Harapan

41 3 1
                                        

*Elvan POV

Kesempatan untuk terlahirnya manusia super di dunia ini hanya ada 1 : 200.000.000. Aku adalah yang 1 itu, yo namaku Elvan, aku seorang remaja berusia 17 tahun. Aku mempunyai kekuatan sejak kecil, namun belum diketahui oleh siapapun.

-28 januari 2027-

Hari ini adalah hari yang cerah, langit biru dengan adanya beberapa awan di dalamnya yang membuat dataran menjadi teduh. Aku berjalan menuju sekolah ku. Sesampainya di sekolah, aku selalu disambut di depan kelas oleh 5 orang sahabat masa kecil ku dulu, yaitu Regalio, Rano, Gabriel, Rika, Ila. Setelah beberapa jam pelajaran, akhirnya bel tanda istirahat pun berbunyi.

"Van ke kantin nyari kopi yuk" ujar Regalio.

"Gak ah, ku tunggu di tempat biasanya ya? dirimu ke kantin aja dulu sama yang lain" ujarku.

Sembari menunggu sahabat-sahabatku di rooftop sekolah, aku menatap langit dan bertanya-tanya pada diriku sendiri.

"Sebenarnya kekuatan yang kupunya ini digunakan untuk apa?, toh ya selama ini aman-aman saja tidak ada masalah". 

*seketika suasana menjadi hening, sebuah meteor tiba-tiba terlihat dan mengarah mendekat ke arah sekolah.

Meteor itu terjatuh tepat di lapangan sekolah dan menghancurkan sekitarnya. Seketika itu aku langsung berlari ke bawah karena aku khawatir dengan sahabat-sahabat ku yang mungkin ditengah-tengah perjalanan menuju rooftop sekolah terkena meteor tersebut.

"Semoga mereka baik-baik saja" Ujar ku sambil berlari menuruni tangga.

Setelah sampai di lapangan, aku mencari sahabat-sahabat ku.

"Dimana mereka?, apa mereka baik-baik saja?!"

*Kemudian aku mencari sahabat-sahabatku dengan terburu-buru dan panik. Lalu terlihatlah sebuah siluet dari dalam asap tersebut.

"R-regalio? A-apa itu kamu? Apa kamu baik-baik saja? Dimana yang lainnya?" Aku mulai sedikit resah.

Namun yang keluar dari kebulan asap tersebut bukanlah sahabatnya tapi sesosok makhluk bertanduk yang tinggi nya mencapai 2 meter, makhluk tersebut mengenakan jubah hitam, terlihat tangan dan wajah yang seperti hanya tengkorak dan daging saja dan kaki nya tak menapak ke tanah.

"A-a-apa itu?" Aku merasa sangat ketakutan.

"Elvan!" Teriak sahabat-sahabatku yang terlihat panik dan takut.

"A-a-apa itu?" Regalio menunjuk ke arah sosok itu dengan keadaan sekujur tubuhnya bergetar karena takut.

Sosok itu menoleh ke arah sahabat-sahabatku dan mulai bergerak, tangannya menunjuk ke mereka dan tiba-tiba muncullah beberapa makhluk yang keluar dari kebulan asap dan menyerang sahabat-sahabat ku.

"Aaarghh" Gabriel berteriak karena terkena lemparan batu yang dilempar oleh anak buah sosok bertanduk itu.

Melihat kejadian itu Aku langsung berteriak,
"Hey, kalian sebaiknya lari saja!"

"A-apa maksudmu?! Apa yang akan kamu lakukan?" Ila bertanya.

"Lebih baik kamu lari sekarang juga!." ujar Rika.

"Ya, A-aku akan menyusul kalian" Aku berkata seperti itu padahal aku tidak bisa bergerak karena sangat ketakutan.

Sahabat-sahabatku pergi membawa Gabriel yang terlihat lemas dan berdarah, setelah semua orang di sekolah tersebut mengamankan diri termasuk sahabat-sahabatku. Regalio yang membopong Gabriel bergegas mencari bantuan medis, sesudah menemukan bantuan medis, mereka menunggu kondisi Gabriel membaik.

*Writer's POV

*10 menit kemudian.

Sembari menunggu Gabriel tersadar mereka mulai menyadari kalau Elvan belum terlihat, seketika itu juga Regalio langsung berdiri dan berkata pada yang lain

"Rano, jagalah yang lainnya, aku akan masuk dan mencoba mencari Elvan."

"T-tapi, Bagaimana jika Elvan sudah mati? Bagaimana caramu untuk melawan mereka? Mereka punya kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa" Ujar Rano yang masih shock dengan keadaan ini.

"Hey! jangan bilang seperti itu, masih ada kemungkinan ia masih hidup." ujar Regalio dengan nada sedikit marah.

*duarrrr (Terdengar suara ledakan yang sangat keras dari dalam sekolah)

 "Apa itu?!" seluruh orang bertanya, terkejut dan semakin ketakutan.

"Hey Rano, sekali lagi tetaplah disini jagalah yang lainnya dirimu lah yang bisa ku andalkan saat ini, aku akan membawa elvan kembali." ujar regalio yang mulai kembali ke dalam sekolah.

Regalio berlari sekuat tenaga menuju tempat parkir yang berada di bagian belakang sekolah dikarenakan pintu utama untuk masuk ke sekolah tertutup oleh reruntuhan besar.

"Mungkin tempat parkir belakang sekolah tidak tertutupi oleh reruntuhan." pikir Regalio

 Dan benar, jalan masuk melalui tempat parkir menuju kantin hanya tertutupi reruntuhan sebagian jalan. Regalio berharap bahwa elvan masih hidup, Regalio tetap berusaha keras, puing-puing itu tak bisa menghalanginya.

Setelah melewati reruntuhan itu ia perlahan-lahan menuju ke lapangan sekolah melalui kantin, Regalio berhasil mendekati lapangan sekolah yang masih tertutupi asap tanpa ketahuan, namun asap yang lebih tebal karena ada ledakan yang terjadi beberapa waktu lalu. Regalio pun tak ada pilihan lagi selain memastikan keadaan sekitar dan menuju ke lantai 2 agar kondisi di dalam lapangan terlihat lebih jelas. Regalio berusaha menemukan Elvan yang belum terlihat, setelah beberapa menit ia mencari Elvan, ia melihat sebuah siluet dalam kepulan asap yang mulai memudar dan setelah kepulan asap itu mulai menipis, ia melihat elvan yang sedang berdiri dengan posisi siaga bertarung dan tubuhnya tak terluka sama sekali. Tanpa pikir panjang Regalio berteriak memanggil.

"Elvan!!, apa yang kau lakukan?! Apa-apaan pose mu itu! Apa yang kau sembunyikan dari kami?!." Regalio masih terheran-heran.

Elvan terkejut karena Regalio melihat ia sedang menggunakan kekuatannya.

"Setelah pertarungan ini selesai akan kujelaskan semuanya padamu, karena setelah ini masih ada harapan untuk tetap hidup tanpa takut dengan adanya makhluk-makhluk ini! " ujar Elvan.

Sambil sedikit tersenyum, Elvan berkata dalam hati kecilnya

"Ya, masih ada harapan".

Enjoy the story.

Kiranya banyak kurangnya, mohon kritik dan sarannya.

Jangan lupa vote dan komen ya

Terimakasih.

Beat DownStories to obsess over. Discover now