Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1

13 0 0
                                        

Kabut tipis menyelimuti pagi yang indah. Burung-burung pun menyambut dengan kicauannya. Aara terbangun dari tidurnya. Sesaat kemudian, Aara berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.

Ia menyambar roti selai yang berada di hadapannya dan langsung bergegas ke halaman depan rumah, menaiki sepeda gunung miliknya.

"Aara, kamu mau kemana?!" teriak Gen melihat yang melihat anaknya melesat begitu saja menuju halaman rumah.

"Hanya keliling komplek!"

Angin berhembus mengenai tubuh Aara lembut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Matanya mengunci sesuatu ketika ia mendapatkan pemandangan yang menurutnya menarik.

Ia membelokkan sepeda miliknya menuju sebuah rumah yang tampaknya belum lama ditinggal pemiliknya namun sudah menjadi rumah kosong. Aara memarkirkan sepedanya asal dan mulai memasuki rumah tersebut.

Kriikk, pintu kayu tersebut berdenyit ketika didorong perlahan.

"Tidak dikunci ternyata."

Aara mulai memasuki areal rumah tersebut. Dengan langkah perlahan ia memperhatikan setiap sudut rumah tersebut. Terdapat beberapa bingkai dengan fotonya masih terpajang rapih di dinding.

Jadi, rumah ini ditinggal pemiliknya? Bukan karena mereka pindah? Astaga siapa yang bilang mereka pindah.

Aara melanjutkan langkahnya menyusuri rumah tersebut. Hingga ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah tersebut.

Aara panik dan mulai berjalan menuju pintu belakang rumah. Berharap tidak diketahui dengan seseorang di depan sana.

Aara membuka pintu belakang, mengendap-ngendap layaknya seorang napi yang berusaha kabur dari sel nya. Aara yang awalnya berniat untuk melarikan diri, lantas mengernyitkan alisnya ketika matanya tidak mendapatkan sepeda miliknya terparkir di halaman depan rumah tersebut. Dirinya hanya mendapatkan sebuah mobil terparkir rapih di depan rumah tersebut.

Merasa ada yang aneh, Aara memperhatikan suasana sekitarnya.
Ia merasa heran ketika dirinya melihat orang-orang disekitarnya berpakaian layaknya trend fashion tahun 70-an.

Masa peduli dengan sepeda yang hilang begitu saja. Aara melihat keadaan sekitarnya. Ketika dirasanya aman, Aara langsung berlari menjauh dari rumah tersebut.

Aara menormalkan kembali lajunya disaat ia rasa lebih baik seperti itu daripada mengundang kecurigaan para tentangganya.

Aara mengernyitkan alisnya sekali lagi. Dirinya nampak bingung dengan tampak komplek nya yang terlihat sedikit berbeda sambil perlahan memelankan lajunya.

Ia melanjutkan jalannya menuju rumah. Aara tiba-tiba berhenti dan terdiam. Dirinya menatap arsitektur rumah di hadapannya yang 180° berbeda dari rumah yang dirinya kenal dan tinggali.

Apa ini benar rumahku? Batin Aara.

Aara mendongakan kepalanya untuk melihat nomor rumah. Ia mengangguk kecil dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Aara meraih knop pintu yang meanjang ke samping itu dan dirinya mematung untuk kesekian kalinya.

Bagaimana mereka mengubah semua ini begitu cepat? Bukannya tadi waktu aku tinggal knop nya gak bulat ya? Ah sudahlah, mungkin memang rusak.

the wayStories to obsess over. Discover now