Kembaliku bukan untuk mengenang masa lalu
Dilmora Na Nicholas
~DilFera~
Bandung,1 Januari 2020
Setelah tiga tahun lamanya dia meninggalkan kota kelahirannya ini, akhirnya dia kembali. Kembali ke kota yang mempunyai banyak kenangan untuknya, kenangan yang tadinya menyenangkan lalu berubah menjadi menyakitkan. Kenangan pahit yang membuatnya sangat terluka. Namun dia memutuskan untuk kembali hari ini, tiga tahun tinggal dikediaman neneknya setidaknya sudah sedikit membuat luka itu mengering
"Sudah sampai nona" suara sang supir membuat lamunannya buyar.
Dilma gadis remaja itu turun dari mobil lalu menginjak tanah pemakaman yang sudah lama tak ia kunjungi. Langkahnya tertuju pada nisan yang bertuliskan Reiki Altezza. Membaca namanya dalam hati saja hampir membuat Dilma menangis
"Kamu apa kabar" ucap Dilma pelan sambil mengelus nisan itu setelah sebelumnya meletakkan se- bucket bunga mawar
"Udah lama ya aku ga ngunjungin makam kamu, kamu gak marah kan sama aku" ucapnya kembali dengan mata berkaca-kaca
"Maaf, aku kangen banget sama kamu Rei" tangis Dilma pecah saat dia memanggil namanya,nama sahabat sekaligus orang yang dicintainya itu
"Aku pulang Rei, kamu baik-baik disana ditempat kamu yang sekarang" pamit Dilma dengan kata-kata yang sama setiap kali berziarah ke makam Reiki. Dilma beranjak pergi setelah menyeka air matanya
Hal pertama yang Dilma lihat setelah turun dari mobil selekas dari makam adalah rumah megah bercat biru dan abu-abu yang sangat sepi seolah tidak ada kehidupan didalamnya. Dia malas untuk masuk, karena dia tau hanya kekosongan yang akan didapatkannya dari rumah itu. Sambutan hangat kedatangan dari orangtuanya hanyalah sebuah harapan yang tak terwujud. Karna tadi saat diperjalanan ayahnya menelpon memberitahu bahwa beliau dan istrinya pergi ke London mungkin dalam jangka waktu yang cukup lama disebabkan cabang perusahaan disana sedang mengalami kesulitan yang luar biasa. Kecewa? Tentu saja, memangnya siapa yang tidak akan kecewa jika kedatangannya tak disambut sama sekali padahal orang tuanya telah berjanji akan mengajak Dilma pergi jalan bersama dihari pertama kedatangannya.
"Mari masuk nona" ucap sang asisten setelah membukakan pintu utama.
Dilma berjalan memasuki rumah itu dan berhenti ditengah ruangan
"Tak ada yang berubah" gumamnya lalu kembali mengikuti langkah sang asisten yang membawakan kopernya menuju kamar Dilma
"Sudah sampai nona. Silahkan masuk, besok sekretaris tuan Ragata akan kesini untuk membicarakan sekolah nona. Saya permisi" pamit sang asisten lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Dilma.
Dilma memasuki kamarnya yang didominasi warna biru muda, dia membaringkan tubuhnya diatas kasur Queen size-nya lalu menutup mata untuk beristirahat
Kedatangan Dilma dari Bali sudah didengar oleh tiga gadis yang merupakan sahabat Dilma sejak lima tahun yang lalu
"Nanti pulang sekolah, kita langsung otw rumah Dilma" putus gadis berambut pendek sebahu ber-nametag Dyah Angelina
"Boleh tuh, siapa tau dia dapet oleh-oleh buat kita" ucap Deli menyetujui
"Yaampun Del, kamu mah malah ngarepin oleh-oleh. Kalo aku sih bodo amat sama oleh-oleh yang penting bisa liat muka Dilma lagi" protes Dinda Agatha yang tidak senang dengan ucapan Delisia Sharista
"Kan sekalian Din" bela Deli
"Udah ah daripada ribut mending kita beres-beres, bentar lagi bel pulang bunyi tuh" ucap Dyah menengahi lalu bergegas membereskan bukunya.
Kebetulan kelas mereka sedang jam kosong karena guru matematika yang seharusnya mengajar dikelas XI-A itu ada kepentingan rapat diluar sekolah
Tring...tring...tring
Bel pulang berbunyi,mereka langsung bergegas keluar kelas menuju parkiran mengambil motor.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai dirumah Dilma. Sesampainya disana Dinda langsung memencet bel agar dibukakan gerbang, tak lama seorang satpam keluar mempersilahkan mereka masuk setelah mengetahui bahwa mereka adalah sahabat Dilma.
"Dilmaaaa" teriak Deli saat memasuki kamar Dilma, membuat sang empunya kamar kaget sampai hampir terjungkal dari kasur. Belum sempat Dilma turun dari kasur, dia sudah dipeluk oleh Deli,Dinda dan Dyah.
"Kangen" ucap mereka serempak
"Kenapa baru balik lagi sih" protes Dyah
"Tau tuh kesenengan disana sih, jadinya lupa sama kita" tambah Dinda yang diangguki Deli dan Dyah
"Apasih, aku mana bisa lupa sama kalian" sangkal Dilma
"Lagian kan kita tetep kabar-kabaran" lanjutnya membela diri
"Kamu bakal sekolah di SMA kita bertiga kan?" tanya Deli penasaran
"Iya dong biar bareng terus" jawab Dilma membuat tiga gadis itu bersorak senang
Obrolan mereka terus berlanjut hingga malam pun tiba tapi tak ada satupun dari mereka yang ingin mengakhiri obrolan yang sudah lama tak mereka lakukan.
Girls Four D itu nama persahabatan mereka yang didapat karena inisial nama mereka yang sama. Lima tahun silam saat mereka memasuki SMP, mereka bertemu satu sama lain dan entah bagaimana persahaban mereka masih tetap terjalin meskipun Dilma pindah waktu memasuki kelas delapan semester dua.
"Udah jam sembilan nih, pulang yok" ajak Dyah saat melihat jam yang melingkar ditangan kirinya
"Ayok lah meskipun masih kangen" timpal Deli dan Dinda sedih
"Gapapa, lusakan aku udah mulai sekolah"
Ucap Dilma menenangkan
Akhirnya Dyah, Deli dan Dinda pulang setelah berpelukan kembali dengan Dilma karena belum hilang rasa rindunya.
~tbc~
27 Desember 2019
ESTÁS LEYENDO
DilFera[Mingyu~X~Lisa]
Novela JuvenilPernah terjebak dimasa lalu kelam tapi akhirnya tetap bersama dengan seseorang dimasa lalunya
![DilFera[Mingyu~X~Lisa]](https://img.wattpad.com/cover/209723071-64-k374237.jpg)