"Buk. Ibuk."
Agus berlarian masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil istrinya. Sedangkan sang istri yang sedang sibuk mencuci piring di bagian belakang rumah, tergopoh-gopoh mendekati suaminya.
"Ada apa Pak teriak-teriak?" tanya Aminah, istri Agus.
"Bapak akhirnya dapat kerjaan, Buk. Jadi kuli panggul tetap di toko bangunannya Pak Yanto."
"Alhamdulillah." Aminah memeluk suaminya dengan erat. "Setelah sekian lama Bapak nganggur akhirnya Bapak dapat kerjaan lagi."
"Iya, Bu. Alhamdulillah. Kalau nanti penghasilan Bapak sudah lumayan, Ibu gak usah lagi kerja jadi tukang cuci ya, Bu."
Aminah menangis, terharu dengan rezeki besar yang tiba-tiba mereka dapat. Dulu, Agus sempat bekerja selama beberapa tahun sebagai tukang parkir dengan penghasilan yang tak menentu. Namun tiba-tiba ia harus kehilangan pekerjaan karena lahan parkirnya di ambil oleh preman kampung sebelah.
Agus sudah puluhan kali mencoba mencari pekerjaan lain, tapi ia tidak berhasil. Agus merasa tak tega jika terus-terusan melihat istrinya yang kelelahan, karena harus bekerja di beberapa rumah tetangga sebagai tukang cuci agar dapur tetap terus mengebul, dan Andi anak mereka bisa tetap sekolah.
Agus bahkan beberapa kali pernah ditawari pekerjaan sebagai kurir yang bertugas mengantar narkoba. Meskipun ia dijanjikan bayaran besar, tapi ia menolaknya. Agus tak mau memberikan nafkah haram untuk anak dan istrinya.
"Assalamualaikum."
Andi yang mengenakan seragam putih merah terlihat letih seusai pulang sekolah. Aminah segera menghapus air matanya dan mencium pipi Andi.
"Bu. Andi laper. Ibu masak apa?"
Aminah dan Agus saling pandang. Tak tega untuk memberitahu anaknya bahwa lagi-lagi mereka hanya makan dengan telur.
"Hari ini ibu masak telur dadar, Nak."
Terlihat gurat kekecewaan di wajah Andi yang baru duduk di kelas dua SD. "Yah, telur lagi."
"Andi harus bersyukur kita masih bisa makan," ucap Agus seraya mengelus kepala anaknya. "Besok, Bapak sudah mulai kerja. Andi gak perlu makan nasi sama garam atau bahkan sama telor lagi."
"Hore." Andi melonjak-lonjak kegirangan. Letih yang ia bawa pulang dari sekolah seakan sudah hilang. "Nanti kita makan ayam goreng ya, Pak."
"Iya. Nanti kita beli ayam goreng. Tapi untuk hari ini Andi makannya sama telur dadar dulu, ya. Nggak apa-apa kan?" pinta Agus sambil tersenyum.
"Iya, Pak."
"Ya, sudah. Sekarang Bapak dan Andi ganti baju terus cuci tangan. Nanti biar Ibu yang siapin nasi dan piringnya."
Aminah bergegas ke dapur menyiapkan tiga piring plastik dan mengaduk nasi setengah kilo yang ada di bakul. Satu buah telur dadar setipis kertas langsung ia bagi tiga agar cukup untuk lauk makan mereka.
Sambil memindahkan nasi ke atas piring, Aminah berdoa. Semoga pekerjaan baru Agus besok mendatangkan rezeki yang lebih baik lagi untuk mereka.
***
Aminah bergetar, ditatapnya selembar uang berwarna merah yang diberikan oleh Agus kepadanya.
"Ini gaji Bapak hari ini? Banyak banget, Pak."
"Iya, Bu. Soalnya kata Pak Yanto kebetulan hari ini banyak kerjaan," jawab Agus sambil duduk di atas tikar.
"Alhamdulillah. Ibu izin pakai uang ini untuk bayar hutang di warung Bu Ijah ya, Pak. Gak enak, hutang kita sudah menumpuk."
YOU ARE READING
Misteri Tumbal Pesugihan
HorrorAgus adalah seorang kuli panggul di sebuah toko yang menjual alat-alat bangunan. Namun, sejak pertama kali bekerja di toko itu, keanehan demi keanehan terus terjadi pada dirinya. Karena ternyata ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di sana. Hingg...
