Aroma kopi tercium hingga seisi rumah, turut menimbulkan kehangatan. Beginilah hari-hariku disetiap pagi. Membuat kopi tanpa meminumnya. Ya hanya untuk mencium aromanya saja. Bukankah itu aneh?
"Wini. Kupikir kau lupa dengan hari ini," teriak seseorang diteras luar. Rupanya dia adalah Rafa, teman dekatku.
"Lupa apa? Bukankah ini adalah free time ku?"
"Bahkan kaupun melupakan janjimu."
"Apalagi yang kulupakan Rafa? Sekarang aku sudah pandai mengingat."
"Sudahlah, pergi benahi wajahmu dan pakai baju yang bagus. 10 menit!" Rafa keluar dan mengelap mobil kesayangannya itu.
"Argh bahkan kau bertindak sekenannya," ucapku geram.
Mungkin rasanya tiada hari tanpa tidak bercekcok mulut dengannya. Aku lelah, tapi ini sungguh menyenangkan. Kurasa aku memang melupakan sesuatu, tapi aku sangat bersyukur dia menjadi pengingatku. Haha, dia seperti otak sampingan saja rupanya.
"Yaampun Wini! Kamu sangat lamban!" teriaknya dari bawah tangga.
"Iya iya, aku sedang menggunakan antingku. Sebentar yaa. Jika aku tidak tampil bagus, pasti kau akan memarahiku. Jadi tolong bersabar ya Tuan Pemarah."
"Baiklah-baiklah."
"Ayo kita pergi," aku berlari menuruni tangga dengan terburu-buru.
"O-ow. So beautifull."
"Kupikir kau akan memujiku lebih dari itu," kemudian kami tertawa bersama.
Rasa sepiku karena tinggal sendiri serasa terobati dengan kehadirannya. Bagaimana bisa kita tetap akur dan tertawa bersama saat kita dicibiri orang dengan kemesraaan kita yang tanpa status.
"Wini. Sebenarnya aku benci mengatakan ini. Tapi apa kau tahu? Aku tampan, sangat tampan, dan kau cantik, ya tidak sangat tapi hanya. Bukankah kita serasi?" Ucap Rafa memulai percakapan di perjalanan.
"Hahaha. Sudahilah gurauanmu. Aku tidak akan terbuai," jawabku santai.
"Sungguh. Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan tidak ada unsur lelucon didalamnya."
"Bagaimana jika hanya kujawab 'ya'?"
"..."
Skakmat. Rafa tak bergeming lagi. Mungkin ia sudah kalah telak jika aku lawan bicaranya.
'''''
-Kamis, 12 Oktober 20xx
Bagaimana bisa aku melewatkan hari ini tanpa menulis sepatah katapun dalam diary. Oh ya, hari ini aku lupa bahwa ada hal penting. Meskipun aku belum mengingatnya hingga sepenggal perjalanan, tapi ini sangat menyenangkan. Rasanya aku seperti kembali pada masa lalu. Masa yang dimana aku tidak sendiri, ada mama, papa, kakak, adik, dan yang lainnya. Setelah kecelakaan pesawat tiga tahun lalu, semuanya terenggut dengan sekejap mata. Aku sendiri, kesepian, menunggu kabar ditemukannya saudara-saudaraku. Dan ya, rupanya tak tertemukan sama sekali.
Tapi hari ini bukan waktunya untuk mengingat masa lalu. Hari ini aku terlalu bahagia, hingga tak dapat kutampung rasa bahagia ini. Aku tak sendiri lagi, aku memiliki teman dekat, Rafa. Dia pria yang baik, kupikir tak buruk jika berteman dengannya. Rasanya aku seperti kembali jika bersamanya. Aku bersy-
"Tulisanmu bagus. Tapi sayangnya, kamu harus berhenti menulis karena kita sudah sampai," ucapnya memberhentikan kegiatan menulisku.
Rafa turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untukku. Namun sayang, aku telah membukanya terlebih dulu.
"Kau terlambat Rafa," ucapku nakal.
"Masuklah lagi. Akan aku bukakan untukmu," titah Rafa.
"Sepertinya tidak perlu. Rupanya kau sangat minim pekerjaan ya. Haha."
