Dibawah sinarnya rembulan, kita bertemu. Satu kata yang terlintas dibenakku saat melihatmu, cantik. Sayangnya, hanya kamu yang berhasil membuat kata cantik membagi dalam beberapa versi. Indah, salah satunya.
Ketika aku jatuh kedalam netra indahmu, seulas senyuman terpatri di bibirku. Aku menyukai bagaimana matamu menari indah didalam benakku.
Sekali lagi aku membagi fokus pesonamu pada rambut pirang yang tertiup angin malam. Melihatnya inginku elus lembut dengan jemariku.
Malam ini, aku tak bisa tak mengelak bahwa kau hebat membuat rahangku jatuh. Bahkan aku tak bisa mengerjapkan mataku sebelum akhirnya kau membuka suara.
Suara terlembut yang pernah kudengar. Dengan sekali tarikan nafas kau membuatku hampir gila.
Aku tahu, aku sadar sepenuhnya. Aku jatuh kedalam pesonamu. Pesona yang tak pernah kubayangkan sebelumnya pada orang asing sepertimu.
Aku menatapmu dari sisi cantik versimu. Cahaya dari matamu saat kau memandang bulan penuh bertabur bintang di langit kelabu berbinar penuh ketenangan.
Aku baru sadar bahwa pancaran cahaya yang keluar dari matamu itu adalah bulan kedua bagiku.