Hati memang tak pernah bohong
Bahwa kamu masih lekat
Untuk cerita yang telah
Usai
-Jingga Altahera-
Author
Jingga masih memilah buku mana yang ingin ia pinjam dari perpustakaan. Ya, Jingga memang gemar berkunjung ke perpustakaan sekolahnya, bahkan hampir setiap hari ia kesana. Seringkali ia membaca buku-buku tebal yang berhalaman 500 ke atas dan menyelesaikannya dalam satu hari.
Bukan, Jingga bukanlah seorang kutu buku dengan kacamata tebalnya, bukan anak culun yang sering di bully temannya, bukan juga anak pintar yang selalu meraih peringkat satu di kelasnya. Melainkan seorang Jingga yang selalu melakukan hal yang ia sukai, sekalipun itu bodoh. Jingga juga adalah seorang yang berjiwa bebas, menyukai hal-hal yang berbau seni, Jingga bukanlah seorang yang menyukai keramaian, bisa dibilang ia adalah seorang introvert, tapi bukan juga seorang yang lebih suka memikirkan dirinya sendiri daripada orang lain. Hanya saja, ia tidak suka menghabiskan waktu untuk hal yang jauh dari manfaat.
Lama ia berkutat dengan deretan buku di depannya, tapi tak kunjung ia temukan buku yang pas dengan daftar buku kesukaannya.
Jingga membuang nafas kasar.'Gak ada buku baru ya, minggu ini?" tanyanya dalam hati. Ia masih fokus pada deretan buku di depannya.
Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada tumpukan buku yang baru saja di stampel perpustakaan SMA Bakti Husada, matanya terfokus pada satu buku, tertulis di sana judul yang menarik perhatiannya, 'semburat murung di wajahmu'.
Jingga langsung mengambil buku itu yang berada di lantai, seulas senyum tercipta di wajah manisnya. "kayaknya bukunya bagus." batinnya.
Karena sudah menemukan buku yang menurutnya menarik, jingga langsung menuju meja peminjaman sekaligus pengembalian buku perpustakaan.
Pak Basuki, penjaga perpustakaan yang sudah sangat hafal siapa Jingga Altahera. Ya, pengunjung setia perpustakaan hingga pak basuki hampir bosan melihat wajah Jingga. Namun sayang, wajah mungil Jingga yang hampir sempurna dengan mata cokelat minimalisnya, dan bibir kecil lalu alis tebal namun membentuk sempurna membingkai wajah Jingga dengan elok, ditambah senyuman dengan kedua lesung pipi yang membuat semua orang terkagum melihat ciptaan tuhan yang begitu sempurna.
"Selamat pagi, pak Basuki." sapa Jingga pada pak basuki disertai senyumnya.
"Pagi, Jingga."
Tak kenal waktu bagi Jingga untuk mengunjungi perpustakaan, bahkan pagi-pagi sekali ia sudah berada di perpustakaan.
Setelah menulis nama dan judul buku lalu tanda tangan pada buku peminjaman, Jingga langsung menuju kelas 12 MIPA. Ya, ini adalah tahun terakhir ia berada di masa-masa SMA, masa yang kebanyakan orang bilang adalah masa-masa indah saat remaja, dimana seorang remaja akan mengalami hal yang namanya jatuh cinta, patah hati, galau, lalu tercipta sajak-sajak baru dari pengalaman mereka yang merasakannya.
Memang tak dapat dipungkiri bagi Jingga, ia pun merasakan hal itu, merasakan hal yang asing bagi hatinya. Jatuh cinta adalah hal normal bagi manusia. Namun ia tak benar-benar yakin ini cinta, Karena kata orang tua, cinta itu hanya untuk seseorang yang akan menemani kita hingga tak lagi bernafas, atau sebaliknya kita yang mencintai dia dan menemaninya hingga dia tak lagi bernafas. Apakah pantas Jingga sebut cinta?, Pada seseorang yang tak lagi menggenggam erat tangannya, pada seseorang yang bukan lagi menjadi miliknya, melainkan orang lain?
Saat Jingga berjalan di koridor, matanya menangkap mata seseorang yang tak asing, mata yang dulunya menatap penuh kasih, sekarang hanyalah mata yang menatap penuh benci.
Jingga membuang nafas pasrah, berhenti berjalan lalu menatap ujung sepatunya.
"Kenapa kita harus kaya gini Alaska?, kenapa kita sempat pernah saling cinta lalu menjadi seperti dua orang yang sangat asing, sebegitu besarkah rasa kecewa lo sama gue?, gue minta maaf Alaska."
Jingga kembali mendongakkan kepalanya, sesak memang sudah menjadi teman, rindu memang sudah menjadi kawan. Tapi Jingga pun tau, sekeras apapun berusaha tetap tak ada ruang untuk mereka kembali bersama.
Hatiku memang tak pernah benar-benar menghilangkan rasa perihal kita, selalu ku tengok tempat yang ku sebut ruang tempat mengaduh rindu dulu. Ku biarkan kosong walau usang, nyatanya sesak selalu jadi teman. Bisakah kita kembali seperti dulu?
-Jingga Altahera-
-------------------
Hai! Hai! Hai! Readers! ❤❤❤
Gimana? Gimana? Penasaran gak sih sama cerita JINGGA ALTAHERA? kalo kalian penasaran, jangan lupa tambahin cerita ini ke perpustakaan kalian!, karena akan ada kejutan di masalalu Jingga dan Alaska. Jangan suka menebak-nebak ya ceritanya bakal gimana, karena akupun gak tau mau bawa cerita ini ke happy ending atau sad ending. Maka dari itu.... Jangan lupa tinggalin vote dan coment-nya supaya aku semangat nulis dan dapet inspirasi baru buat cerita ini!!!
Udah ah cuap-cuapnya hehe
Selamat berlibur!!
Love you readers❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Jingga Altahera
Teen FictionHati memang tak pernah bohong bahwa kamu masih lekat untuk cerita yang telah usai. -Jingga Altahera- Karena perasaan yang dibunuh mati tak akan bisa tumbuh kembali. -Alaska Magenta-
