Prolog Rabu Sore.
Kalo boleh memutar waktu, bisa jadi gue bakal milih kuliah di fisip. Paling nggak ambil ilmu komunikasi lah. Alasannya gue lihat enak amat mata kuliah saudara gue yang jadi ketua fotografi di kampus kami. Eh kampus doi aja sekarang wkwk. Semoga segera balik deh dosen pemimbingnya dari study di LN katanya.
Tapi gak papa, setidaknya gue juga mempelajari bagian dari komunikasi. Yang paling penting malah. Bahasa. Haha. Hal paling utama, bukan?
Zahran. Laki-laki dengan postur tinggi kira-kira 165cm-an. Gatau gue ga ngukur juga. Dengan celana rapi model ajushi-ajushi yang tidak melebihi mata kaki. Pls, gausa bahas kaki. Secakep apapun doi jadi males gue liat kakinya. Rambutnya menuju gondrong. Gilesih definisi ganteng versi Mama gue. Kacamatanya bulat. Alhamdulillah, gue belum sefikrah, setidaknya sampai saat ini. Poni belah tengahnya dibiarkan begitu saja diterpa angin. Ngomong nya sambil ada ketawanya dikit di belakang. Yaela. Mas (itu loh ajang bergengsi di kabupaten/kodya) salah satu Kabupaten plat AA itu memang terlihat ramah. Jadi ya ga perlu baper lah diperlakukan seperti itu. Itu karakter cuy! Doi mengenakan sneakers yang gue tahu harganya dari merk itu. Tanpa kaos kaki! I like it. Gue jadi mikir, bener banget kalo ketua lembaga dakwahnya juga swag gini, gimana manusia² fisip nggak lihat keindahan islam? Masya Allaah. Darinya, gue dapet poin luar biasa.
Oke, sebenernya tokoh utama dalam hidup gue bukan si Zahran. Doi hanya salah satu laki-laki baik yang gue temui sore ini di perbatasan Karanganyar. Iya, acara walimahan ketua Formaiska. To be honest, nggak ada yang tau gue nyari suatu sosok di setiap orang yang gue temui. Hingga kembali ke Solo, tak ku temukan pada akhirnya. Its okey, just take your time. Im always believe in Allaah. Always.
Dzuhur berkumandang, hujan meronta kencang. Perjalanan harus dilanjutkan. Alhamdulillah, ada teknologi bernama mantel. Terpujilah yang menciptakan. Sudah lama tidak merasakan rinai hujan yang turun gemercik besar-besar. Meski sakit jika mengenai pandangan. Aih. Harus dijaga ya memang, pandangan ini. Seperti sepetik pelajaran di Rabu Sore ku, masih dalam Prolog yang sama.
"Kalian tidak pakai mobil saja? Hujan begini." Mudir kami, memberi ide yang sangat baik. Sesampainya gue dan my roomates sampai di Kadipiro, kediaman salah satu asatidz di Ma'had kami.
"Adakah ikhwan yang berkenan membawakan kendaraan saya, ustadz?" tanyaku takzim. Menghadap beliau. Padahal sederet ikhwan yang tak dapat ku pandang berjejer rapi di hadapan ku. Mana bisa aku melihat mereka yang sepertinya menunduk juga? Antara takzim dengan asatidz kami atau menghindari para tulang lemah yang berjumlah 3 manusia ini? Entahlah. Semoga Allaah selalu menjaga mereka.
Salah satu ikhwan mengajukan kesanggupan atas dari pengurus senior. Alhamdulillah. Kami menemukan solusi.
Kontak dan STNK berpindah tangan. Perjalanan kemudian dilanjutkan. Kembali lagi gue bertemu honda city ini berserta pemiliknya.
Ustadz Fery mengajak makan siang, tak baik rezeki ditolak; begitu prinsip kami. Di sela-sela potongan sirloin steakku, percakapan kembali dibuka lagi. Tentang rencana ke depan untuk kemaslahatan ummat, bagaimana mengupgrade ma'had serta diri kami, bisnis, dan lain sebagainya. Waktu berlalu hingga tak disadari semua piring telah kosong kecuali hot plate di hadapan gue. Astaghfirullah. Kebiasaan. Makan lama. Gue jadi gak enak hati.
"Mbak besok porsinya harus ditambah lagi loh karna habisin makanan anak juga." Tiba-tiba ustadz mengagetkan.
Belum sempat terjawabkan, ditambah okeh sang driver, "atau kalo nggak, besok tuh makan abis anaknya makan. Biar bisa ngabisin makan anaknya." Semua yang di meja itu tertawa. Gue? Tersedak. Pls. Kalimat ringan dua pria tersebut menampar gue. Gak main-main emang persiapan peribadahan seumur hidup itu. Makin kesini makin banyak hal yang perlu dipelajari. Nah contohnya, si driver kepikiran aja tuh untuk menanggapi ustadz. Kan beliau juga belum pernah mengalami wkwk. Tapi, makin kuat mental untuk menghadapi apapun kapan Allaah akan memberikan waktu. Bertemu siapapun, terhadap takdir apapun, biidznillah semua memang sudah menjadi kehendakNya. Sudah berapa syukur yang terpanjatkan hari ini? Makin jatuh cinta dengan Rabu
YOU ARE READING
Mumtahanah
General FictionSalah satu surah di juz ke 28. Teman-temanku mengatakan, juz yang paling berat dihafalkan. Aku, Mumatahanah. Perempuan yang sedang diuji. Ya, memang aku siap diuji di bumi. Sebagai konsekuensi pencarian ridha Ilahi dalam perjalanan ku menuju rumah s...
