Bersandar menatap langit-langit rumah dengan memejamkan mata menghirup oksigen panjang.
"Udah pulang?." segera aku membuka mata menatap iris mata lelaki di hadapan ku ini.
"Hem, mau pulang mas?."
"Iya by, intan dibawa kerumah sakit aku harus pulang tapi aku janji ke sini lagi."
Dia mendekat mengecup kening ku dan kedua pipiku, lalu tergesa berjalan dan hilang di balik pintu yang baru saja tertutup.
.
Aku menatap 3 orang sedang terlibat adu mulut, dan aku hanya menatap mereka dari balik kaca mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.
Sedetik kemudian wanita itu menoleh menatapku dengan tajam dengan berderai air mata, aku tersenyum menarik salah satu sudut bibir keatas, tak ada yang kutau mereka terlibat pembicaraan apa, yang ku dengar samar samar hanya.
"Aku mencintai nirwana, setelah ibu sembuh aku menceraikan mu"
Kekasih gelapku ah bukan... disini akulah yang kekasih gelas nya dan di depan itu lina istri mas pras.
"Ana aku akan usahain secepatnya cerai sama lina, kamu bisa sabar sebentar?." terlalu larut dalam pikiran, tak ku sadari mas pras sudah menduduki kursi samping kemudi, dengan mengelus lembut surai hitam lurusku.
"Mas boleh aku minta sesuatu?." tanyaku tanpa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan tadi,
"Tentu sayang mintalah, akan mas kabulkan."
"Apapun mas?"
"Iya apapun!"
Mas pras tersenyum teduh padaku, berbeda ketika dia berhadapan dengan lina dia terkesan dingin dan tak tersentuh.
***
Tak ada yang berubah sejak pertengkaran mereka kemarin, mas pras tetap memilih hidup bersama ku,
Aku mengemas sebagian baju dan barangku, mengeret koper keluar dari kamar apartemen, hari ini aku akan pindah ke rumah mas pras,
"Mas aku takut kalau lina ngamuk sama aku."
"Tenang na, ngak bakal kan ada aku, mulai sekarang itu kan juga jadi rumah kamu." aku hanya menganguk dengan mengapit lengan mas pras menuju ke mobil.
.
Di sinilah aku berpijak pada pelataran rumah mewah serba putih, mas pras mengandeng ku masuk kedalam rumah dengan mengengam erat telapak tangan hangatku.
"Mas apa-apaan ini, kenapa mas bawa pelacur ini pulang ke rumah kita mas."
"Jaga mulut kamu, sekarang rumah ini jadi milik nirwana sekarang kamu ngak berhak untuk tinggal di sini lagi."
Lina menatapku dengan sengit, dia melangkah menghampiri aku yang hanya berjarak 10 langkah dari tempat nya berdiri, entah sudah berjaga jaga atau hanya reflek tangan nya hanya bisa mengudara tanpa bisa menyentuh pipi mulusku ini.
"Tangan kotormu tidak pantas menyentuhku" ku sentak tangan nya kurasa dia juga kesakitan karna aku melakukan nya dengan emosi.
Biarlah aku menjadi jahat di cerita orang lain, biarlah mereka memandangku dengan sebelah mata karna sudah berani menjadi pelakor, mereka yang hanya bisa memaki maki tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Iya setidak nya itulah yang terlihat sekarang.
.
Aku melipat tangan didada sembari menunggu lina berbicara,
"Jika tak ingin bicara sebaiknya aku pulang, waktuku terbuang sia sia cuma buat kamu"
Aku menenteng tas yang ku letakan di kursi samping, aku melangkahkan kaki keluar cafe, tapi tangan ku di cekal.
"Tolong tinggalkan suamiku, aku tau kamu tidak mencintainya kamu hanya ingin hartanya." katanya masih memandangku dengan iba, aku tertawa sinis dimana perginya lina yang kemarin hampir menamparku memberikan tatapan tajam nya ke arah ku.
Aku berbalik menuju ke kursi yang tadi ku duduki ku rasa aku perlu mengatakan ini.
"Apa kau ingat lina? 10 tahun yang lalu, kamu juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan terhadapmu?"
Wajah nya tampak berfikir keras.
"Tapi bukan suamiku, melainkan... Ayahku"
Wajahnya pucat seketika, ku rasa ia mengingat kelakuan bejat nya beberapa tahun lalu yang menyebabkan keluargaku hancur!
"A-aku... t-tidak" katanya dengannterbata
"Dulu aku juga jadi gelandangan gara gara kamu, jadi nikmati karma mu"
Aku hancur, aku kehilangan.
Kehilangan masa remaja yang biasa mereka lalui dengan bersenang senang sedangkan aku berfikir keras agar aku dapat menyaksikan karma lina dengan mata kepalaku sendiri
"Aku mencintai harta dan mantan suamimu kamu puas?"
Aku melangkah lebar keluar cafe dan mendapat berbagai tatapan mata pengunjung di sana.
Aku mengendarai mobil menuju tempat yang selalu aku kunjungi hampir setiap hari.
"Ibu aku kembali, aku sudah membalaskan semua bu aku sudah bahagia semoga ibu dan adik adik juga bahagia disana ya" ku usap penuh cinta makam tempat bersemayang pahlawan tanda jasa, ku taburkan kelopak bunga mawar di makam ibuku dan adik adik ku yang berjejer rapi seperti melambai menanti aku menempati tanah di samping mereka agar bisa berkumpul kembali.
Ku usap kembali satu satu papan nama mereka dan menyeka satu air mata yang tertetes dan pulang menyambut kebahagiaan yang menanti di unjung gerbang sana, mas pras tersenyum teduh mengengam tanganku lembut dan membawa ku melangkahi kebahagiaan yang menanti kami
Tamat ..
