Rahasia

729 34 0
                                        


( Aroma mistis dan romantisme pengantin baru dari sebuah perjodohan )

PART 1

"Aku tak rela, setetes pun benih dari keturunan Surya Wijaya jatuh di ranjang ini"

Anisa tiba-tiba terbangun dengan nafas memburu. Dipandanginya seluruh ruangan kamar yang redup. Tak ada siapa-siapa. Jam sepuluh tadi suaminya berangkat ke rumah sakit, karena ada pasien yang perlu dioperasi segera.

Mimpi tadi seolah nyata adanya. Seorang perempuan berkebaya kuning, memakai kain batik dengan rambut tersanggul, berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring. Wajahnya anggun khas wanita Jawa. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Tapi wajah itu terlihat pucat.

Apa maksud dari kata-kata wanita dalam mimpi tadi? Dan siapa wanita itu?

Detak jantung Anisa masih berdenyut tak beraturan. Dilihatnya jam dinding yang menempel diatas televisi. Denting jarum jam begitu terdengar jelas dan teratur. Waktu menunjuk jam dua pagi.

Sisi ranjang disampingnya masih kosong, Fahri belum pulang.

Anisa mengingat nama yang disebut perempuan tadi. Surya Wijaya. Bukankah itu nama ayah mertuanya? Beliau sudah meninggal dua tahun yang lalu. Saat dia belum menikah dengan dokter Fahri Wijaya. Ayahnya adalah sahabat dekat ayah Fahri. Makanya Anisa dan Fahri menikah karena dijodohkan.

Apakah perempuan dalam mimpinya tadi adalah Nyai Gadung Melati? Sosok mitologi yang konon katanya sebagai penunggu lereng Merapi. Tentu bukan. Sebab Nyai Gadung Melati menurut cerita berpakaian serba hijau. Sedangkan wanita tadi berkebaya warna kuning.

Nyai Gadung Melati digambarkan sebagai lambang kesuburan. Sosok mitologi yang berkarakter baik. Sebelum menyusul suaminya, Anisa sempat browsing tentang gunung Merapi. Tak sengaja dia membaca artikel itu.

Anisa menyingkap selimut dan melepas kaos kaki. Tanpa pendingin ruangan, suhu ditempat itu bisa mencapai lima belas derajat celcius di malam hari.

Baru dua hari ini Anisa menyusul Fahri untuk tinggal di villa keluarga di lereng Merapi. Kebetulan sebulan yang lalu suaminya baru saja pindah di rumah sakit milik keluarga, yang lokasinya tiga puluh menit perjalanan dari villa.

"Nis, kapan kamu menyusul suamimu? Pengantin baru kok tinggal berjauhan. Mama nggak sabar ingin segera menimang cucu dari kalian" kata Bu Suryo. Mama mertuanya beberapa waktu yang lalu.

"Nisa beresin dulu kerjaan di kantor papa, Ma. Beberapa hari ini, Nisa masih mendampingi pekerja baru yang akan mengambil alih tugas Nisa"

Sejak lulus kuliah, Anisa bekerja di perusahaan properti milik keluarganya. Kariernya yang mulai menanjak, harus dibiarkan kandas, saat dia memutuskan ikut tugas suaminya. Sebagai dokter di rumah sakit milik keluarga.

Tentunya ini adalah keputusan yang tepat. Bukankah seorang istri wajib berbakti pada suaminya. Walaupun suaminya itu sedingin gunung es.

"Nis, kamu jadi nyusul Fahri" tanya Mbak Rika disambungan telpon waktu itu.

Rika adalah istri dari Mas Faris. Kakak Fahri yang nomer dua. Mereka dokter juga, tinggal di Bandung.

"Hmmm... Ya, Mbak"

"Jangan lupa bawa jaket banyak-banyak. Menggigil kamu disana nanti. Tapi suhu disana bagus lho Nis, untuk pengantin baru seperti kalian. Bisa berkepit terus. Cepat juga nanti kalian berkembang biak"  Mbak Rika terkekeh diseberang.

"Bisa jadi tambah beku, Mbak. Es batu ketemu kulkas"

Mbak Rika semakin terkekeh. Dia orangnya memang periang. Makanya cepat akrab sama Anisa. Beda dengan Mbak Lena, istri Mas Fahmi, kakak Fahri yang pertama. Dia wanita pendiam.

Rahasia (Cetak Novel)Stories to obsess over. Discover now