Namanya Adinda Almira Nasution, gadis cantik yang mempunyai postur tubuh mungil, berkulit putih, dan bermata sipit, wajar saja kalau dia mempunyai mata yang minimalis, buyutnya adalah orang Tiong hoa. Sejak usia 12 tahun Dinda tinggal bersama Mama dan Adiknya di bandung, karena Papanya bertugas di sana. Namun kini, gadis itu sudah beranjak dewasa, ia ingin melanjutkan study nya di Jakarta.
"Pokonya Dinda mau SMA nanti pindah ke Jakarta" Saat itu mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga, Papa nya yang sedang meneguk kopi langsung tersedak setelah mendengar anak sulungnya berbicara seperti itu.
"Kenapa harus di Jakarta sih? Kamu mau tinggal sama siapa disana?" Tanya Papanya sambil menaruh kopi ke atas meja
"Di rumah Nenek, kayak dulu waktu Dinda masih kecil"
"Dulu kan Nenek masih kuat, sekarang kan Nenek udah sakit-sakitan terus. Udah kamu tinggal disini aja, nanti Papa carikan sekolah yang terbaik untuk kamu"
"Pa, Dinda udah besar dan Dinda berhak nentuin pilihan Dinda sendiri, pokonya Dinda mau sekolah di Jakarta. TITIK!" Gadis itu mengakhiri percakapannya, dan meninggalkan Papa dan Mamanya yang masih bingung dengan permintaan anaknya yang cukup mengejutkan.
***
Ia membuka album foto, terlihat anak kecil yang sedang duduk sambil menikmati donat dengan wajah yang belepotan karena cokelat. Bibirnya menarik membuat lengkungan, mengingat kembali masa kecilnya dulu. Dulu sebelum Shera lahir, Dinda sempat tinggal di jakarta bersama Neneknya, namun setelah Papanya bertugas di bandung dan Mamanya memutuskan untuk berhenti bekerja, jadi Dinda ikut bersama kedua orangtuanya ke bandung.
"Cantik ya" Dinda menoleh, mencari arah suara itu. Ia mendapatkan Mamanya sedang duduk di sampingnya memperhatikan album yang di pegang oleh Dinda.
Gadis itu hanya tersenyum.
"Nggak kerasa ya anak Mama sekarang sudah besar, sudah punya pilihan sendiri. Mama hargai keputusanmu Kak, tapi mungkin Papa punya alasan tersendiri kenapa Papa nggak izinin kamu untuk tinggal di jakarta"
"Iya karena Papa kasian sama Nenek? Aku nggak akan ngerepotin Nenek kok Ma, kalau boleh aku juga mau ngekos aja, biar nggak nyusahin Nenek di jakarta"
"Hah ngekos? Kamu tinggal sama Nenek aja respon Papa kayak gitu, apalagi kalau kamu mau ngekos, pasti Papa bakalan marah"
"Yaudah kalo Papa nggak mau setujuin Dinda sekolah di Jakarta, mending Dinda nggak usah sekolah"
"Husss— kamu jangan ngomong gitu ah, kalo kamu nggak sekolah mau jadi apa kamu nanti?"
"Ma, aku tuh nggak suka kalo di kekang terus kayak gini sama Papa" Nadanya mulai meninggi, tatapannya lurus ke arah Mamanya, tatapan penuh pengharapan.
Rena terdiam, terlihat jelas putrinya merasa terbebani dengan permintaan Papanya. Dan tahu jelas kalau keinginannya tidak di turuti Dinda akan melakukan segala hal di luar dugaannya.
***
"Anak kesayanganmu itu kemana? Belum bangun?" Tanya Guntur pada istrinya
Rena menatap suaminya, lalu mengedikkan bahunya.
"Suruh dia turun, saya mau ngomong sama dia"
"Jangan sekarang Pa, nanti mood nya dia hancur lagi" Kata Rena dengan suara khasnya yang lembut
"Kamu itu terlalu memanjakan dia, jangan apa-apa kita terus yang harus ngikutin kemauan dia. Kita ini bukan robotnya dia—"
"Aku juga bukan robotnya Papa yang harus nurut semua keinginan Papa, dari awal masuk SMP, Papa nggak pernah nanya aku mau masuk sekolah mana bahkan sampai urusan ekskul pun Papa yang tentuin sendiri, aku juga punya pilihan Pa" Tanpa di duga Dinda sedari tadi sudah berdiri di tangga mendengar percakapan kedua orangtuanya.
Rena yang mendengar putrinya berkata seperti itu lantas segera berjalan ke arahnya sambil mencoba meredamkan emosinya.
"Kamu sudah berani melawan Papa ya" Teriak Papanya membuat semua orang yang berada disitu kaget
"Aku akan ngehargain Papa, kalau Papa bisa ngehargain keinginan aku" Air matanya tak terasa jatuh ke pipi, namun segera di tepis oleh gadis itu.
"Dinda—" Untuk kedua kalinya Papanya membentaknya, Rena mencoba menenangkan suaminya agar tidak lepas kendali.
Pagi yang cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini bak seperti awan mendung yang mengeluarkan suara petir yang sangat kencang. Yang biasanya mereka duduk bersama sambil menikmati sarapan pagi dan berbincang tentang aktifitas yang di laluinya kemarin. Rena masih tetap berdiam di tempatnya, ia pun bingung harus bersikap seperti apa kepada anak dan suaminya, sementara itu Guntur sudah berlalu sedari tadi meninggalkan istrinya sendiri.
"Bu, Ibu nggak apa?" Tanya Bi Ijah mencoba menenangkan Rena yang sedang melamun
"Nggak apa Bi, saya pergi ke atas dulu ya"
Rena berjalan ke lantai dua, bukan untuk menemui Dinda namun kali ini ia menemui suaminya yang sedang duduk di kamar sendiri.
Perempuan itu menutup pintu kamarnya dan ikut duduk di samping suaminya.
"Pa, Dinda sudah besar dan dia berhak nentuin keputusannya, kita sebagai orangtua harus mensupport keputusannya"
"Gadis belasan tahun, belum tugasnya dia untuk menentukan keputusannya sendiri. Kita harus bisa tegas sebagai orangtua"
"Kamu nggak bisa samain pendidikan anak kita dengan pendidikan militer, kamu berjuang untuk negara? Dinda pun begitu, dia berjuang untuk kita, biar dia memilih pilihannya sendiri selagi itu masih dalam hal positif" Ucapan Rena barusan membuat Guntur merasa tertampar, 16 tahun sudah dia menjadi dalang dalam kehidupan anaknya, menuruti semua keegoisannya, namun tidak adil bukan kalau Dinda tidak bisa menentukan pilihannya setelah bertahun-tahun menjadi boneka Papanya. Ia merasa menjadi orangtua yang gagal, mungkin soal finansial dia mampu, tapi tidak dengan psikis anaknya, yang Dinda butuhkan adalah bisa berdiskusi tentang pelajaran yang sedang ia gemari atau ekskul yang sedang ia jalani. Tanpa berfikir panjang ia langsung berjalan ke kamar anaknya dan menemuinya.
"Kak, bisa buka sebentar? Papa mau bicara"
5 menit sudah Guntur menunggu di depan kamar Dinda, namun Dinda enggan juga membuka dan keluar dari kamarnya. Rena yang melihat suaminya yang sangat merasa bersalah tertunduk di depan kamar anaknya lantas segera menemuinya dan mencoba membujuk Dinda agar mau membuka pintu kamarnya "Sayang, kamu nggak mau kan jadi anak yang durhaka sama orangtua? Mama yakin Dinda bukan anak yang seperti itu. Ayo dong Kak bukain pintunya, Papa sama Mama mau bicara sama kamu"
Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat matanya yang sudah sembab karena menangis sedari tadi, Guntur langsung menarik tubuh Dinda dan menangis sambil memeluk putri sulungnya itu "Maafin Papa nak" Ucap Guntur berkali-kali sambil mengelus rambut Dinda.
Ia menatap wajah putrinya "Mulai sekarang Papa nggak akan ngelarang semua impian kamu, kamu berhak nentuin pilihan hidup kamu"
"Bener Pa" Tanya Dinda antusias
"Iya sayang, tapi kamu harus janji sama Papa"
"Apa itu?"
"Nilai kamu nggak boleh turun"
Gadis itu tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya "Jadi, Papa restuin aku untuk pindah ke Jakarta?"
Anggukkan Papanya membuat Dinda merasa lega, karena satu persatu mimpinya akan terwujud.
"Aku boleh minta satu permintaan lagi?"
"Apa?"
"Aku mau ngekos, biar aku belajar mandiri Pa"
Guntur terdiam sedetik kemudian menaruh tangannya di kepala anaknya "Baik kalau itu mau kamu Papa nggak bisa maksa, tapi untuk tempat kosnya Papa yang tentuin ya"
"Yaudah Dinda ngikut Papa aja" Jawabnya sumringah.
Seketika warna-warni itu hadir kembali dalam hidupnya, dalam sekejap mampu menenggelamkan badai yang selama ini mencoba menghantamnya. Semestinya semesta bekerja dengan sangat baik.
***
YOU ARE READING
ButterFly
Teen FictionSejak kecil, ia ingin seperti ButterFly bisa terbang kemanapun dengan kedua sayap cantiknya, menggapai semua cita dan yang lebih penting menemukan cinta sejatinya.
