#Zaara POV
"Kamu memang tak berguna! Hanya menyusahkan kami saja!" Umpat seseorang Itulah yang terdengar olehku saat berada di kamar.
Aku pun menuruni tangga, kudapati adikku tengah duduk tersungkur di lantai. Tampak luka di bagian jidatnya. Aku pun segera menghampirinya, sangat jelas sekali matanya tengah menahan air matanya agar tidak turun.
"Kamu kenapa dek? Hm?" Ujarku sambil menuntunnya duduk di sofa.
"Gapapa kak" Jawabnya dengan setengah tersenyum.
"Zar, sudah biarkan anak itu! Biarkan dia berpikir dan menyesali perbuatannya." Kata Papaku tegas.
"Dia masih kecil Pa, wajar jika dia jatuh karna bermain" jawabku sambil mengobati luka gadis 12 tahun itu.
"Harusnya dia mengerti dan tahu cara menjaga diri, mulai besok Kiara jangan pernah keluar rumah lagi!" Katanya sembari meninggalkan tempat.
"Tapi P..." Aku ingin membantah, namun tangan kecil adikku memegang pergelangan tanganku, memberi isyarat untuk aku diam.
"Kak, udah gapapa. Papa dari dulu juga gitu, Kia udah biasa kok. Kita gaboleh ngelawan orang tua oke?" Kata Kia enteng sekali.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu kami pergi ke kamar, bercerita tentang apapun yang menyenangkan.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu kamarku terbuka, ternyata itu mama kami. Sambil membawa dua gelas susu hangat.
"Loh? Mama udah pulang?" Tanyaku heran. Biasanya mama pulang jam 8 malam. Sedangkan ini masih jam 5 sore.
"Iya tadi pulangnya di cepetin sama bos nya, eh itu kamu kenapa Kia? Aduh kok bisa sih nak" jawabnya sembari menyodorkan dua gelas susu kepada kami lalu mengelus puncak kepala Kiara.
"Gapapa ma, cuma jatuh dari sepeda terus kia kebentur batu doang" jawabnya santai sambil meminum susunya.
"Liat tuh ma, Kia kok bisa sih sekuat itu. Abis jatuh malah ga nangis. Kalo aku mah paling udah ngejer nangisnya" Kataku dengan mencubit kedua pipi adikku itu.
"Ya bisa dong kak, kan Kia calon tentara. Jadi ga boleh cengeng dan ga boleh lemah" Ujarnya dengan gaya sok tegasnya.
"Oh ya? Tentara kok pendek gini, mana kurus lagi" Sahut mama sambil terkekeh.
"Kia besok tinggi kok, gemuk juga, sekarang Kia masih kecil. Jadi ya gitulah." Sahutnya tak terima.
"Yaudah itu diminum susunya sampe habis, biar cepet tumbuh jadi tentara" Mama mencium kening Kia dan tak lupa memeluknya dan memelukku. Kemudian mama pergi meninggalkan kamarku.
"Kak?"
"Iya Kia?"
"Denger ngga?"
"Denger apaan?"
"Oh gajadi deh, ehehe"
Aku menatap bola mata adikku itu, dia nampak serius tadi. Namun tiba tiba ia seperti berusaha berhumor.
"Gausah nakut-nakutin kakak ya" Aku menyatukan alisku.
"Tadi ada suara kak, kea kuntilanak gitu kak" jawabnya mulai menampakkan wajah serius lagi.
"Hah? Yang bener?"
"Tapi...."
"Tapi apa Kia?" Aku semakin penasaran.
"Tapi boong, wlekk" aku memasang muka kecewa. Sedangkan Kia menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu menutupi badannya dengan selimut.
"Hadee kamu mah" aku pun ikutan tidur di sebelah Kia.
#Author POV
Keesokan paginya seperti biasa, Zaara mengantarkan adiknya pergi ke sekolah dengan scoopy-nya. Setelah itu baru ia pergi ke sekolahnya.
Sudah 5 bulan Zaara sekolah itu. Tak ada yang menyenangkan baginya di sekolah barunya. Dia hanya punya satu teman dekat namanya Vara. Bagi Zaara cukup satu teman yang mengerti dirinya itu lebih baik daripada memiliki banyak teman namun hanya untuk memanfaatkan dirinya.
"Zar! Woi ngerti gak lu? Ada murid baru nih? Abis dari pondok. Ganteng euy katanya." Zaara yang baru saja duduk di bangkunya hanya mengangguk sambil menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Eh ganteng euy, kok lu b ajh sih mukanya" katanya antusias di sebelah Zaara.
"Inget pacar lu" kata Zaara santai.
"Oh iya lupa, maap. Kalo liat cogan bawaannya pen lupa ma pacar sendiri." Ujarnya sambil nyengir kuda.
Selamat pagi semuanya! Maaf bapak dan ibu guru yang berada di kelas. Panggilan untuk seluruh anggota OSIS dimohon untuk segera berada di ruang OSIS sekarang.
Mendengar hal itu dari sound kelas, Zaara berdiri bersama beberapa temannya yang tergabung dalam anggota OSIS juga.
"Yah sayang sekali, lu ntar gabisa liat cogannya ngenalin diri depan kelas" ledek Vara teman sebangku Zaara itu.
"Bodoamat gue mah" jawab Zaara lalu pergi meninggalkan kelas.
#Zen POV
Hari ini hari pertama gue masuk sekolah baru gue. Seneng banget gue bisa pindah dari pondok. Gue emang alim sih, tapi kalo masuk pondok monmaap itu bukan kemauan gue. Tapi ustadz gue yang nyuruh, alias bapak gue.
Gue sekarang jalan sama guru cakep gess, masih muda lagi. Pengen ngepacarin:') eh gajadi deng. Gue harus jaga image bapak gue sebagai ustadz. Ga boleh pacaran oke! Kalem dulu masih minta duit ke orang tua akutu.
Percaya atau nggak gue tuh belum pernah nyobain yang namanya pacaran tuh kea gimana, palingan gue cuma ngedeketin cewe cewe tapi ga ngasih kepastian. Ererere..
Pas gue mau masuk kelas beberapa gerombolan keluar kelas, dan salah satunya? Sepertinya gue pernah kenal. Tapi lupa namanya.
"Woi!" Spontan aja ya kan gue teriakin tuh gerombolan. Pada noleh semua, tapi malah yang gue anggep kenal malah ga noleh sama sekali.
"Apa?" Tanya salah seorang siswa cowo.
"Eh kaga" gue cuma bisa garuk-garuk tengkuk leher gue. Sambil jalan masuk ke kelas.
Pas gue masuk tuh ya, banyak yang tereak tereak gajelas gitu. Gue mikir keras, apa gue ada salah gitu ya kan?
"Selamat datang nak, kenalin diri kamu ke anak kelas 10 IPA 1 ini"
"Ha IPA?" Gue heran, kan gue minta ke bapak gue buat masukin gue ke IPS. Terus ini napa?
"Iya nak, kamu anak IPA kan?" Tanya guru yang tadi mengantarku ke kelas ini.
"Pfftt.. yauda iya. Kenalin nama gue Zen." Mood gue berubah, setelah gue kenalin diri kea gitu gue langsung duduk di bangku paling belakang yang kosong.
"Lah Uda gitu doang?"
"Ah ga seru, alamatnya mana?"
"Ganteng bat sih kamu"
Dan berbagai ocehan lainnya. Gue udah badmood banget, bapak gue ngebohongin gue. Udah tau gue goblok banget itung-itungan. Ngapa juga masuk IPA coba? Buat apa?
Dahlah males gue, tidur enak.
#Author POV
Kriiing.... Kriiing.... Kriiing....
Terdengar suara bel istirahat pertama berbunyi, rapat OSIS telah selesai. Zaara berjalan kembali ke kelasnya, lalu ia berjalan menuju tempat duduknya.
"Lah ini kan bukan tas milik Vara? Ngapa disini?" Gumam Zaara sambil berdiri melihat tas yang ada di kursi sebelah ia duduk.
"Zar, tuh tadi gue duduk ma ndutt. Bangku gue kosong terus di dudukin ama Zen" jelas Vara yang baru masuk ke kelas setelah dari kantin dan menghampiri Zaara.
"Zen? Zen siapa?"
YOU ARE READING
Princess
Teen Fiction"I still love him" -Zaara "Who's she?" -Zen "Princess, don't cry please" -Agra
