Hari itu aku sedang menikmati pameran karya seni, dengan cuaca sendu yang mendukung. Tak sadar rintik hujan mulai turun semakin banyak. Derasnya bersamaan dengan orang-orang yang berlari untuk meneduh.
Sementara aku terpaku. Melihat kepada seorang yang baik hati dengan payung birunya. Berparas indah dan hati yang lembut, rasanya ingin lebih lama dalam situasi seperti ini.
"Hei! Neduh yuk? Makin deras nih" Ia membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, ia tersenyum lalu meraih tanganku menuntun untuk berteduh.
Di depan kedai yang tutup ia membiarkan payungnya bersandar pada dinding kedai. Sekilas kutatap ia. "Makasih" Tak ada jawaban darinya.
"Suka seni juga?" Ia malah bertanya. Aku tersenyum lebih awal. "Tertarik" Jawabku.
"Besok ada pameran seni ga jauh dari sini. Mau ikut?" Tawarnya.
Aku menoleh ke arahnya. "Boleh" Senyumku mengembang. "Kalo gitu, aku boleh minta nomor kamu kan?" Aku terkekeh.
Belum sempat kujawab mukanya sudah memerah dengan gemetaran ia menggenggam handphone-nya. "Boleh kan?" Tanyanya ulang. Aku masih terkekeh menahan tawa.
Aku mengulurkan tangan bermaksud meminta handphone-nya. Ia malah terlihat bingung. "Handphone-nya?" Tanyaku.
Ia tersenyum malu lalu memberikan handphone-nya padaku untuk mengetik beberapa angka pada panel phone-nya. "Belum disave" Kataku mengembalikan handphone-nya.
"Namanya siapa?" Ia bertanya. "Ariana Grande" Jawabku. Ia terkekeh mendengarnya. "Serius" Balasnya.
"Aida" Kataku. "Lengkapnya?" Ia bertanya selesai mengetik.
"ALE".
"Oh.... cantik" Ia manggut-manggut. Refeks aku menoleh ke arahnya. "Ih ALE!" Sahutku sedikit merajuk.
Ia malah tertawa seiringan dengan dering pada handphone-ku. Buru-buru aku menggeser panel bergambar telepon yang berwarna hijau ke atas. "Halo?" Kataku biasa membuka percakapan.
"Oh, iya pak. Tunggu sebentar ya?" Aku menutup teleponnya setelah mendapat jawaban dari seberang sana.
Melihat kepada laki-laki yang memperharikanku sejak tadi. "Aku harus pergi" Pamitku. Ia menaikkan sebelah alisnya bermksud meminta kejelasan.
Aku membalasnya dengan senyum. "Duluan ya!" Segera kuberlari dengan tas di atas kepala untuk melindungiku dari hujan.
"Aida tunggu!" Aku mendengar panggilan darinya, namun sudah tak ada waktu lagi untuk berhenti dan berbalik arah.
Hingga rasanya ada payung yang memberhentikanku di tengah percikan air yang saling bersahutan karena tapakan kaki.
Aku mendongkak memastikan payungnya melindungi kepalaku dan siapa pemiliknya. "Kok berhenti? Udah ditunggu kan? Katanya, pria dengan payung biru tadi. Aku tersenyum, melangkah sejajar dan seirama dengan derasnya air yang turun dan kaki panjangnya.
Tepat di depan sudah ada mobil yang menungguku. "Makasih ya" Ucapku. Reaksinya masi pada pertama kali aku mengucapkan hal yang sama, ia tersenyum. Indah.
Hanphone-ku kembali berdering saat aku hendak melangkah masuk ke dalam mobil. Kuraih benda pipih dari dalam tasku melihat siapa yang membuatnya berdering. Nomor tidak dikenal. Tak peduli. Kembali kumasukkan handphone-ku ke dalam tas.
Sebentar kutatap ia sedang memamerkan layar handphone-nya di panel memanggil. Tak lama handphone-ku kembali berdering. Kulihat layar dan handphone-nya sekali lagi bergantian dengan hanphone-ku, kemudian aku melihat ia tersenyum. "Save ya!" Katanya. Kubalas senyumnya lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya.
Baru saja aku turun dari mobil tepat di depan kampus. Kulirik jam yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan pukul 15:17, itu artinya aku terlambat 17 menit.
Kalau sudah begini hanya ada dua pilihan, masuk untuk diusir atau menunggu kelas selesai dan menyusul pelajaran. Sepanjang jalan menuju kelas terus kupikirkan matang-matang pilihan itu.
Baiklah sepertinya aku memilih pilihan kedua. Menunggu kelas selesai lalu bertemu teman, meminjam catatnnya dan mengejar ketertinggalan. Entahlah, akhir-akhir ini aku sering sekali terlambat dan tertinggal banyak materi.
YOU ARE READING
Hari yang Sendu untuk Kamu Si Payung Biru
Teen FictionJika dua orang ditakdirkan bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal, mereka pasti bertemu Kata-katanya masih terdengar jelas di telingaku. Entah ia mendapatkannya dari mana, yang ku lihat ia mengatakannya dengan wajah yang bahagia. Pria...
