak terpikirkan.
"Benarkah? Bagaimana kalau aku bisa menjelaskan bahwa itu memang sebuah pembunuhan?" Glekkk, satu suara itu memecah suasana. Semua mata berbalik arah ke seorang siswa yang sedang datang menuju posisi kami. Itu adalah Brian, seorang siswa jenius yang hebat dalam memecahkan masalah. Ia memang selalu muncul secara misterius ketika terdapat sebuah kasus. "Kau, Brian bukan? Sang pemakan kasus.. " tanyaku secara tiba tiba dengan tujuan menghidupkan suasana kembali. "Benar, aku Brian. Daripada basa basi, boleh aku langsung menjelaskan ini sekarang? " Jawab Brian dengan bahasa nya yang khas. (Sudah kuduga) *bisik ku dalam hati.
"Kau masih anak SMA, apa yang bisa kau jelaskan kpada kami,," Ledek pak polisi di depan semua orang kpada Brian. "Pssst, pak komandan,, itu adalah anak SMA sini yang viral kemariin, berkat analisanya yang luar biasa" bisik salah satu tim forensik kepada pak polisi. "Oh begitu?benarkh?syukurlah dia ada disini.pfft" balas pak polisi dengan gurauan keringnya lagi. "Ehem ehem, Ka-kalau begitu, s-silahkan saja,, " Setelah mendengar ucapan polisi tersebut, Dengan tak ragu, Brian mulai menjelaskan semua hal yang sebenarnya terjadi.
"Oke,, yang pertama, ini bukanlah sebuah kecelakaan. Walaupun yang dikatakan Si kacamata tadi merupakan alasan yang masuk akal, namun, ada satu hal lagi yang belum kalian sadari." Boom!! Smua menatap lurus ke arah Brian. "Apa maksudmu? Apa hal yang nggak kami sadari itu?"potong Laura dengan nada sewotnya menanggapi penjelasan pertama Brian. " Yah, sbenarnya banyak hal yang tidak kalian sadari di kasus ini. Nomor satu, apa alasan si korban mendatangi sungai ini? Tentu saja, ada alasannya bukan, Nomor dua, aku menemukan kamera profesional yang jatuh di dekat posisi korban terpeleset. Yang no.. " Sebelum Brian menyelesaikan penjelasannya, Evan yang terlihat sdikit emosi memotong penjelasan Brian.
"Tunggu dulu, terpeleset? Jadi, dia bukan sengaja dibuang ke sungai oleh pembunuh?" sela Evan secara tiba tiba yang dibalas dengan Brian yang kesal. "Bisakah kau tidak memotong analisaku?" jawab Brian dengan nada sdikit tinggi kepada Evan. "Kalau begitu, maaf. Tolong lanjutkan, " ucap Evan dengan nada merendah."Ku lanjutkan. Yang nomor 3 tadi, selain menemukan kamera itu, aku menemukan pola jejak kaki yang sama seperti pola alas sepatu korban pada lokasi yang samaa dengan kamera itu jatuh. Tentu saja, itu adalah jejak sepatu milik korban. Yang nomor 4, terdapat ranting kayu berlumur darah yang patah, di lokasi yang sama juga" jelas Brian dengan gairah analisanya yang khas.
"Jadi? Dimanakah lokasi ditemukannya benda itu? "
LANJUT? VOTE BINTANG DULUU😗MOHON MAAP KALO AGAK SUSAH DIPAHAMI YAA
VOUS LISEZ
DIBALIK KASUS INI
Mystère / ThrillerKematian Siska adalah sesuatu yang tak bisa dilupakan dengan mudah oleh sahabat sahabatnya. Hal ini terus melukiskan tanda tanya pada waktu itu. Kematian misterius ini disebabkan oleh kecelakaan? atau pembunuhan.. apapun kenyataannya, jika sudah di...
