Awal Pertimbangan

12 2 1
                                        

Saat itu hari bahagiaku, lulus sekolah dengan cita-cita ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Harapan ku masih setinggi langit walaupun terkendala biaya. Tak apa aku bisa lewat jalur bidik misi.

"Nak, apa keputusan mu untuk kuliah sudah kamu pikirkan masak masak?" Ibu bertanya padaku saat aku sibuk mengurus persyaratan bidik misi.

"Buk, kita emang orang tidak mampu. Tapi apa salahnya mencoba? Kalau aku sukses, bukannya ibuk dan bapak juga yang bangga." Jawabku kala itu.

"Kita ini orang ndak punya nduk. setinggi apapun kamu sekolah, akhirnya tetep bakal cari uang juga. Lihat 2 mbak mu itu, mereka bisa sukses di luar negri, banyak uang, hidupnya sudah kecukupan." Bapak juga ikut meragukan keputusanku kala itu.

"Pak, semua itu tidak harus di ukur dengan uang. Siapa tau aku punya jalan sendiri untuk dapat rezeki. Walaupun nanti penghasilanku lebih kecil dari mbak, tapi setidaknya aku tidak menjadi pembantu di negeri orang. Orang orang akan menghargai aku karna aku punya gelar. Ibuk dan bapak juga akan bangga." Itulah jawabku. Berusaha meyakinkan bapak dan ibukku agar mereka bisa mendukunh keputusanku.

"Sekarang iku wis ndak njaman, nduk. Gelar gelar opo maneh iku. Yang penting itu gimana cara mendapat uang yang halal. Biar bisa bertahan hidup. Apalagi kita orang desa. Wis gak bakalan iso bersaing sama orang orang kota yang mengandalkan uang." Debat bapak ku lagi.

Siang itu, lewat perdebatan itu. Niat yang awalnya kuat, menjadi luntur perlahan. Karena aku percaya, dengan ketidakyakinan orang tuaku, keberhasilan akan sulit aku raih.

Yah, aku memang se plin plan itu orangnya. Hanya mengandalkan takdir dan kekuatan do'a. Mungkin dengan sedikit usaha. Akhirnya aku berangkat ke Malang. Tempat di mana aku melangsungkan tes SBMPTN jalur bidik misi.

Sore itu, di sambut dengan gerimis. Aku sampai di kota Malang. Kota yang aku menggantungkan masa depanku di sana. Bersaing dengan ribuan calon mahasiswa, dengan tujuan yang sama. Tapi mungkin, dengan tekat yang berbeda beda.

"Vi, bisa gak yaa gue kuliah di sini?" Tanyaku ragu pada Via. Via temanku, yang kala itu menemaniku. Teman ku dari smp yang juga akan melanjutkan kursus di kota Malang.

"Al, lo itu harus yakin dengan keputusanmu. Walaupun orangtuamu setengah hati merestuimu. Tapi kamu juga harus bisa membuktikan bahwa kamu bisa." Yakinnya padaku. Tapi hati ini tetaplah ragu. Entah ada apa dengan hatiku ini

Di tengah lamunan ku, Via memberiku semangat lagi. "Sudah lah Al, jangan terlalu di fikirkan. Yang penting sekarang lo usaha dengan segala kemampuan lo. Ikuti proses yang ada. Nanti hasilnya, biar Allah yang memutuskan."

"Makasih, Vi. Udah nemenin gue dan nyemangatin gue."

"Sans brooo. Seperti janji kita, betsfriend until jannah." Senyumku mengembang.

Dan hari itu, dengan keyakinan yang masih mengambang, aku mengikuti segala tes yg mengharuskan otak ku bekerja seharian. Tapi aku menikmati itu, setidaknnya kalau memang aku gagal, aku sudah pernah menginjakkan kaki di universitas. Yaaah, setidak yakin itu pikiranku sedari awal.

Malamnya, aku dan via jalan jalan. Menikmati jam malam kotanya Malang ini. Terasa berbeda, karna aku sedikit merasa bahwa aku tidak akan kembali ke kota ini lagi, dengan status yg berbeda, mahasiswa. Tapi tak apa, ternyata keraguanku saat itu memang benar terjadi.

Aku tidak di berhasil di tes itu, dan memutuskan untuk bekerja. Dan memang, didesa untuk mencari kerja dengan penghasilam lumayan itu sulit. Tapi Alhamdulillah, aku bisa bekerja di rumah makan. Dengan gaji pertamaku 800 ribu, dan berlanjut di bulan bulan berikutnya menjadi 1 juta, kemudian naik lagi menjadi 1 juta 200.

Yah, itulah pengalaman kerjaku di desa tercintaku ini. Tapi itu tidak bertahan lama, karena di bulan ke 6 aku bekerja, di situ rasa bosan mulai terasa. Gaji pas pas an. Tidak bisa membantu ekonomi orang tua, tidak bisa menabung. Dan di situ, aku dapat masukan dari mbak, kalau aku harus ke luar negeri.

Disitu pikiranku sudah mulai tergoncang. Awal mula yang aku menentang untuk menjadi TKW keluar negeri, mengharuskan aku untuk berangkat juga keluar negeri. Taiwan, negara yang kata kebanyakan orang syahdu.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 08, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

sie sie niDonde viven las historias. Descúbrelo ahora