Prolog [ Sunya ]

24 3 0
                                        

CATATAN
Semua tokoh, alur, tempat dalam cerita ini adalah fiktif belaka
______________________________

Bab 0
(Sunya)

[ Putri, Sumpah, Khianat ]

'Seorang Putri punya harga diri. Karena itu lebih baik mati dibanding tumbang berdiri'

______________________________


Merah, gelap, malapetaka. Benar-benar hancur dan berantakan. Benar-benar seperti tikus yang masuk dalam perangkapnya.

Lapangan hijau kini penuh oleh warna darah, para pejuang berpedang tumbang tergeletak di tanah tanpa nyawa. Tersisa beberapa orang, dan salah satu kaum itu yang hanya bisa diam membatu, menyaksikan seluruh keluarga dan kerabatnya gugur satu persatu.

Bayangan tentang perang yang baru saja terjadi dan usai dalam sekejap terulang-ulang di kepala.

"P-putriku...,"

Gadis itu langsung menyerbu tanah, menghampiri tangan sang ayah yang gemetaran.

Ia hanya bisa menangis, kepalanya kosong. Kini isi dari hati dan dirinya hanyalah kematian.

"Citra Rashmi..," panggil sang ayah. Sambil terbatuk-batuk tanpa daya, ia berusaha untuk tetap menunjukkan senyumnya.

"A-ayah.. Ayah..," lirihnya, terus memeluk erat tangan dari orang yang begitu ia sayangi.

"Maafkan..maafkan ayah," ujarnya. Suaranya kian pudar.

"Jangan ayah..," tangisnya semakin kuat.

"Pengkhianat itu. Janganlah seorang putri sudi mempercayai mereka. Di dunia ini, tidak ada yang baik.. Kecuali hatimu seorang," ujarnya serak.

"Kamu.. Ayah terlalu percaya. Ternyata curiga itu perlu,"

Tak lama, tangannya berhenti bergetar, begitu pula jantungnya, begitu pula napasnya, begitu pula hidupnya.

Ia pun meninggal begitu saja.

"Baiklah putri, pilihanmu tinggal satu. Ikut pasukan kami dan terima nasibmu,"

Citra Rasmi hanya diam. Ia menutup mata sang prabu perlahan, menunduk dengan penuh luka. Hatinya seolah teriris dan hancur berkeping-keping.

"Kalau kerajaanku hancur, aku juga hancur," bisiknya lirih.

"Cepat putri. Tidak baik membuat seorang raja menunggu, walaupun memang kepala dingin raja kami," desaknya maju mendekati sang putri.

"Seorang khianat tidak pantas untuk hidup. Tapi kalau memang iya demikian, maka aku tidak sudi hidup di dunia yang sama denganmu. Dengan kaummu! Dengan hinamu!" tegasnya. Luka yang dalam berubah menjadi amarah.

"Marahlah, setelah itu terima nasibmu," balas lelaki bertubuh tegap itu tanpa gentar.

"Lebih baik aku hidup selama 17 tahun dengan bangsaku, ketimbang berumur panjang di tanah yang busuk,"

Perlahan ia maju selangkah. Tak terbesit sekecil rasa takut pun dari mata tajamnya yang memerah.

"Ini sumpahku. Sampai kapan pun, kami tidak akan tunduk!" teriaknya lagi. Beberapa pengikutnya yang tersisa mulai mengerti akan ucapan dan tindakannya.

Sedangkan lawan mereka, hanya bisa menganggap remeh. Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang putri kerajaan yang masih berumur 17 tahun?

"Sampaikan pula salamku untuk sang Prabu. Sampai bertemu lagi, tidak sekarang. Mungkin di akhirat,"

Tanpa memberi tanda, sang putri langsung merebut senjata yang tergeletak di tanah, menusuk dada kirinya tanpa ragu, meninggalkan sekutu yang hanya bisa membeku sesaat.

Melihat itu, gadis-gadis lainnya ikut serta melakukan bela pati, menusuk jantung mereka demi membela bangsanya.

Saat itu juga, takdir berlanjut.

The Owner of The CrownHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora