01. Stranger?

27 1 0
                                        

Hari itu hujan turun. Air itu mengalir cukup deras dari jendela kamarku. Embun tercetak jelas dari dalam jendela kamarku.

Aku sedang berdoa. Ibuku dulu berkata, "berdoalah ketika hujan turun maka doamu akan dikabulkan."

Menilik sedikit ke arah luar jendela lalu menatap langit sebelum menutup kedua mataku, aku mulai melantunkan doa yang selalu aku ucapkan, "Tuhan jika aku boleh memilih aku ingin memilih jodohku. Bisakah kau membuat Yoongi menjadi jodohku?"

Aku tertawa, lucu rasanya mengingat aku pernah berdoa meminta hal seperti itu.

Selalu doa itu, setiap hujan turun. Berucap dari balik jendela kamarku yang berwarna coklat.

Sekarang hujan sedang turun. Aku sedang tak ingin berdoa, lagi pula aku tidak sedang berada di depan jendelaku, tepatnya aku tidak berada di kamarku sekarang.

Sekarang tak ada gunanya lagi aku berdoa. Tuhan telah mengabulkannya. Mungkin?

Doaku terkabul. Aku memilikinya, pria yang kucintai. Aku menikahi Min Yoongi.

Tapi aku sadar satu hal, menikah bukan berarti seseorang menjadi jodohmu dan mungkin Tuhan tak benar-benar mengabulkan doaku.

Aku mungkin menikahinya tapi aku bukan jodohnya.

Aku masih mencoba membiasakan diri. Seminggu bagiku masih kurang untuk membiasakanku pada tempat baru. Tapi entah kenapa walau sudah lebih dari seminggu bahkan sebulan masih saja sulit.

Apa karna aku tidak nyaman?

Aku selalu susah beradaptasi, apalagi tentang tempat tinggal dan tempat tidur. Aku bahkan bisa terbangun hampir 5 kali setiap malamnya karna ketidak nyamananku.

Sulit sih tapi kenyataannya begitu.

Aku membuka sedikit tirai jendela kamar ini, mengintip langit dari balik jendela. Lantainya sedikit basah juga kursi dan meja yang terdapat di balkon ini juga basah karna cipratan air hujan.

Hujannya tidak begitu deras tapi anginnya cukup kencang sehingga membuat lantai sampai perabot yang ada di balkon menjadi basah.

Aku sedikit menyipitkan mata, menatap jam yang berada di atas meja sebelah tempat tidurku. Baru minus 2 padahal tapi rasanya sulit sekali melihat dari jarak yang tak begitu jauh ini.

00:21, hampir setengah 1 dan aku tiba-tiba terbangun. Kali ini bukan karna ketidak nyamanan atau karna aku mimpi dikejar oleh sekelompok zombie yang haus darah tapi aku hanya terkejut karna angin kencang yang sedikit mendobrak jendela dan menimbulkan sedikit suara gaduh.

Dia bahkan tak terusik sedikitpun. Tidurnya masih sama, posisinya menghadap ke jendela ini. Matanya tertutup, deru napasnya juga teratur.

Aku bahkan masih bisa merasakan sisa-sisa kebencianku terhadapnya bahkan saat ia tidak berbuat apa-apa seperti sekarang.

Aku bisa menatapnya, sebelumnya aku bahkan tak bisa menatapnya walau dari kejauhan, melihat wajahnya serinci ini. Jika aku ingin aku bisa menyentuh seluruh permukaan yang ada diwajahnya. Mata, alis, hidung, pipi bahkan bibir kecilnya itu.

Tapi aku takut. Aku takut jika aku benar-benar melakukannya aku akan mengeluarkan sebagian banyak yang aku sembunyikan, jika aku masih saja menyimpan sebagian cintaku untuk pria yang sekarang berbaring di depanku.

Aku kembali menatap langit melalui jendela kamar ini, menutup mata dan berbicara pelan sekali, "Tuhan aku ingin mencabut semua doaku, aku tidak ingin menyakiti diriku lagi."

..

"Itu makanan. Untuk dimakan bukan untuk dimainkan." Aku berhenti, sendok yang sedari tadi aku gunakan untuk mengaduk isi piringku kuletakkan lalu menatap lawan bicaraku. Wah ternyata dia memperhatikanku.

ComplicatedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang